Saturday, January 17, 2026

Suami Gue Kerja di Jepang

 "Di usia yang hampir menginjak kepala orang ini ... "

Kira-kira begitu potongan kata-kata dari sound viral TikTok saat ini. Definisi makin tua makin bodo amat dengan segala hal receh itu bener banget. Menurut gue, apa pun, yang gak merugikan secara materi harus di-bodoamat-in, gak usah dibawa perasaan alias baper.

Waktu belanja di minimarket, "Pulsanya sekalian, Bu? Atau mau ambil tebus murahnya?" "Nggak, Kak, itu aja," jawab gue sambil senyum.

Sering banget tiap jalan sama keponakan, orang ngira itu adalah anak gue. Ya, wajar, sih, karena I look like 'a mom and her daughter' di mata stranger. Sampai ada tukang parkir nanya, "Berdua aja, Bu, suaminya gak ikut?" Gue jawab, "Nggak, Pak, suami saya lagi kerja di Jepang." "Oh, hebat, ya. Udah lama?" tanyanya lagi. "Udah tiga tahun, Pak," jawab gue santai. 

Sumber foto: Google - Adobe Stock

Lanjut pengalaman beberapa kali berobat ke Puskesmas, di bagian pendaftaran udah pasti ditanya keluhannya apa dan sedang dalam kondisi hamil atau gak. Mungkin untuk preventif penanganan selanjutnya. "Lagi hamil nggak, Bu?" tanya si petugas. "Nggak, Pak," jawab gue.

Lanjut di ruang pemeriksaan, dokter nanya, "... mungkin karena faktor asap rokok, Bu. Suami ibu di rumah suka merokok, ya?" Gue jawab, "Suami saya gak ngerokok, Dok."

Banyak banget kejadian semacam contoh di atas yang makin ke sini gue makin ngerasa, "Eh, gapapa, kok, dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Atau dipanggil dengan sebutan 'Bu' meskipun belum punya anak. Untuk ada di fase se-woles ini emang kudu ngalamin dulu yang namanya fase baperan dan menurut gue wajar. Ditanya 'kapan nikah', baper, dibilang 'gak laku', baper, dikatain 'gak suka laki', baper, dikatain 'perawan tua', baper. Bahkan ditanya 'suaminya ke mana'-pun, baper, dipanggil dengan sebutan 'Bu' pun,  baper. Padahal, ya, kalo dipikir-pikir, terlebih stranger yang gak tau apa-apa tentang kita, tentang gue, maksudnya, hal yang wajar terlontar pertanyaan dan pernyataan semacam itu. Dan kita gak perlu menjelaskan apa pun. Ngapain?

Kalo lima tahun yang lalu ditanya, "Suaminya gak ikut, Bu?" mungkin gue akan jawab, "Saya belum nikah, Pak, belum punya suami." Ngapain? Ngapain jawab gitu? Orang gak peduli dengan jawaban apa pun yang keluar dari mulut gue. Lima tahun yang lalu gue akan tiba-tiba insecure gara-gara dipanggil dengan sebutan 'Bu' oleh stranger. Sambil ngaca gue bergumam, "Emang gue udah kayak ibu-ibu, ya?", "emang gue udah keliatan setua itu, ya?" NGAPAIN? Ya, emang udah tua, kan? Maksudnya, ya, udah di usia-usia yang layak dipanggil ibu. Wkwkwk.

Beda dulu dengan sekarang. Ketika masih muda semua hal terasa berarti dan layak untuk dipikirkan, termasuk komentar orang lain terhadap diri kita. Namun, ketika beranjak dewasa, didukung oleh banyak pengalaman, energi semakin berkurang, tapi identitas semakin menguat. Kita tahu siapa kita dan menerimanya dengan sepenuh hati.

Selalu ada cara untuk menjalani hidup ini dengan 'iziii' (easy_mudah) yaitu mengubah kebiasaan yang terlalu "reaktif" menjadi kebiasaan baru yaitu mencari perspektif lain. 

Tuesday, December 30, 2025

Vietnam, Semua Tempat adalah WC Umum

Gak tau ini hanya kebetulan atau nggak. Tapi yang pasti selama hampir dua minggu di sana ada pengalaman unik yang bikin gue kayak, "Hah?", "Gimana?", "Beneran kita disuruh pipis di sini?". Wkwkwk.

