Cara Pasang Wallpaper Batu Bata yang Benar

Sekarang, kan, musim banget kayaknya studio Youtuber  yang pake wallpaper tiga dimensi batu bata putih. Nah! Yang bikin gue gemes sampe terniat banget bikin konten tulisan ini, tuh, karena rata-rata masang wallpaper-nya salah. Coba deh perhatiin dua gambar yang gue ambil dari Google di bawah ini!




Ada yang aneh? Kalo belum 'ngeh bagian mana yang janggal, coba perhatiin polanya kalo dipakein garis khayal.


Semoga sampe sini udah tau, ya, maksud gue. Wkwkwk. Jadi, mentahannya si wallpaper ini tuh persegi ukuran 70 cm x 70 cm kalau gak salah, kebetulan gue pake wallpaper ini di kamar. Nih, seperti di bawah ini.

Kalau lu pasang sekotak-kotak itu tanpa mau capek, ya, hasilnya seperti foto di atas tadi, gak simetris, polanya ngacak, dan sangat mengganggu mata si perfeksionis. Hahahaha.

Masang wallpaper ini, tuh, harus ada usahanya sedikit, ya, gais. Caranya dengan memotong bagian bata yang persegi kecilnya (paling pinggir), seperti contoh ini:
Ilustrasi Pribadi

Kunciannya sama seperti kalau pasang batako gitu lah. Etdah 'tukang' banget gak gue. Wkwkwk. 
Bakalan jadinya kayak gini, gais!
Foto Pribadi

Rapi gak?! Rapi gak? RAPI LAH! MASA ENGGAK!

Edit:
Mata dan jiwa saya terganggu liat ini. Hiiks
Sumber: Google

Belajar Mati untuk Hidup

Sejak kematian bapak, gue merasa banyak banget pelajaran yang gue ambil. Kadang terlintas seperti ini, "Untung bapak gue mati." Bukan dalam konotasi yang negatif, tapi sebaliknya. Kematiaannya sangat baik karena bisa mengubah hidup gue, cara pandang gue terhadap kehidupan, materi,  masa depan, kebahagiaan, cinta, kecemasan, penderitaan, dsb. Menurut gue, bapak meninggal di waktu dan tempat yang tepat. Beliau meninggalkan kami di saat --terutama gue sudah berusia matang. Akan lain ceritanya jika beliau meninggal di saat usia gue masih kanak-kanak. Mungkin perspektif gue akan lain lagi. Makanya gue selalu bilang bersyukur. Toh, kematian itu bukan suatu kemalangan, tapi keniscayaan. 

Kenapa dalam agama kita dianjurkan untuk selalu mengingat kematian? Percaya atau nggak, ya, sejauh ini yang gue rasain hidup jauh lebih damai saat mengingat kematian. Jauh dari hiruk-pikuk kecemasan duniawi. Karena sebetulnya urusan manusia tidak terlalu berharga untuk diperhatikan dengan serius. Tulisan ini sebagai pengingat kecil kalau nanti gue lupa dan agak melenceng dari tujuan awal gue cara memandang hidup.


Kematian memang tidak bisa dipraktikkan, tapi bisa dipelajari dan menurut gue itu penting. Mengutip kata Seneca, "Barang siapa tidak memahami cara mati yang baik, dia akan menjalani hidupnya dengan buruk." Kematian hanya datang satu kali dan tanpa peringatan. Detik, menit, bulan, tahun bergulir semakin membuktikan bahwa kita hanya terlihat sebagai debu yang beterbangan di pojok jagat raya, bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Kelahiran menggantikan ketiadaan, tumbuh menggantikan yang terpendam, hari ini meneruskan kehidupan dua ribu tahun silam, saat ini melahirkan masa ratusan tahun ke depan.

