Siswa Kelas 6 Belum Bisa Membaca, Salah Siapa?

Ceritanya di WhatsApp gue posting video lagi ngajarin anak kelas 6 belajar membaca. Dari awal sebenernya gue ragu mau di-posting atau nggak, ya? karena taruhannya adalah nama baik sekolah dan guru-guru tentunya. Perang batin gitu karena orang-orang pasti mikirnya langsung menyudutkan satu pihak. Hahaha. Tapi, persetan lah nama baik, tujuan gue posting biar mata kita semua terbuka terhadap kondisi dunia pendidikan di Indonesia, khususnya untuk kelas ekonomi menengah ke bawah. Masalah anak yang belum bisa baca ini bukan hal yang tabu buat gue. Hampir setiap tahun selalu kedapatan anak yang belum dan bahkan gak bisa baca meski sudah naik ke kelas enam. Bahkan nanti sampai ke SMP selalu ada desas-desus yang nyampe ke kuping gue kalo si A belum bisa baca, ditanya oleh guru SMP-nya alumni SD mana, siapa guru kelas 6-nya? LAH GUE.

Paling enak emang nyalahin guru. Guru SMA nyalahin guru SMP, guru SMP nyalahin guru SD, guru SD nyalahin guru TK, PAUD, BIMBA, dsb. Ujungnya nyalahin siapa? Ya, keluarga. Peran orang tualah yang bertanggung jawab atas pendidikan anak.
Orang tua gak terima katanya disekolahin biar pinter diajar gurunya, kenapa nyuruh orang tua ngajarin dan bertanggung jawab. Wkwkwk. Gitu aja terus sampe tukang bubur naik haji. Saling menyalahkan.

Ya, kalo gitu siapa dong yang salah?
Guru? Orang tua? Siswanya sendiri? Kurikulum? Lingkungan? Ekonomi? Keluarga? Tingkat pendidikan orang tua? Idpoleksosbudhankam? NKCTHI?



Bener aja, kan, gara-gara postingan itu, banyak banget replies masuk. Udah gue prediksi, sih, sebelumnya. Pasti temen-temen gue yang notabene sudah mempunyai anak usia sekolah dasar ngerasa aneh liat murid gue ada yang belum bisa baca dan (((kelas enam))) pula. Dari sekian chat yang masuk di antaranya:
"Kok bisa?"
"Belum bisa baca kenapa naik kelas sebelumnya?"
"Waktu kelas sebelumnya ngapain aja?"
"Sebelum ada Covid-19 berarti belum bisa baca dong?
"Berarti bukan karena alasan sekolah daring, kan?"
"Astaghfirullah, kelas 6 belum bisa baca."

Sama sekali gue gak merasa terpojok, kok, santai. Karena apa yang orang-orang pikirkan (kadang) tidak seperti realita di lapangan. Gue juga pertama kali ngajar tahun 2009 kaget ketika tau ada anak kelas tinggi yang belum bisa baca. Tapi, lama kelamaan melihat fakta di lapangan ya, jadi paham. Permasalahannya sangat kompleks, gak bisa hanya menyalahkan satu pihak, entah guru, orang tua, atau siswanya.

Masalah siswa yang belum bisa membaca ini termasuk gangguan psikologis terhadap transfer belajar, dan itu sangat banyak faktor yang mempengaruhi, di antaranya;
• ketidakberfungsian belajar (learning disfunction) yang disebabkan oleh tidak berfungsinya pengolahan dalam otak. Gangguan neurologis dan hubungan proses fungsi mental dan perilaku tertentu;
• lambat dalam belajar (slow learner) di mana siswa tersebut memerlukan waktu yang lebih lama dari siswa lain dibandingakan dengan temannya yang memiliki intelektual sama;
• lingkungan belajar, meliputi aspek keluarga, ekonomi, budaya, dan sosioteknologi.

Dan poin-poin itu semua sangat relate dengan kasus yang sedang gue bahas ini. Kondisi di lapangan memang seperti itu. Pola asuh orang tua kebanyakan (dalam hal ini di kampung tempat gue mengajar) adalah leave alone (membiarkan), orang tua tidak turut campur terhadap keinginan belajar anak, tidak pernah memberikan arahan, semua keputusan diserahkan pada anak, masa bodoh, tanpa pantauan, tanpa interaksi yang dekat antara anak dan orang tua. Kalo kata bahasa Jawa Serangnya 'nyeclekaken anak doang ning sekolahan kuh' semuanya diserahkan ke guru, baik mendidik maupun mengajar. Nah, ini yang salah persepsinya. Cuma, ya, balik lagi, pola asuh keluarga di rumah pun refleksi dari kondisi ekonomi dan pendidikan orang tuanya. Faktor ekonomi itu wujud investasi dalam pendidikan. Sekecil apapun pengorbanan untuk kepentingan pendidikan tidak lepas dari unsur pembiayaan. Siklus ini tidak ada ujungnya. Muter-muter bae wis, garan ya mekonon. Wkwkwk.