Pertama, waktu kami melakukan perjalanan darat naik sleeper bus dari Da Lat ke Da Nang yang memakan waktu hampir 13 jam. Di tengah perjalanan, mungkin sekitar jam dua malam si kawan kebelet pipis dan inisiatif bilang ke driver-nya untuk berhenti dulu karena udah gak tahan. Kebetulan gak ada fasilitas toilet di dalam bus. Untunglah si driver mau menepikan dulu busnya di depan pom bensin. 

Sumber foto: Google

Kurang lebih gambaran pom bensinnya seperti gambar di atas tapi dengan kondisi gelap gulita karena malam hari dan sepi.
Gak ambil waktu lama, si kawan langsung turun, gue mengikuti dari belakang. Waktu itu kami berusaha nyari di mana toiletnya, tapi karena pomnya tutup otomatis pintu toilet juga dikunci. Di tengah kegelapan itu gue lebih mendekat ke arah bus buat ngasih tau si driver kalo toiletnya tutup. Maksud gue, bisa gak lo cari pom bensin lain yang masih buka. Wkwkwk. Tapi driver-nya memberi gestur dari kejauhan itu seolah-olah bilang, "Ya, di situ, kamu pipis di situ," sambil tangannya menunjuk di area ruang seterbuka itu. Sementara si kawan yang udah gak tahan gak pikir panjang mau pipis di mana aja asal gak ngompol. Akhirnya pipislah di tempat terbuka dengan ambil posisi agak membelakangi tembok supaya gak kelihatan oleh warga dan penumpang di bus. Meskipun begitu kami tetep waswas. Gue yang tadinya mau ikut pipis mengurungkan niat setelah tau kalau air di keran yang tadi pas kami coba sempet masih ada airnya, tapi setelah si kawan pipis air di kerannya habis. 

Setelah selesai ritual pipis tadi, kami bergegas naik kembali ke dalam bus karena si driver juga keliatannya udah gelisah karena membuang waktu untuk berhenti.

Kejadian kedua lebih kocak lagi, kami pindah kota. Masih menempuh perjalanan jauh dari Da Nang menuju Hanoi, lagi-lagi kami naik sleeper bus yang gak ada fasilitas toiletnya. Lama perjalanan kurang lebih hampir sama belasan jam. Pengalaman kalau di negara sendiri naik bus AKAP itu pasti ada dua sampai tiga kali pemberhentian untuk ngasih waktu ke penumpang sekadar ke toilet atau makan di rest area/ resto yang disediakan oleh agen bus. Ini pun sama. Bus berhenti dua kali, pertama untuk ngasih kesempatan penumpang ke toilet, kedua berhenti di pool bus untuk makan. Yang jadi masalah adalah pemberhentian bus pertama bukan di rest area atau lokasi pool bus. TAPI DI TEMPAT TERBUKA. Tengah malam sodara-sodara. Gelap, tempat terbuka. KITA DISURUH PIPIS DI SITU, YA ALLAH. 

Asli itu semua penumpang pada turun, awalnya gue pikir, ya, busnya kalopun gak berhenti di rest area, minimal di tempat yang ada toiletnya, karena gelap dari dalam jendela bus gak kelihatan lokasi di luar bagaimana, gue excited untuk turun juga mengingat perjalanan masih jauh agak rempong kalo pengen pipis di tengah jalan. Trauma kejadian yang pertama terulang lagi.

Kurang lebih busnya berhenti di tempat seperti ini:

Sumber foto: Google

Kaget banget waktu  pertama kali turun dan liat sekeliling gak ada apa-apa, gak ada toilet, cuma tempat (seperti lapangan) terbuka. Lucunya, hampir semua penumpang langsung berpencar mencari tempat pipisnya masing-masing di tempat seterbuka itu, Ya Allah, syok banget, Kak!

Kami dikasih waktu sekitar sepuluh sampai lima belas menit untuk ritual tersebut sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam bus melanjutkan perjalanan.

Fyi, gue gak jadi pipis, ya, kebetulan make diapers juga kalo urgent banget bisa pipis kapan aja.