Contoh kematian sudah banyak di depan mata, teman sekolah, saudara, rekan kerja, keluarga, dan orang-orang di belahan dunia mana pun yang sering kita saksikan di pemberitaan. Hanya akan sia-sia contoh-contoh kematian tersebut jika hanya menimbulkan keheranan sesaat tanpa pernah direnungkan.

Urusan manusia sangatlah pendek. Lu mati, selesai. Cucian yang lagi dijemur dan belum sempat lu angkat sudah bukan menjadi urusan lu lagi ketika lu mati. Paketan Shopee yang belum sampe bukan urusan lu lagi. Staples yang lu cari dan gak pernah ketemu sampe lu mati, bukan urusan lu lagi. Laporan-laporan yang sudah deadline, pekerjaan yang minta diselesaikan, helm yang ilang di parkiran motor beberapa hari sebelumnya dan masih bersedih, sudah bukan urusan lu lagi. Bayangan bahagia menikmati hari tua dengan setumpuk uang pensiun gak pernah terwujud saat lu mati muda. 

Gue ingin mati tanpa penyesalan dan kesedihan, karena menurut gue kematian yang baik adalah yang tak pernah membenci kehidupan. Manusia terlalu pandai mereka-reka alasan untuk sengsara, padahal kebahagiaan ada di depan mata. Prinsip gue sekarang --karena hidup cuma sebentar, ketenangan jiwa, kebahagiaan terhadap hal-hal kecil di depan mata, dan resiliensi terhadap kemalangan adalah prioritas. Hidup jangan diambil pusing, sekalipun kejadian buruk terjadi, ya, emang kenapa? Kita gak bisa memilih kejadian baik atau buruk yang akan menimpa kita. Tapi, cara kita merespons setiap kejadian adalah kuncinya.

Jangan membuat gunung dari sekepal tanah, jangan membuat urusan kecil menjadi masalah besar, jangan meributkan hal-hal yang gak penting. Sejak dimulainya kehidupan sampai sekarang, bumi dan benda langit terus bergerak dengan kecepatan yang anggun dan teratur. Ilmuwan sibuk mengurai pengetahuan sampai ke inti sel manusia, astronom coba mengarungi luasnya lautan antariksa yang masih penuh dengan misteri. Lah, elo, sibuk koar-koar anti vaksin, Ya Allah, pengen gue tampol aja. Canda tampol.

Udah, ya, jangan suka ribut-ribut di dunia maya, gak ada gunanya. Serah elo, deh, mau percaya atau gak percaya sama Covid-19. Pokoknya iyain aja biar cepat daripada buang-buang energi. Ingat! Urusan manusia itu remeh. Mending waktunya dipake buat belajar melatih diri dalam urusan-urusan yang mendatangkan kebahagiaan. Jiah, bahagia.


Apa Rasanya Melewati Usia 30 Tahun?

Memasuki bulan Juni itu artinya umur gue bertambah --atau berkurang satu tahun. Tahun ini genap berusia 33 tahun. Jika rata-rata usia manusia --berdasarkan angka harapan hidup masyarakat Indonesia dan usia umat Rasulullah adalah 60-an tahun, maka gue sudah menghabiskan separuh lebih jatah hidup.

Ilustrasi dokumen pribadi

Apakah ini adalah usia-usia mendekati kematian? Hahaha.

Inget, ya! Syarat kematian bukan yang berusia tua. Tapi, yang hidup. Karena lawan kata dari 'tua' adalah 'muda' bukan 'mati'. Begitu juga dengan sakit. Orang mati bukan karena ia sakit, tapi karena ia hidup. Sakit berantonim dengan 'sembuh' bukan mati. Namun, menua sama halnya dengan sakit, hanyalah salah satu cara menuju kematian. Gue bilang cara, bukan syarat. Syarat mati, ya, hidup. 