Biar imbang, faktor budaya yang salah satunya meliputi budaya belajar di sekolah pun harus dibahas, ya. Dalam hal ini guru yang mengajar. Gue gak boleh salah ngomong, nih. Uhuk.

Hmm ...

Jadi gini ...

Hmm ...

Para bunda dan mamah muda yang punya putri dan putra, dalam kapasitasnya untuk memahami kesulitan belajar siswa (terutama poin pertama dan kedua), perlu diketahui bahwa peran guru adalah mengidentifikasi, memecahkan masalah, dan merekomendasikan hasil diagnosis terbatas kepada guru BP, psikolog, psikiater, atau fisioterapis jika perlu. Jika perlu, loh, Bun. Poin pertama dan kedua ya khususnya, yakni siswa yang mengalami learning disfunction dan slow learner. Kenapa gak gurunya aja kalau ada siswa yang berkebutuhan khusus? Gini, loh, Bun, guru itu gak hanya pegang satu siswa dalam satu kelas, kalau kita hanya fokus pada siswa-siswa slow learner, apa kabar dengan siswa yang lain?

Tapi, ah, banyak tapinya. Wkwkwk. Namanya sekolah di kampung, ya kali ada siswa yang mau silaturahmi ke fisioterapis, jauh panggang dari api. Huhu.

Intinya siswa-siswa yang kasusnya seperti di postingan gue itu butuh penanganan khusus, diajar oleh guru khusus yang mempunyai kemampuan mengajar inklusif, di luar guru kelas sekolah reguler. Terlebih jika anak tersebut misalnya terdiagnosa mengalami sindrom kekacauan belajar (disleksia, disgrafia, dan diskalkulia) baiknya disekolahkan di sekolah inklusi atau sekolah luar biasa. Jika dipaksakan belajar di sekolah umum output-nya gak akan maksimal. Akibatnya, ya, seperti yang kita lihat, mereka tertinggal jauh dengan teman-teman sekelasnya yang lain.

Menjawab pertanyaan, "Kok bisa naik kelas, kan, gak bisa baca?" Guru itu selalu berdiri di ruang tengah bernama dilema. Kanan-kiri terbentur antara hati nurani dan aturan pemerintah. Semoga bisa menyimpulkan sendiri maksudnya apa. Rrrrrrr...

Beruntung Hidup Sezaman dengan Messi

 "Dalam luasnya antariksa dan panjangnya waktu, bahagia rasanya bisa menempati planet dan zaman yang sama dengan Lionel Messi."

Kutipan tersebut -dengan sedikit mengubah kalimat pembuka sebuah buku karya Carl Sagan- adalah gambaran umum perasaan fans  FC Barcelona di seluruh dunia saat ini, termasuk saya. 

Sumber Foto: Google

Beberapa hari terakhir berita kepergian Messi dari Barcelona sedikit mengusik ketenangan saya. Momen yang seharusnya tidak pernah terjadi. Bahkan menurut kepercayaan kami dan dengan keyakinan penuh Messi akan dan mungkin bisa menghabiskan karirnya di Barcelona hingga pensiun. Memang benar jika tak ada yang abadi, nanti ada masanya dunia tidak bisa lagi menyaksikan kehebatan Messi di lapangan hijau atau hiruk-pikuk komparasi Messi dengan Ronaldo di media sosial. Namun, tidak dengan cara seperti ini, meski secara hitam di atas putih, habis dan/atau putus kontrak adalah hal yang wajar terjadi pada setiap pemain sepak bola. Messi pergi dengan status bebas transfer karena tenggat kontraknya habis per 30 Juni kemarin. Tidak ada yang salah. Yang salah mungkin perasaan kami para fans-nya. Hahaha.

Di balik kacaunya keuangan Barca dan ketatnya peraturan La Liga menyangkut gaji dan kontrak pemain, biarlah itu menjadi urusan internal petinggi-petinggi klub. Saya hanya akan melihat kepergian Messi dari sisi yang lebih humanis.