Kejadian ketiga yang bikin gue mikir, kayaknya di sini bebas mau pipis di mana aja selagi gak nemu toilet. 
Sumber foto: Google

Waktu itu di pinggir jalan seperti ini gue liat ada motor menepi dan ngeliat ada satu cewek lagi nongkrong di semak-semak dan satunya nunggu di motor. Gue gak mikir gimana-gimana karena di sini pun sering lihat kendaraan menepi terus orangnya pipis di semak-semak. Tapi, kan, yang biasa gue liat itu cowok yang begitu. Nah, ini cewek kek santuy banget ritual di pinggir jalan gitu. Hahaha. Masalahnya dari pengalaman sebelumnya, sebetulnya nyari WC umum di Vietnam itu jauh lebih mudah (sama seperti di sini) di mana-mana ada, daripada waktu pengalaman di Bangkok yang jarang banget liat kecuali di mall. Tapi, kayaknya prinsip orang-orang di Vietnam, daripada ngompol mending pipis di mana pun. Gak di WC, gak ngaruh. KAYAKNYA.







Sunday, March 17, 2024

Seberapa Sering Pergi ke Malaysia

Hari itu gak sengaja lewat di timeline Twitter cuitan promo di Trip.com. Tanpa pikir panjang gue langsung nge-mention akun si kawan, kasih sinyal kalau 'gaskeun lah nge-trip lagi'. Benar saja si kawan langsung menyambut baik, lalu bilang, "GAASSSS!!"

Gue yang terbiasa hunting tiket pesawat promoan udah tau apa yang mesti gue siapin sebelum nge-war. Di jadwal yang sudah ditentukan, gue udah siap di depan PC mantengin tanggal-tanggal penerbangan yang ada promonya. Sementara tugas si kawan harus stand by di layar handphone-nya buat mastiin apa yang gue butuhin harus segera dikirim cepat, terutama soal urusan pembayaran yang lagi-lagi harus pake kartu kreditnya. Sat-set-sat-set, dapetlah tiket promo seharga kurang-lebih Rp650.000 pergi-pulang Jakarta - Kuala Lumpur. Murah gila, kan? Haha.

Pic: tertera harga untuk 2 pax

Kalau dihitung-hitung, ini adalah kali ketujuh kami pergi ke Malaysia dimulai dari tahun 2014 sampai sekarang 2024. Meski pun kami selalu pergi ke tempat yang sama kami gak pernah merasa bosan atau merasa rugi kenapa harus menghabiskan uang untuk pergi ke tempat yang sama 'berkali-kali'. Alasannya karena satu, nilai historis. Malaysia menjadi negara yang menyimpan banyak kenangan masa remaja kami. Di mana ketika itu kami pernah melaksanakan tugas sekolah berupa Praktik Kerja Lapangan (PKL) di sebuah hotel di Malaysia selama enam bulan saat kelas 3 SMK di tahun 2005. Itulah alasan yang membuat kami selalu rindu dengan Malaysia. Rindu kudapannya, rindu suasananya, rindu dengar orang cakap Melayu, rindu dengan jalan-jalan yang pernah dilewati, rindu bau dupanya, dan lain-lain. Hahaha. Alasan yang terakhir sepertinya agak menyebalkan tapi itulah kenangan, tidak melulu untuk sesuatu yang kita senangi.

Pic: Di tempat dan orang yang sama, dengan waktu yang berbeda


Untunglah punya kenangannya di Malaysia. Coba kalau di Rusia? Agak repot karena tiket pesawatnya pasti mahal, gak akan terjangkau kantong kaum mendang-mending macam kami.

Sunday, April 30, 2023

Say No to K-Pop!

