"Di usia yang hampir menginjak kepala orang ini ... "
Kira-kira begitu potongan kata-kata dari sound viral TikTok saat ini. Definisi makin tua makin bodo amat dengan segala hal receh itu bener banget. Menurut gue, apa pun, yang gak merugikan secara materi harus di-bodoamat-in, gak usah dibawa perasaan alias baper.
Waktu belanja di minimarket, "Pulsanya sekalian, Bu? Atau mau ambil tebus murahnya?" "Nggak, Kak, itu aja," jawab gue sambil senyum.
Sering banget tiap jalan sama keponakan, orang ngira itu adalah anak gue. Ya, wajar, sih, karena I look like 'a mom and her daughter' di mata stranger. Sampai ada tukang parkir nanya, "Berdua aja, Bu, suaminya gak ikut?" Gue jawab, "Nggak, Pak, suami saya lagi kerja di Jepang." "Oh, hebat, ya. Udah lama?" tanyanya lagi. "Udah tiga tahun, Pak," jawab gue santai.
Lanjut pengalaman beberapa kali berobat ke Puskesmas, di bagian pendaftaran udah pasti ditanya keluhannya apa dan sedang dalam kondisi hamil atau gak. Mungkin untuk preventif penanganan selanjutnya. "Lagi hamil nggak, Bu?" tanya si petugas. "Nggak, Pak," jawab gue.
Lanjut di ruang pemeriksaan, dokter nanya, "... mungkin karena faktor asap rokok, Bu. Suami ibu di rumah suka merokok, ya?" Gue jawab, "Suami saya gak ngerokok, Dok."
Banyak banget kejadian semacam contoh di atas yang makin ke sini gue makin ngerasa, "Eh, gapapa, kok, dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Atau dipanggil dengan sebutan 'Bu' meskipun belum punya anak. Untuk ada di fase se-woles ini emang kudu ngalamin dulu yang namanya fase baperan dan menurut gue wajar. Ditanya 'kapan nikah', baper, dibilang 'gak laku', baper, dikatain 'gak suka laki', baper, dikatain 'perawan tua', baper. Bahkan ditanya 'suaminya ke mana'-pun, baper, dipanggil dengan sebutan 'Bu' pun, baper. Padahal, ya, kalo dipikir-pikir, terlebih stranger yang gak tau apa-apa tentang kita, tentang gue, maksudnya, hal yang wajar terlontar pertanyaan dan pernyataan semacam itu. Dan kita gak perlu menjelaskan apa pun. Ngapain?
Kalo lima tahun yang lalu ditanya, "Suaminya gak ikut, Bu?" mungkin gue akan jawab, "Saya belum nikah, Pak, belum punya suami." Ngapain? Ngapain jawab gitu? Orang gak peduli dengan jawaban apa pun yang keluar dari mulut gue. Lima tahun yang lalu gue akan tiba-tiba insecure gara-gara dipanggil dengan sebutan 'Bu' oleh stranger. Sambil ngaca gue bergumam, "Emang gue udah kayak ibu-ibu, ya?", "emang gue udah keliatan setua itu, ya?" NGAPAIN? Ya, emang udah tua, kan? Maksudnya, ya, udah di usia-usia yang layak dipanggil ibu. Wkwkwk.
Beda dulu dengan sekarang. Ketika masih muda semua hal terasa berarti dan layak untuk dipikirkan, termasuk komentar orang lain terhadap diri kita. Namun, ketika beranjak dewasa, didukung oleh banyak pengalaman, energi semakin berkurang, tapi identitas semakin menguat. Kita tahu siapa kita dan menerimanya dengan sepenuh hati.
Selalu ada cara untuk menjalani hidup ini dengan 'iziii' (easy_mudah) yaitu mengubah kebiasaan yang terlalu "reaktif" menjadi kebiasaan baru yaitu mencari perspektif lain.

No comments:
Post a Comment