Saya mulai mencintai sepak bola sejak gelaran Piala Dunia 1998 yang dihelat di Perancis. Saat itu saya masih kelas 5 SD. Namun, cinta ini terpaksa harus saya pendam karena saya seorang wanita, tak elok rasanya menyukai permainan yang didominasi kaum Adam saat itu. Hingga di 2010 saya melihat sosok yang mencuri perhatian di Piala Dunia, siapa lagi kalau bukan Lionel Andres Messi. Pemain berkebangsaan Argentina ini mengingatkan saya pada aktor pemeran Pedro dalam telenovela Amigos, yaitu Martin Ricca. Wkwkwk. Setiap melihat Messi, saya terbayang dengan Pedro-nya Amigos di mana telenovela tersebut punya andil banyak mewarnai masa anak-anak dan remaja saya.

Sumber Foto: Google

Kembali pada ke-patah-hatian kami para Cules -sebutan untuk fans Barcelona, menempatkan 'keberuntungan' sebagai antidot rasa kecewa. Bumi merupakan rumah beratapkan langit luas, sejak terbentuknya empat miliar tahun yang lalu akibat kondensasi gas dan debu antarbintang-bintang, bumi terus berevolusi. Setelahnya, bumi merupakan tempat yang unik, tempat di mana manusia pertama diturunkan dan memulai perjalanan panjang terbentuknya kehidupan hingga sekarang. Bumi, sejak dimulainya kehidupan telah banyak melahirkan manusia dan zamannya di waktu yang  relatif singkat. Peradaban dan penguasa silih berganti. Membayangkan zaman kenabian hingga kekaisaran Romawi kuno -mungkin hingga sekarang, timbul banyak pertanyaan dalam benak saya, sudah setua itu kah bumi dan nenek moyang kita? Berapa banyak manusia zaman dulu hingga sekarang yang pernah hidup di bumi? Dengan bentangan waktu yang begitu lama -ini ketika saya membayangakan kehidupan di tahun-tahun Sebelum Masehi dan setelahnya, saya merasa beruntung hidup sezaman dengan Messi, manusia yang dengan bakat alaminya membuat semua pencinta sepak bola kagum kepada La Pulga (Si Kutu), kecuali Madridista.

Tuhan memilih bumi sebagai satu-satunya benda langit yang dihuni oleh milyaran manusia, meski kita juga selalu senang jika membayangkan ada kehidupan di planet lain. Messi sering dianggap sebagai Alien karena kemampuannya di atas rata-rata manusia pada umumnya. Solo run-nya saat melewati hadangan tujuh pemain Getafe atau saat berhasil 'mengolongi' Jerome Boateng hingga terjatuh ketika laga melawan Bayern Munchen di Camp Nou. Itu semua menjadi bukti jeniusnya Messi mengobrak-abrik jantung pertahanan lawan. Setelah kejadian tersebut Bayern Munchen terdepak dari putaran UCL selanjutnya. Alih-alih Manuel Neuer ingin menunjukkan 'siapa bosnya' -sisa-sisa kepongahan ketika Jerman melawan Argentina di putaran final Piala Dunia 2014 setahun sebelumnya, kini yang terjadi sebalikanya. Tagar 'whoistheboss' dengan meme mengolok Neuer sempat ramai di dunia per-twitter-an saat itu. Ahahaha. 

Saat menulis ini, saya sambil memantau  press conference Messi untuk yang terakhir kalinya. Dari sekian alasan yang bisa membuat saya menangis, sepak bola adalah salah satunya. Para penikmat sepak bola pasti mengalami hal yang sama ketika tim kesayangan kita kalah di laga krusial atau menang di menit-menit akhir, termasuk drama di luar lapangan seperti jual-beli pemain, beberapa tangis mengiringi tiap momen karena sepak bola terlalu dalam melibatkan emosi  para penonton dan memaksa kita berdiri di antara dua jurang, kemenangan dan kegagalan. Sebuah gambaran realisme nasib yang tersaji tidak hanya 90 menit di atas lapangan, namun ia merasuki pojok tersempit kehidupan.

Messi yang jenius maupun kita semua adalah spesies yang muncul sebentar lalu musnah. Kita memahami dunia, tempat di mana segala sesuatunya bisa berubah namun tetap sesuai dengan pola yang teratur. Tentang perpisahan, saya teringat salah satu lagu Mansyur S, kira-kira begini liriknya; bukan perpisahan kutangisi, hanya pertemuan kusesali. Mungkin jika lagu dangdut ini sampai ke telinga Messi pasti akan diputar-ulang selama beberapa hari ini. Selama itu pula para fans berusaha membiasakan diri melihat pemandangan Camp Nou tanpa Messi.