Foto nyomot dari GettyWallpaper

Ga tau, ya, ini gue lagi kenapa bisa begini. Dari dulu, tuh, sejak booming idol-idol Korea, entah drakor atau K-Pop-nya, gue menahan diri supaya gak ikut-ikutan trend jadi fans K-Pop. Bukan gimana-gimana, sih, ya. Masalahnya gue ngerasa udah bukan waktunya lagi di usia gue yang sekarang mengidolakan artis sampe segitunya. Kalau ada artis/penyanyi yang gue suka, ya, sekadar suka aja, gak usah sampe ngidol atau jadi fans berat. Gak perlu. Mau ngapain? Udah bukan waktunya. Toh, waktu masih remaja juga gue pernah ngalamin yang namanya ngidol sama artis. Zaman gue remaja, yang booming adalah telenovela (drama-dramanya Amerika Latin sono) gue gak pernah absen, tuh, nontonin Rosalinda, Esperanza, Bety La Fea sama Cinta Paulina, ampe gue ngebayangin gede nanti bakal punya suami kayak Raul Gonzalรจz atau yang tinggi-sipit-putih kayak Fernando Josรจ Altamirano del Castillo (suaminya Rosalinda). Anjir ngakak. Yang gak kelewat juga buat remaja masa itu, ya, ngidol sama Amigos, F4, AFI (Akademi Fantasi Indosiar, njir), Avril Lavigne, Linkin Park, pemain Timnas Italia, dll.

Foto dari Google

Foto dari Google

Kalau ngeliat fans K-Pop sekarang, tuh, kadang-kadang kita ngerasanya mereka itu suka di luar nalar. Idolanya dibela-belain ampe segitunya. Kadang nge-hate juga ampe segitunya. Terus segala merchandise sesepele photocard aja dibeli. Buat apaan, anjir? Lo liat foto-foto mereka seliweran di medsos emang gak cukup apa?

Astaghfirullah, gue gak muhasabah diri. Padahal dulu gue juga pernah ampe ngebela-belain beli tabloid Fantasi seminggu sekali dari hasil nyisihin uang jajan. Gue lebih milih gak jajan daripada ketinggalan ingfo si Pedro dkk. Belum lagi nyari itu tabloidnya susah bener. Kalo dapet bonus poster seneng banget gue tempel itu di kamar, sampe ada yang gue gunting-gunting terus ditempel gue bikin kliping (tua banget, ya, tau kliping). Udah kayak orang gila beneran, deh, kalo jadi fans garis keras. Makanya sekarang kalo liat fans K-Pop gue gak boleh 'misuh', karena gue pernah di posisi itu dulu. Wkwkwk.

Balik lagi ke obrolan awal, gue udah cukup gamau lagi ngidolain artis apa pun, termasuk  K-Pop. Kalo mau menikmati karyanya, ya, cukup denger lagu-lagunya. Gak perlu tau lah drama-drama di belakangnya, asal-usulnya, bapaknya keturunan apa, weton sama zodiaknya apa, mafa & mifa-nya (dikata lagi nulis buku diary punya temen), dll.

Ddu-Du Ddu-Du adalah lagu K-Pop pertama yang ngena banget di kuping gue. Setelahnya ada Solo-nya Jennie yang akhirnya gue tau kalo doi personilnya Blackpink (personil gak, tuh, member 'cuk').

Foto nyomot dari GettyWallpaper

Setelah kepoin akun official-nya di YouTube, ternyata lagu-lagunya yang dulu juga gak kalah bagus dan enak banget didenger. Jadilah gue lebih sering dengerin lagu-lagunya Blackpink. Dengerin 'tok' tanpa tau member yang lain selain Lisa dan Jennie. Ya bodo amat lah. Gue suka menikmati lagu-lagunya aja.

Nggak tau kenapa setelah bikin stories pas di GBK ngonser itu eksplor Instagram gue yang biasa ditonton adalah video-videonya Galasky cucunya Haji Faisal, Kwon Yuli (bocil stiker watsap), sama cuplikan-cuplikan gol, itu tenggelam ketutup sama Blackpink. Eksplor ige gue sekarang isinya Blackpink dan akun-akun fanbase-nya. Wkwkwk.

Ya, mau gak mau dong karena dicekokin terus sama tontonan video-video gemes member-nya, GUE JADI SUKAAAAAAAAAA. Jadi hapal sama semua member-nya, mukanya, karakternya, chemistry-nya, zodiaknya, nama bapaknya, dll.