Kematian melahap setiap individu yang hidup, baik yang tua, yang muda, yang sehat, apalagi yang sakit, yang kaya, yang miskin, yang makan buburnya diaduk, yang motornya Supra atau Nmax, yang helmnya SNI atau bukan, semua bakal mati. Yang suka ngelakson pas di lampu merah juga bakal mati --etdah orang gak sabaran banget, lampu ijonya juga baru nyala udah ngelaksonin mulu. 
Pernah gak, sih, kayak random gitu tiba-tiba ngitungin saudara, tetangga, atau teman seangkatan yang sudah meninggal siapa aja? Sampe mikir, ya ampun hidup cuma sebentar, ya, ternyata.

***
Jika usia 25-an tahun disebut quarter life crisis --memasuki gerbang usia dewasa, maka usia kepala tiga atau lebih menurut gue adalah usia-usia yang sedang bergesekan dengan usia tua. Puncaknya adalah ketika sudah di angka 50-an tahun --kalau boleh meminjam kata-katanya Beauvoir --head to head bertabrakan dengan usia tua.

Pertanyaannya adalah; Apakah ada yang rela dan penuh suka cita ketika disebut tua? Atau mengakui dirinya tua? Hahaha. Gue dari tadi bilang tua-tua, kalo ngomong di depan orang pasti langsung digampar. Wkwkwk. Gak usah jauh-jauh, emak gue contohnya. Beliau paling anti pake kerudung yang langsung --apa ya namanya-- karena menurutnya dia akan terlihat tua. Padahal emang tua, kan, enam puluh tahun. Bapak gue almarhum, semasa hidup gak mau mengenakan baju koko karena menurutnya koko itu cocoknya dikenakan oleh orang yang sudah tua. Padahal almarhum usianya 70 tahun. Termasuk orang-orang di sekitar kita kayaknya gak ada yang mau disebut 'tua'.

Tua itu mengerikan. Peran-peran dan rencana-rencana kita akan digantikan oleh para orang muda. Kita seolah tergulung oleh gelombang arus manusia yang lebih muda. Bahkan salah seorang filsuf dari Perancis pernah mengatakan bahwa menua lebih menakutkan daripada kematian. Kematian merupakan "ketiadaan absolut", sehingga bisa terasa nyaman. Sedangkan menua adalah "parodi kehidupan". Kita mungkin terlihat tua, berperilaku tua, dan menurut takaran objektif lainnya, memang sudah tua, tapi tidak pernah merasa tua. 

Sebuah pemikiran yang berusia lebih dari satu abad ini masih relevan dan relate dengan kehidupan sekarang, dengan kondisi psikologis manusia-manusia masa kini yang selalu nyaman bersembunyi di balik kata-kata penyangkalan 'gue belum tua, kok'. Tapi, ya, setidaknya penyangkalan-penyangkalan itulah yang menjadi alasan mereka tetap bersemangat menjalani hidup dengan tetap enggan merasa tua. 

Di belahan dunia mana pun tidak ada yang namanya budaya menua, yang ada adalah budaya terlihat awet muda. Lagi-lagi sebuah penyangkalan. Bahkan gue sendiri pun sebenarnya belum siap dipanggil dengan sapaan 'Ibu' kalau di luar lingkungan pekerjaan. Kalau kasus yang ini bukan karena gue gak merasa tua tapi lebih karena gue belum beranak-pinak jadi agak gak terima aja gitu. Hahaha. Namun, usia gue emang usia-usia rentan dipanggil dengan sapaan 'Ibu' dan 'Tante', sih, jadi it's okay.

Sekali lagi, mengakui bahwa kita mulai menua itu sulit karena ketakutan akan perubahan fisik sangat bising mendominasi isi kepala kita --meskipun kemerdekaan batin dengan menua dan penguatan identitas semakin kental. Kebisingannya sebanding dengan usaha-usaha kita agar terlihat awet muda. 