Pada akhirnya, kekaguman dan keterpukauan akan Messi ketika berseragam FC Barcelona hanya akan menjadi nostalgia yang tak putus-putus. 

Gracias, Capitan.


Cara Pasang Wallpaper Batu Bata yang Benar

Sekarang, kan, musim banget kayaknya studio Youtuber  yang pake wallpaper tiga dimensi batu bata putih. Nah! Yang bikin gue gemes sampe terniat banget bikin konten tulisan ini, tuh, karena rata-rata masang wallpaper-nya salah. Coba deh perhatiin dua gambar yang gue ambil dari Google di bawah ini!




Ada yang aneh? Kalo belum 'ngeh bagian mana yang janggal, coba perhatiin polanya kalo dipakein garis khayal.


Semoga sampe sini udah tau, ya, maksud gue. Wkwkwk. Jadi, mentahannya si wallpaper ini tuh persegi ukuran 70 cm x 70 cm kalau gak salah, kebetulan gue pake wallpaper ini di kamar. Nih, seperti di bawah ini.

Kalau lu pasang sekotak-kotak itu tanpa mau capek, ya, hasilnya seperti foto di atas tadi, gak simetris, polanya ngacak, dan sangat mengganggu mata si perfeksionis. Hahahaha.

Masang wallpaper ini, tuh, harus ada usahanya sedikit, ya, gais. Caranya dengan memotong bagian bata yang persegi kecilnya (paling pinggir), seperti contoh ini:
Ilustrasi Pribadi

Kunciannya sama seperti kalau pasang batako gitu lah. Etdah 'tukang' banget gak gue. Wkwkwk. 
Bakalan jadinya kayak gini, gais!
Foto Pribadi

Rapi gak?! Rapi gak? RAPI LAH! MASA ENGGAK!

Edit:
Mata dan jiwa saya terganggu liat ini. Hiiks
Sumber: Google

Belajar Mati untuk Hidup

Sejak kematian bapak, gue merasa banyak banget pelajaran yang gue ambil. Kadang terlintas seperti ini, "Untung bapak gue mati." Bukan dalam konotasi yang negatif, tapi sebaliknya. Kematiaannya sangat baik karena bisa mengubah hidup gue, cara pandang gue terhadap kehidupan, materi,  masa depan, kebahagiaan, cinta, kecemasan, penderitaan, dsb. Menurut gue, bapak meninggal di waktu dan tempat yang tepat. Beliau meninggalkan kami di saat --terutama gue sudah berusia matang. Akan lain ceritanya jika beliau meninggal di saat usia gue masih kanak-kanak. Mungkin perspektif gue akan lain lagi. Makanya gue selalu bilang bersyukur. Toh, kematian itu bukan suatu kemalangan, tapi keniscayaan. 

Kenapa dalam agama kita dianjurkan untuk selalu mengingat kematian? Percaya atau nggak, ya, sejauh ini yang gue rasain hidup jauh lebih damai saat mengingat kematian. Jauh dari hiruk-pikuk kecemasan duniawi. Karena sebetulnya urusan manusia tidak terlalu berharga untuk diperhatikan dengan serius. Tulisan ini sebagai pengingat kecil kalau nanti gue lupa dan agak melenceng dari tujuan awal gue cara memandang hidup.


Kematian memang tidak bisa dipraktikkan, tapi bisa dipelajari dan menurut gue itu penting. Mengutip kata Seneca, "Barang siapa tidak memahami cara mati yang baik, dia akan menjalani hidupnya dengan buruk." Kematian hanya datang satu kali dan tanpa peringatan. Detik, menit, bulan, tahun bergulir semakin membuktikan bahwa kita hanya terlihat sebagai debu yang beterbangan di pojok jagat raya, bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Kelahiran menggantikan ketiadaan, tumbuh menggantikan yang terpendam, hari ini meneruskan kehidupan dua ribu tahun silam, saat ini melahirkan masa ratusan tahun ke depan.

Contoh kematian sudah banyak di depan mata, teman sekolah, saudara, rekan kerja, keluarga, dan orang-orang di belahan dunia mana pun yang sering kita saksikan di pemberitaan. Hanya akan sia-sia contoh-contoh kematian tersebut jika hanya menimbulkan keheranan sesaat tanpa pernah direnungkan.