Sekarang seambis itu sama Blackpink, astaga :(

Karena udah melanggar sama batasan yang dibuat sendiri untuk SAY NO TO K-POP, sekalian aja gue mendeklarasikan diri sebagai Blinkeu. WAKAKAKAKAK

Tuesday, January 31, 2023

Definisi Ucapan adalah Doa

Mungkin satu atau dua tahun yang lalu gue pernah berucap gini, "Kalau seandainya ada rezeki diangkat ASN, gue pengen pensiun (berhenti) nge-job." Itu di saat usia makin bertambah dan ngerasa udah capek banget fisik gue kalo harus ngehonor ngajar nyambi nge-job

Mundur lagi ke belakang, gue udah tiga kali ikut tes CPNS yang hasilnya nihil. Di tes yang ketiga dan tetap menemui kegagalan lagi gue kecewa banget terlebih usia saat itu udah 31, mepet banget lah seandainya mau ikut tes CPNS yang gak tau lagi adanya berapa tahun kemudian. 

Gue kecewa, gue marah, gue nangis, dan sempet mempertanyakan kepada Tuhan, "Ibadah saya selama ini fungsinya apa?" "Doa-doa saya? Gak bisa banget dikabulin apa?"

Tapi, di satu sisi job gue stabil dan relatif ada peningkatan. Pernah banget di musim orang nikahan, sebulan gue bisa ngegarap 20 sampai 25-an job. Tuhan Maha Adil, ya, di saat kecewa dengan satu hal, Dia bungahkan dengan hal lain. Bener-bener kayak udah gak kepikiran lagi kalo gue baru aja kecewa sama Tuhan, sama jalan hidup gue juga. Sesibuk itu dari weekday, weekend, pagi, siang, malem. Tiap hari hampir selalu begadang tidur jam 2 pagi nyelesein editan. 

Gue sangat mengandalkan pendapatan dari photo-video wedding. Sampe gue mikir, "Oh, mungkin jalan gue emang di sini kali, ya? Di dunia per-wedding-an. Kalo emang iya, semoga rezekinya ada terus, dikasih jalan supaya bisa beli peralatan yang lebih proper dan bisa ngembangin usaha ini."

Baru aja gue punya semangat dan keyakinan bahwa 'jalan gue emang di sini'. Daasss!!! Beberapa bulan kemudian ada bencana Covid-19. Pemberlakuan PSBB, PPKM, dan sebagainya. Blas! Gak ada orang nikah. Gak ada job. Sekali pun ada yang nekat menggelar pernikahan di tengah badai corona, hanya ada satu atau dua per tiga bulan dan itu pun cuma sebatas akad yang otomatis bayaran gak full. Yang pasti gue ikut kena imbas dari musibah Covid-19 itu. 

Ada istilah badai pasti berlalu itu benar adanya. Pertengahan 2021 udah nampak terang, pembatasan-pembatasan udah mulai agak longgar. Job satu per satu mulai berdatangan. Mulai menata kehidupan lagi. Fix gue mau jalanin (usaha) ini dengan serius. Terlebih beberapa gear-nya udah upgrade. Entah yang mana yang jadi kerjaan sambilan, apakah mengajar atau nge-job? Yang pasti gue jalanin aja semuanya tapi sambil nangis. Canda.

Meme dapet nyomot dari twitnya anak presiden

Rezeki enggak ke mana, akhir 2021 dibuka tes CASN PPPK. Walaupun peluang lolosnya lebih tinggi, tapi gue udah terlanjur kecewa karena pernah gagal tiga kali. Gue udah se-hopeless itu. Ikut, ya, ikut. Tapi, gak menaruh lagi ekspektasi yang gimana-gimana. Sampe-sampe, doanya diubah. Sebelumnya, doa gue hanya fokus supaya gue lolos, gue lolos, gue lolos. Tapi sekarang (semenjak kegagalan itu), doa gue cuma satu, 'berikan yang menurut Tuhan baik'. Udah. Apapun. Bakal gue jalanin dengan baik juga.

Usaha lagi jalan, hampir tiap weekend ada job, ya, gue santai walaupun badan terbantai. Ceile. Weekday ngajar, weekend nge-job. Pagi ngajar, siang-sore sampe subuhnya ngedit. Yang awalnya enjoy lama-kelamaan ngerasa capek banget. Fisik udah gak sama kayak waktu umur 20-an. Gue kayak yang butuh istirahat. Makin ke sini tiap abis nge-job pasti langsung ngedrop. Usia tidak bisa menipu. Sampe gue mikir, apa gue bakalan kayak gini terus sampe tua? Sedangkan baru kepala tiga aja udah berasa terkuras energinya kerja angkat-angkat kamera.