Gue yang dulunya bangga dengan hanya memakai bedak bayi, sekarang merasa kerepotan karena garis di pojok dan bawah mata yang awalnya hanya satu, berkembangbiak menjadi jembatan-jembatan halus seolah mempertegas jumlah usia gue. *ngetiknya sambil nahan tangis. Dan, ya, apa yang terjadi? Tiga tahun belakangan saya mulai rutin memakai skincare. Entahlah, ini berguna atau tidak, tapi setidaknya gue ada usaha. Usaha berdamai dengan proses menua.

Kemarin liat unggahannya Marshanda, dia berdamai dengan perubahan fisik yang termakan usia. Gue sama Marshanda, kan, seumuran, cuma beda sekolaan doang. 

***
Awal usia 20-an adalah masa di mana semua orang merasa takut gagal dan tidak diterima. Kehidupan serba kompetitif, emosi masih labil, kebanyakan insecure, menggantungkan kebahagiaan pada orang lain, takut jika kelihatan tidak sibuk. Percaya atau enggak, di usia 30-an untuk gue pribadi, hidup kalo udah ketemu ritmenya, yaudah, mau ngeribetin apa lagi? Gak ada yang perlu diribetin. Untuk urusan finansial, selagi cukup itu bagus. Urusan percintaan, karena gak mendewakan pernikahan, ya, biarkan mengalir saja. Untuk urusan insekyar-insekyur dengan pencapaian-pencapaian lenyap oleh waktu. Yang dicari dalam hidup ini hanya satu, merasa cukup. Inget kayak tagline-nya Wardah --kalo gak salah 'Baik itu cukup, cukup itu baik.

***

Usia tua hanyalah sebuah rangkaian, semua orang akan menjalaninya. Kecuali yang mati muda, ya. Makanya bersyukur yang bertemu dengan kata 'tua', jangan suka ngatain lo. Gak semua orang nyampe tua soalnya. Jangan ngomong sembarangan tua-tua aja lo. Wkwkwk apa, sih.

Tiap tahun doanya selalu ingin panjang umur, ingin hidup sampai tua. Giliran bertabrakan dengan usia tua malah mengeluh. Hahaha.

Sebagai penutup, kalo bisa, kenapa gak kita bikin aja peradaban baru dengan mengibarkan bendera bahwa menua gak buruk-buruk amat seperti kata Cicero --filsuf Romawi, "Tidak ada kepuasan  lebih besar dalam hidup daripada usia tua yang santai, tercurah hanya bagi pengetahuan dan pelajaran."



***

Emang Kalau Ditinggal Mati Harus Nangis?

Tadi banget gak sengaja liat headline berita dengan judul --seperti biasa-- memancing amarah netizen, Ria Ricis Gak Kelihatan Nangis Waktu Ayahnya Meninggal.

Karena relate sama yang pernah gue alami jadi gue pengen ikut berkomentar sekalian cerita. Termasuk emak gue yang kena cibiran karena gak nangis meraung-raung saat bokap meninggal.

Sekarang pertanyaannya, emang kalo bapak/ibu kita meninggal, anak-anaknya harus nangis? Istri/suaminya harus meraung-raung?
Jawaban gue, sih, udah jelas: NGGAK.

Kok, nggak?

Ya, jangankan nangis, untuk ngerasain sedih sampai beberapa hari ke depan aja gak ada waktu. Yang pernah ngalamin ditinggal mati orang tua pasti merasakan hal yang sama.

Gue pun kaget, ini pengalaman pertama ditinggal mati salah satu dari orang tua kami. Gue pikir, kami (anak dan istri almarhum) akan nangis meraung-raung jika ditinggal mati seorang sosok kepala keluarga, ternyata nggak. Gue sedih dengan fakta ini.