Urusan manusia sangatlah pendek. Lu mati, selesai. Cucian yang lagi dijemur dan belum sempat lu angkat sudah bukan menjadi urusan lu lagi ketika lu mati. Paketan Shopee yang belum sampe bukan urusan lu lagi. Staples yang lu cari dan gak pernah ketemu sampe lu mati, bukan urusan lu lagi. Laporan-laporan yang sudah deadline, pekerjaan yang minta diselesaikan, helm yang ilang di parkiran motor beberapa hari sebelumnya dan masih bersedih, sudah bukan urusan lu lagi. Bayangan bahagia menikmati hari tua dengan setumpuk uang pensiun gak pernah terwujud saat lu mati muda. 

Gue ingin mati tanpa penyesalan dan kesedihan, karena menurut gue kematian yang baik adalah yang tak pernah membenci kehidupan. Manusia terlalu pandai mereka-reka alasan untuk sengsara, padahal kebahagiaan ada di depan mata. Prinsip gue sekarang --karena hidup cuma sebentar, ketenangan jiwa, kebahagiaan terhadap hal-hal kecil di depan mata, dan resiliensi terhadap kemalangan adalah prioritas. Hidup jangan diambil pusing, sekalipun kejadian buruk terjadi, ya, emang kenapa? Kita gak bisa memilih kejadian baik atau buruk yang akan menimpa kita. Tapi, cara kita merespons setiap kejadian adalah kuncinya.

Jangan membuat gunung dari sekepal tanah, jangan membuat urusan kecil menjadi masalah besar, jangan meributkan hal-hal yang gak penting. Sejak dimulainya kehidupan sampai sekarang, bumi dan benda langit terus bergerak dengan kecepatan yang anggun dan teratur. Ilmuwan sibuk mengurai pengetahuan sampai ke inti sel manusia, astronom coba mengarungi luasnya lautan antariksa yang masih penuh dengan misteri. Lah, elo, sibuk koar-koar anti vaksin, Ya Allah, pengen gue tampol aja. Canda tampol.

Udah, ya, jangan suka ribut-ribut di dunia maya, gak ada gunanya. Serah elo, deh, mau percaya atau gak percaya sama Covid-19. Pokoknya iyain aja biar cepat daripada buang-buang energi. Ingat! Urusan manusia itu remeh. Mending waktunya dipake buat belajar melatih diri dalam urusan-urusan yang mendatangkan kebahagiaan. Jiah, bahagia.


Apa Rasanya Melewati Usia 30 Tahun?

Memasuki bulan Juni itu artinya umur gue bertambah --atau berkurang satu tahun. Tahun ini genap berusia 33 tahun. Jika rata-rata usia manusia --berdasarkan angka harapan hidup masyarakat Indonesia dan usia umat Rasulullah adalah 60-an tahun, maka gue sudah menghabiskan separuh lebih jatah hidup.

Ilustrasi dokumen pribadi

Apakah ini adalah usia-usia mendekati kematian? Hahaha.

Inget, ya! Syarat kematian bukan yang berusia tua. Tapi, yang hidup. Karena lawan kata dari 'tua' adalah 'muda' bukan 'mati'. Begitu juga dengan sakit. Orang mati bukan karena ia sakit, tapi karena ia hidup. Sakit berantonim dengan 'sembuh' bukan mati. Namun, menua sama halnya dengan sakit, hanyalah salah satu cara menuju kematian. Gue bilang cara, bukan syarat. Syarat mati, ya, hidup. 

Kematian melahap setiap individu yang hidup, baik yang tua, yang muda, yang sehat, apalagi yang sakit, yang kaya, yang miskin, yang makan buburnya diaduk, yang motornya Supra atau Nmax, yang helmnya SNI atau bukan, semua bakal mati. Yang suka ngelakson pas di lampu merah juga bakal mati --etdah orang gak sabaran banget, lampu ijonya juga baru nyala udah ngelaksonin mulu. 
Pernah gak, sih, kayak random gitu tiba-tiba ngitungin saudara, tetangga, atau teman seangkatan yang sudah meninggal siapa aja? Sampe mikir, ya ampun hidup cuma sebentar, ya, ternyata.

***
Jika usia 25-an tahun disebut quarter life crisis --memasuki gerbang usia dewasa, maka usia kepala tiga atau lebih menurut gue adalah usia-usia yang sedang bergesekan dengan usia tua. Puncaknya adalah ketika sudah di angka 50-an tahun --kalau boleh meminjam kata-katanya Beauvoir --head to head bertabrakan dengan usia tua.