Lalu kepikiran sama tes CASN PPPK yang baru gue lalui dan tinggal nunggu pengumuman. Akhirnya terucap, "Kalau seandainya ada rezeki gue lolos dan diangkat ASN, gue pengen pensiun (berhenti) nge-job. Tapi, kalau gagal lagi itu tandanya gue kudu nyetok koyo banyak-banyak biar tetep kuat angkat kamera buat badan yang mulai menjompo ini."

Tak dinyana akhirnya gue lolos kali ini. Tahun 2022 menyandang status CASN, di akhir tahun sah menjadi ASN PPPK, dan awal tahun ini (2023) merasakan juga gaji pertama. Alhamdulillah.
Dan ajaibnya ada istilah 'ucapan adalah doa' itu mungkin ada benarnya. Semenjak gue berucap kata-kata itu, mulai dari awal Januari ini gue gak ada job masuk satu pun. Itu artinya gue udah gak nge-job lagi per bulan Januari sampai entah. Untuk bulan depan pun tidak ada tanda-tanda ada yang booking. Entah harus senang atau sedih, tapi yang pasti seneng banget. Terlebih mengajar adalah pekerjaan di mana gue gak pernah ngerasain yang namanya jenuh atau capek yang berlebihan secara fisik. MENTAL IYA. Hahaha.

Gimana pun, pekerjaan gue sebagai kameramen (2007) udah lebih dulu dijalanin ketimbang ngajar (2009). Baru nyusul sebagai editor di tahun 2017. Yang bisa gue lepas pelan-pelan saat ini mungkin sebagai kameramen lepas (freelance) yang turun ke lapangan langsung di mana butuh tenaga yang lebih banyak daripada editor yang bisa gue kerjain sambil sesekali rebahan. Sebagai editor masih ngerjain untuk vendor yang punya kakak sendiri. Selebihnya mau fokus mengajar dan menikmati hidup.

Meski terlalu telat untuk memulai sesuatu yang seharusnya bisa lebih cepat didapat, tapi Tuhan Maha Tahu tau kapan waktu yang tepat untuk mengabulkan doa hambaNya yang suka sambat. 

Hehe.


Sunday, June 26, 2022

Jalan Kaki dari Sudirman ke Suropati

Gara-gara liat kutipan di buku yang lagi gue baca jadi dapet inspirasi bikin konten di blog. :)

"Berjalan-jalanlah. Kita perlu berjalan-jalan di luar, supaya pikiran kita dapat disehatkan dan disegarkan oleh suara terbuka dan tarikan napas yang dalam." -Seneca

Kemudian menjadi sumber inspirasi bagi Friedrich Nietzsche menghasilkan karya-karyanya saat dan setelah melakukan aktivitas berjalan-jalan, dalam hal ini berjalan kaki. Cuma jangan dibayangin Nietzsche jalan kakinya di daerah kawasan industri macem di Kabupaten Serang ini. Wkwkwk. Bukan ketenangan yang didapet tapi malah emosi. Beliau berjalan kaki di sekitaran danau, bukit, hutan pinus, di kaki Gunung Engadine Atas, atau kalau lagi musim dingin beliau jalan kakinya di sekitaran kota kecil di Genoa. 

Nih, lembah Engadine boleh nyomot dari Google masih ada watermark-nya.

Kalo ini ilustrasi jalan raya depan rumah gue kurang lebih sama seprti ini, jam lengang banyak kendaraan berat, jam masuk dan pulang kerja malah makin barbar. Wakakak, gusti Allah.

Dokumen pribadi yang gue fotoin sendiri. BAYANGIIIIINNN.

Gue sih maunya kalo lagi di rumah dan pengen ke Indomaret atau sekadar jajan beli gorengan ke depan itu ya jalan kaki aja gitu, toh deket. Tapi, jalan kaki di tempat gue, tuh, ibarat nganterin nyawa cuma-cuma. Jalan udah mepet ke pinggir aja, nih, udah diklaksonin angkot sama motor, astaga. Belum lagi banyak banget kendaraan berat macem truk, mobil molen, kontainer, yang gitu-gitu dah. Masih sayang nyawa mending gue tahan rasa ingin jajannya, atau kalo terpaksa banget, ya, milih ngeluarin motor yang pasti ngeluarin energi lebih banyak, ditarik-tarik motornya takut nyenggol kusen pintu.