Tapi, begitulah kenyataannya. Sejak hari pertama sampai ketujuh beliau meninggal, kami --terutama gue-- gak sempat untuk nangis. Kenapa? KARENA SIBUK BANGET NGURUSIN PROSESI INI-ITU MULAI DARI A SAMPAI Z. Mikirin dari hal-hal yang kecil sampai besar. Semisal mikirin untuk pengadaan kain kafan, manggil dan nyari orang yang biasa mandiin dan mengkafani jenazah, koordinasi dengan pemuda dan ketua RT untuk menyalati jenazah, penguburan, menyiapkan kursi-kursi untuk pelayat, pasang terpal supaya gak kepanasan, dan lain-lain. Masih banyak hal-hal kecil yang perlu dipikirin saat kematian, kalo gue sebutin satu per satu gak akan selesai sampe ba'da Isya. Dan masalah terbesarnya adalah masalah biaya. Kalo ngomongin biaya agak tabu, ya, karena nanti dikira gak ikhlas, dikira perhitungan. Ya, namanya juga hidup, selalu sepaket dengan cibirannya. Hehe.

Jadi, setiap gue mau nangis di pojokan, selalu aja ada gangguan semacem;
"Wida, palu taro di mana? Mau pasang terpal,"
"Wida ambilin karung, ini yang ngelayat beras bingung mau diwadahin ke mana,"
"Wida, baskom buat amplop belum ada,"
"Wida, aqua gelasnya sisa satu dus, beli lagi aja."
Baru mau duduk sebentar,
"Wida, beli kacang sama snack buat jamuan."
Ya Allah, gue lagi berduka akhirnya pergi ke pasar beli kacang, kuping gajah, bala-bala, rokok, aqua gelas, kopi, amplop, tali rapia, rapi ahmad, kembang kuburan, dll."

Pas mau duduk sebentar,
"Wida, ada tamu dari sekolah,"
"Wida, ada tamu keluarga dari Cilegon,"
"Wida, ada tamu temen SMP,"
"Wida, ada tamu temen fesbuk." HALAH.

Pas mau duduk sebentar,
"Cari tukang masak buat tahlil nanti malem sekalian sama buat masak niga dan nujuh hari (hari ke-3 dan ke-7). Nanti buat belanja bahan-bahannya belanja aja ke Pasar Rawu."

Ya Allah, walopun gue hidup di kampung, bisa gak, sih, budaya masak-masaknya dihilangin aja, capek demi apapun. Gue lagi berduka, lagi sedih, kenapa disuruh pergi ke pasar lalu harus masak-masak di rumah, heboh amat. Bapak gue meninggal, gue cuma pengen duduk sendiri sambil nangis, itu aja. Gak bisa. Gue sibuk, kakak gue sibuk, Raffi Ahmad sibuk, semua sibuk. Ria Ricis juga.

"Gak usah, pesen catering aja," pun rupanya bukan solusi mengurangi kesibukan selama tujuh hari. Kebayang, kan, gimana makin repotnya kalo sampe ngadain masak-masak sendiri di rumah.

Jadi intinya, gue dan mungkin kalian yang pernah ditinggal mati oleh orang tua saat usia dewasa gak akan kelihatan nangis di hari pertama sampai ketujuh. Karena bukan tangisan yang dibutuhin, tapi tenaga. Perasaan hancur, kehilangan, rasa sedih, seolah lenyap digantikan dengan yang namanya kesibukan.


Di saat tengah malam, rumah udah mulai sepi dari para tamu tahlilan, di situlah momennya gue nangis, banjir air mata. Bukan pas rame orang gue nangis, gak gitu. Makanya yang orang tau kita gak nangis, ya, karena seperti itu. Seperti apa? Seperti Ria Ricis. Halah.

Besok paginya kembali sibuk menyiapkan untuk tahlilan nanti malam selama tujuh hari. Ya, gue gak nangis. GUE KE PASAR. Beli kacang, kuping gajah, bala-bala, rokok, aqua gelas, kopi, amplop, tali rapia, rapi ahmad, kembang kuburan, dll. Halah. Pokoknya ketemu rapi ahmad selama tujuh hari. Wkwkwk. Canda rapi.