Pertanyaannya adalah; Apakah ada yang rela dan penuh suka cita ketika disebut tua? Atau mengakui dirinya tua? Hahaha. Gue dari tadi bilang tua-tua, kalo ngomong di depan orang pasti langsung digampar. Wkwkwk. Gak usah jauh-jauh, emak gue contohnya. Beliau paling anti pake kerudung yang langsung --apa ya namanya-- karena menurutnya dia akan terlihat tua. Padahal emang tua, kan, enam puluh tahun. Bapak gue almarhum, semasa hidup gak mau mengenakan baju koko karena menurutnya koko itu cocoknya dikenakan oleh orang yang sudah tua. Padahal almarhum usianya 70 tahun. Termasuk orang-orang di sekitar kita kayaknya gak ada yang mau disebut 'tua'.

Tua itu mengerikan. Peran-peran dan rencana-rencana kita akan digantikan oleh para orang muda. Kita seolah tergulung oleh gelombang arus manusia yang lebih muda. Bahkan salah seorang filsuf dari Perancis pernah mengatakan bahwa menua lebih menakutkan daripada kematian. Kematian merupakan "ketiadaan absolut", sehingga bisa terasa nyaman. Sedangkan menua adalah "parodi kehidupan". Kita mungkin terlihat tua, berperilaku tua, dan menurut takaran objektif lainnya, memang sudah tua, tapi tidak pernah merasa tua. 

Sebuah pemikiran yang berusia lebih dari satu abad ini masih relevan dan relate dengan kehidupan sekarang, dengan kondisi psikologis manusia-manusia masa kini yang selalu nyaman bersembunyi di balik kata-kata penyangkalan 'gue belum tua, kok'. Tapi, ya, setidaknya penyangkalan-penyangkalan itulah yang menjadi alasan mereka tetap bersemangat menjalani hidup dengan tetap enggan merasa tua. 

Di belahan dunia mana pun tidak ada yang namanya budaya menua, yang ada adalah budaya terlihat awet muda. Lagi-lagi sebuah penyangkalan. Bahkan gue sendiri pun sebenarnya belum siap dipanggil dengan sapaan 'Ibu' kalau di luar lingkungan pekerjaan. Kalau kasus yang ini bukan karena gue gak merasa tua tapi lebih karena gue belum beranak-pinak jadi agak gak terima aja gitu. Hahaha. Namun, usia gue emang usia-usia rentan dipanggil dengan sapaan 'Ibu' dan 'Tante', sih, jadi it's okay.

Sekali lagi, mengakui bahwa kita mulai menua itu sulit karena ketakutan akan perubahan fisik sangat bising mendominasi isi kepala kita --meskipun kemerdekaan batin dengan menua dan penguatan identitas semakin kental. Kebisingannya sebanding dengan usaha-usaha kita agar terlihat awet muda. 

Gue yang dulunya bangga dengan hanya memakai bedak bayi, sekarang merasa kerepotan karena garis di pojok dan bawah mata yang awalnya hanya satu, berkembangbiak menjadi jembatan-jembatan halus seolah mempertegas jumlah usia gue. *ngetiknya sambil nahan tangis. Dan, ya, apa yang terjadi? Tiga tahun belakangan saya mulai rutin memakai skincare. Entahlah, ini berguna atau tidak, tapi setidaknya gue ada usaha. Usaha berdamai dengan proses menua.

Kemarin liat unggahannya Marshanda, dia berdamai dengan perubahan fisik yang termakan usia. Gue sama Marshanda, kan, seumuran, cuma beda sekolaan doang. 

***
Awal usia 20-an adalah masa di mana semua orang merasa takut gagal dan tidak diterima. Kehidupan serba kompetitif, emosi masih labil, kebanyakan insecure, menggantungkan kebahagiaan pada orang lain, takut jika kelihatan tidak sibuk. Percaya atau enggak, di usia 30-an untuk gue pribadi, hidup kalo udah ketemu ritmenya, yaudah, mau ngeribetin apa lagi? Gak ada yang perlu diribetin. Untuk urusan finansial, selagi cukup itu bagus. Urusan percintaan, karena gak mendewakan pernikahan, ya, biarkan mengalir saja. Untuk urusan insekyar-insekyur dengan pencapaian-pencapaian lenyap oleh waktu. Yang dicari dalam hidup ini hanya satu, merasa cukup. Inget kayak tagline-nya Wardah --kalo gak salah 'Baik itu cukup, cukup itu baik.