Nih, ya, saking capeknya dengan acara-acara seremonial kematian, gue sampe kesel sendiri dan dalam hati sampe bilang, "Kenapa bukan gue aja yang mati kalo begini capeknya. Gak tidur, gak istirahat selama seminggu, tenaga terkuras. Capeknya melebihi acara hajat pernikahan. Malah kalo pernikahan cuma sehari, lah, ini tujuh hari."
Astagfirullah. Mon maap, itu pikiran-pikiran kacau saya kala itu, semoga maklum, namanya juga manusia, kadang bersyukur kadang mengeluh, kadang capek kadang nggak, kadang cantik kadang cantik banget.

Akhirnya, saya dan Ria Ricis mengucapkan terima kasih sudah mendengar suara hati seorang anak yang "tidak menangis" ditinggal bapaknya.

Kok Ada Manusia Model Begini?

Suatu hari gue pernah mengobrol panjang lebar via telepon dengan seorang teman. Sebagai dua orang yang sudah sama-sama dewasa -sepertinya orang-orang mengklaim dirinya dewasa ketika bahan obrolannya semakin receh- alih-alih membahas tentang politik dan persentasi keuntungan dana investasi biar keliatan kaum millenial yang rajin menabung, kami lebih banyak berkelakar tentang kelakuan 'bodoh' orang-orang yang konon dididik dan dibesarkan oleh manusia tapi kelakuannya seperti ...

Banyak banget yang kami bahas sampe bertanya-tanya, "Kok ada, ya, manusia model begini?"

Hahaha.

Satu aja gue contohin kelakuan manusia yang bikin gue gemes. Lihat, kan, gambar di atas? Pasti sering, kan, nemuin hal yang sama ketika kalian masuk ke toilet umum? Sengaja gue fotoin buat bukti bahwa manusia itu hilang kesadarannya. Wkwkwk. Cita-cita ingin mengubah dunia, perilaku elu dulu pada yang kudu diubah. Ya Allah ingin banget gue berkata kasar. Liat, kan, itu tempat sampah? Kok tisunya gak dimasukin gitu loh ke dalem? Kan, itu tisu bekas elu, lu pikir siapa yang harusnya masukin itu tisu ke tempat sampah, woy! Ada juga tisu berserakan di lantai. Itu tempat sampah, woy! Bukan pajangan! Buang bekas tisu yang bener! Ke tempat sampah sampai masuk ke dalem! Masa gitu aja gak tau?! Emosi, nih, gue.

Ini lagi. Semua tempat kosong lu taroin sampah. 


Ada lagi, nih, yang bikin emosi.


Udah tau itu wastafel, kenapa buang tisu di situ??? WOOYY !!! 

Yang perilakunya masih kayak gini gak usah temenan sama gue. Bye.




 

Kepepet, Gue Nyetrika Pakai Botol Aqua

Sumber Foto: Dokumen Pribadi

Sebagai perempuan minimalis yang ogah rempong bawa-bawa barang banyak saat liburan, nyumpelin baju di tas kecil adalah jalan ninjaku. Lagian kalau lagi jalan sama temen, dia selalu prepare bawa setrikaan yang bisa gue pinjam.

Sayangnya, pas kemarin staycation di Bogor si kawan gak bawa 'benda pelicin' tersebut sementara kemeja yang mau gue pake kusut banget. Ya, mau gak mau, dong, akhirnya gue menghubungi pihak hotel buat pinjam setrikaan. Tapi, resepsionisnya bilang semuanya lagi terpakai sama tamu yang lain. Gue gak mau nunggu lama-lama langsung search YouTube "cara merapikan baju yang kusut tanpa setrika" dan langsung gue praktikkan. Hahaha. 

Caranya adalah dengan memanfaatkan teko listrik untuk memanaskan air. Setelah mendidih, masukkan air panas tersebut ke dalam botol plastik Aqua bekas. 

Sumber Foto: Dokumen Pribadi

Tidak untuk ditiru, ya, btw. Ini gue lagi kepepet aja. Harus hati-hati juga karena botol plastik akan sedikit letoy terkena air panas meski gak sampai bocor.

Di bawah ini adalah foto kemeja gue yang kusut.

Sumber Foto: Dokumen Pribadi

Setelah botol terisi air panas gue mengutamakan menggosok di spot-spot yang paling kusut terlebih dahulu. Gak sebaju-baju juga yekan disetrika keburu airnya dingin dulu. Botolnya panas banget kalau dipegang dengan tangan kosong, jadi gue pakai handuk untuk alas telapak tangannya. It works. Cukup keliatan banget perbedaannya, kan? Hahaha.


Sekali lagi! Bukan untuk ditiru! 
Kecuali kepepet.


Gak Perlu Antri di Loket, Naik KRL Pakai LinkAja

Ilustrasi: Dokumen Pribadi

Sebagai penikmat KRL rasanya aneh aja gitu gue masih ngeliat pemandangan antrian seperti di atas. Padahal zaman sekarang udah dikasih kemudahan pembelian tiket KRL hanya dengan menggunakan uang elektronik semacam Flazz, Brizzi, TapCash, dll., tinggal tap, langsung masuk. Gue sendiri semenjak ada pilihan pembayaran melalui uang elektronik ini ngerasa nyaman banget terutama untuk hal efisiensi waktu yang sebelumnya gue harus membeli tiket harian/mingguan secara manual di loket yang ada di stasiun. Tentunya dengan menghadapi segala problematika macam harus mengantri, berdesakan, belum lagi kalau sampai ketinggalan kereta, jadi harus nunggu jadwal pemberangkatan kereta selanjutnya.

Gue pernah banget ngerasain pas hari Senin ke Stasiun Tanah Abang di pagi buta (sekitar jam 6) itu ternyata manusia se-Jabodetabek kayak tumpah semua di situ. Hahaha atau di Stasiun Bogor sore hari pas menjelang akhir pekan, beugh! Ngeliat antriannya aja gue udah pusing. Gue sampe ngebayangin kalo gue kerja di tempat yang lokasinya mengharuskan setiap hari dalam seminggu, pulang-pergi menggunakan moda transportasi ini bisa stres pas nyampe tempat kerja. 

Cobaan hidup seperti itu akan terasa sedikit lebih ringan kalau kita menggunakan sistem pembayaran uang elektronik. Sumpah, deh. Kayak gue yang cuma sesekali naik KRL aja ngerasa penting banget bawa Flazz. Hemat waktu.

Terlebih, nih, sekarang makin dimudahkan untuk urusan pembelian tiket. Gak perlu ngantri. Tinggal buka aplikasi LinkAja di handphone, shake hp-nya sampe nongol barcode, kalau udah keluar barcode tinggal scan ke gate masuk dan gate keluar yang ada logo LinkAja-nya. Asalkan ada saldonya minimal Rp13.000. Ya! Jadi harus ada saldo minimal ya di aplikasi LinkAja. Kalau lebih banyak saldo lebih baik. :)

Jadi, sistemnya, tuh, ketika kita tap in di stasiun awal keberangkatan saldo otomatis terpotong Rp13.000, tapi nanti kelebihan sisa saldo akan dikembalikan ketika tap out di stasiun tujuan. Misal, kita berangkat dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Bogor, itu kan tarifnya Rp6.000. Ketika tap di gate masuk Stasiun Tanah Abang saldo kita berkurang sebesar Rp13.000. Begitu sampai di Stasiun Bogor tap di gate keluar, kelebihan saldo sebesar sebesar Rp7.000 akan masuk lagi ke saldo LinkAja kita.

Ilustrasi: Website LinkAja

Ilustrasi: Website LinkAja



Makin mudah makin senang jalan-jalan naik KRL. :)