***

Usia tua hanyalah sebuah rangkaian, semua orang akan menjalaninya. Kecuali yang mati muda, ya. Makanya bersyukur yang bertemu dengan kata 'tua', jangan suka ngatain lo. Gak semua orang nyampe tua soalnya. Jangan ngomong sembarangan tua-tua aja lo. Wkwkwk apa, sih.

Tiap tahun doanya selalu ingin panjang umur, ingin hidup sampai tua. Giliran bertabrakan dengan usia tua malah mengeluh. Hahaha.

Sebagai penutup, kalo bisa, kenapa gak kita bikin aja peradaban baru dengan mengibarkan bendera bahwa menua gak buruk-buruk amat seperti kata Cicero --filsuf Romawi, "Tidak ada kepuasan  lebih besar dalam hidup daripada usia tua yang santai, tercurah hanya bagi pengetahuan dan pelajaran."



***

Emang Kalau Ditinggal Mati Harus Nangis?

Tadi banget gak sengaja liat headline berita dengan judul --seperti biasa-- memancing amarah netizen, Ria Ricis Gak Kelihatan Nangis Waktu Ayahnya Meninggal.

Karena relate sama yang pernah gue alami jadi gue pengen ikut berkomentar sekalian cerita. Termasuk emak gue yang kena cibiran karena gak nangis meraung-raung saat bokap meninggal.

Sekarang pertanyaannya, emang kalo bapak/ibu kita meninggal, anak-anaknya harus nangis? Istri/suaminya harus meraung-raung?
Jawaban gue, sih, udah jelas: NGGAK.

Kok, nggak?

Ya, jangankan nangis, untuk ngerasain sedih sampai beberapa hari ke depan aja gak ada waktu. Yang pernah ngalamin ditinggal mati orang tua pasti merasakan hal yang sama.

Gue pun kaget, ini pengalaman pertama ditinggal mati salah satu dari orang tua kami. Gue pikir, kami (anak dan istri almarhum) akan nangis meraung-raung jika ditinggal mati seorang sosok kepala keluarga, ternyata nggak. Gue sedih dengan fakta ini.

Tapi, begitulah kenyataannya. Sejak hari pertama sampai ketujuh beliau meninggal, kami --terutama gue-- gak sempat untuk nangis. Kenapa? KARENA SIBUK BANGET NGURUSIN PROSESI INI-ITU MULAI DARI A SAMPAI Z. Mikirin dari hal-hal yang kecil sampai besar. Semisal mikirin untuk pengadaan kain kafan, manggil dan nyari orang yang biasa mandiin dan mengkafani jenazah, koordinasi dengan pemuda dan ketua RT untuk menyalati jenazah, penguburan, menyiapkan kursi-kursi untuk pelayat, pasang terpal supaya gak kepanasan, dan lain-lain. Masih banyak hal-hal kecil yang perlu dipikirin saat kematian, kalo gue sebutin satu per satu gak akan selesai sampe ba'da Isya. Dan masalah terbesarnya adalah masalah biaya. Kalo ngomongin biaya agak tabu, ya, karena nanti dikira gak ikhlas, dikira perhitungan. Ya, namanya juga hidup, selalu sepaket dengan cibirannya. Hehe.

Jadi, setiap gue mau nangis di pojokan, selalu aja ada gangguan semacem;
"Wida, palu taro di mana? Mau pasang terpal,"
"Wida ambilin karung, ini yang ngelayat beras bingung mau diwadahin ke mana,"
"Wida, baskom buat amplop belum ada,"
"Wida, aqua gelasnya sisa satu dus, beli lagi aja."
Baru mau duduk sebentar,
"Wida, beli kacang sama snack buat jamuan."
Ya Allah, gue lagi berduka akhirnya pergi ke pasar beli kacang, kuping gajah, bala-bala, rokok, aqua gelas, kopi, amplop, tali rapia, rapi ahmad, kembang kuburan, dll."

Pas mau duduk sebentar,
"Wida, ada tamu dari sekolah,"
"Wida, ada tamu keluarga dari Cilegon,"
"Wida, ada tamu temen SMP,"
"Wida, ada tamu temen fesbuk." HALAH.

Pas mau duduk sebentar,
"Cari tukang masak buat tahlil nanti malem sekalian sama buat masak niga dan nujuh hari (hari ke-3 dan ke-7). Nanti buat belanja bahan-bahannya belanja aja ke Pasar Rawu."

Ya Allah, walopun gue hidup di kampung, bisa gak, sih, budaya masak-masaknya dihilangin aja, capek demi apapun. Gue lagi berduka, lagi sedih, kenapa disuruh pergi ke pasar lalu harus masak-masak di rumah, heboh amat. Bapak gue meninggal, gue cuma pengen duduk sendiri sambil nangis, itu aja. Gak bisa. Gue sibuk, kakak gue sibuk, Raffi Ahmad sibuk, semua sibuk. Ria Ricis juga.

"Gak usah, pesen catering aja," pun rupanya bukan solusi mengurangi kesibukan selama tujuh hari. Kebayang, kan, gimana makin repotnya kalo sampe ngadain masak-masak sendiri di rumah.

Jadi intinya, gue dan mungkin kalian yang pernah ditinggal mati oleh orang tua saat usia dewasa gak akan kelihatan nangis di hari pertama sampai ketujuh. Karena bukan tangisan yang dibutuhin, tapi tenaga. Perasaan hancur, kehilangan, rasa sedih, seolah lenyap digantikan dengan yang namanya kesibukan.


Di saat tengah malam, rumah udah mulai sepi dari para tamu tahlilan, di situlah momennya gue nangis, banjir air mata. Bukan pas rame orang gue nangis, gak gitu. Makanya yang orang tau kita gak nangis, ya, karena seperti itu. Seperti apa? Seperti Ria Ricis. Halah.

Besok paginya kembali sibuk menyiapkan untuk tahlilan nanti malam selama tujuh hari. Ya, gue gak nangis. GUE KE PASAR. Beli kacang, kuping gajah, bala-bala, rokok, aqua gelas, kopi, amplop, tali rapia, rapi ahmad, kembang kuburan, dll. Halah. Pokoknya ketemu rapi ahmad selama tujuh hari. Wkwkwk. Canda rapi.

Nih, ya, saking capeknya dengan acara-acara seremonial kematian, gue sampe kesel sendiri dan dalam hati sampe bilang, "Kenapa bukan gue aja yang mati kalo begini capeknya. Gak tidur, gak istirahat selama seminggu, tenaga terkuras. Capeknya melebihi acara hajat pernikahan. Malah kalo pernikahan cuma sehari, lah, ini tujuh hari."
Astagfirullah. Mon maap, itu pikiran-pikiran kacau saya kala itu, semoga maklum, namanya juga manusia, kadang bersyukur kadang mengeluh, kadang capek kadang nggak, kadang cantik kadang cantik banget.

Akhirnya, saya dan Ria Ricis mengucapkan terima kasih sudah mendengar suara hati seorang anak yang "tidak menangis" ditinggal bapaknya.

Kok Ada Manusia Model Begini?

Suatu hari gue pernah mengobrol panjang lebar via telepon dengan seorang teman. Sebagai dua orang yang sudah sama-sama dewasa -sepertinya orang-orang mengklaim dirinya dewasa ketika bahan obrolannya semakin receh- alih-alih membahas tentang politik dan persentasi keuntungan dana investasi biar keliatan kaum millenial yang rajin menabung, kami lebih banyak berkelakar tentang kelakuan 'bodoh' orang-orang yang konon dididik dan dibesarkan oleh manusia tapi kelakuannya seperti ...

Banyak banget yang kami bahas sampe bertanya-tanya, "Kok ada, ya, manusia model begini?"

Hahaha.

Satu aja gue contohin kelakuan manusia yang bikin gue gemes. Lihat, kan, gambar di atas? Pasti sering, kan, nemuin hal yang sama ketika kalian masuk ke toilet umum? Sengaja gue fotoin buat bukti bahwa manusia itu hilang kesadarannya. Wkwkwk. Cita-cita ingin mengubah dunia, perilaku elu dulu pada yang kudu diubah. Ya Allah ingin banget gue berkata kasar. Liat, kan, itu tempat sampah? Kok tisunya gak dimasukin gitu loh ke dalem? Kan, itu tisu bekas elu, lu pikir siapa yang harusnya masukin itu tisu ke tempat sampah, woy! Ada juga tisu berserakan di lantai. Itu tempat sampah, woy! Bukan pajangan! Buang bekas tisu yang bener! Ke tempat sampah sampai masuk ke dalem! Masa gitu aja gak tau?! Emosi, nih, gue.

Ini lagi. Semua tempat kosong lu taroin sampah. 


Ada lagi, nih, yang bikin emosi.


Udah tau itu wastafel, kenapa buang tisu di situ??? WOOYY !!! 

Yang perilakunya masih kayak gini gak usah temenan sama gue. Bye.