Setop ngebahas kabupaten gue dibanding-bandingin dengan Swis dan Italy, jauh panggang dari api. Gue mau sharing pengalaman berjalan kaki yang menurut gue paling berkesan. Berkesan dalam arti gue merasa tenang, damai, hening meski bukan di tempat seperti hutan atau di kaki gunung. Tepatnya di tengah kota Jakarta. Waktu itu gak sengaja sama si kawan seperti biasa habis pulang nge-trip cari stasiun terdekat. Dari hotel ke Stasiun Cikini kami putuskan berjalan kaki sejauh 1,5 km, waktu tempuh 20 menitan. Dengan beban ransel yang menempel di punggung meski berat tapi gue menikmati setiap langkah menuju stasiun. Gue kok merasa adem, tenang, selama perjalanan gak riuh dengan kendaraan dan masih ada pepohonan rindang untuk menutupi terik. Cukup teduh untuk ukuran kota Jakarta.

Dari situ lah akhirnya gue pengen suatu waktu melakukan perjalanan yang sama -berjalan kaki- di tempat yang sama, sendiri, tanpa partner dan beban ransel.

Kebetulan gue suka banget dengan taman, gue betah duduk berlama-lama di taman baik ramean atau sendiri. Dan taman terbaik sejauh ini jatuh kepada Taman Suropati. Wakakak. Gue jauh-jauh dari Serang ke Jakarta cuma ingin duduk di taman berjam-jam. Belum seberapa, sih, kalau ke Jakarta. Karena pernah waktu itu sangking pengen banget duduk di taman, gue keretaan sampe ke Kebun Raya Bogor. Di situ gue cuma duduk selama dua jam, terus pulang. Emang random banget, sih. Tapi emang yang dicari adalah ketenangannya. Gue suka kereta, buku, jalan kaki, dan taman. Ketika empat amunisi itu jadi satu rasanya kayak dapet nikmat besar dari Sang Pemilik Semesta.

Tentang kereta dan taman kayaknya pernah gue bahas entah di blog ini atau di jawaban Quora, yang pasti sekarang ngasih ruang untuk 'jalan kaki'.

Dari sekian pengalaman berjalan kaki, rute dari Stasiun Sudirman ke Taman Suropati adalah yang paling gue suka. Mungkin karena di situ kawasan komplek rumah orang kaya jadi beda kali suasananya, ya. Wkwkwk. Gak gitu. Lebih ke sepanjang jalannya adem, rindang, ada suara hiruk-pikuk ala kota besar tapi terdengar jauh sekali. Tenang, saat jalan gue ngobrol dengan diri sendiri, relaksasi, gak perlu menyamakan langkah dengan teman seperjalanan karena gue jalan sendirian, lepasin semua identitas diri dan topeng sosial, lupa sejenak cucian piring, atau motor yang belum ganti oli. Suatu gambaran  kesederhanaan perihal kebahagiaan dapat dirasakan sewaktu berjalan kaki.

Sebagai penutup ada satu kutipan yan gue suka:

"Duduklah sesedikit mungkin, jangan percaya ide apa pun yang tidak lahir dari udara terbuka dan gerakan kaki yang bebas!" -Nietzsche

 

Monday, May 23, 2022

Bikin Tampilan Workspace Adobe Premiere Pro yang Nyaman

Kebetulan baru update Windows terbaru, gais, jadi terpaksa reinstall aplikasi Adobe Premiere Pro. Kalo udah gini harus setting semua-muanya dari awal. Mulai dari workspace, keyboard shortcuts, dan terakhir sequence presets.

Sebenernya buat tampilan workspace bisa beda-beda tiap orang. Punya nyamannya masing-masing. Wkwkwk. Cuma di sini mau nunjukin workspace ala gue sekalian kasih sedikit caranya buat yang belum tau cara setting-nya karena jujurly kalau pake tampilan bawaan buat gue sendiri gak nyaman di mata dan ada beberapa panel yang gak pernah dipake.

Tampilan awal kalo baru banget pasang aplikasinya:

Setelah bikin project baru tampilannya seperti ini. Ada beberapa panel yang sebenernya gak perlu-perlu banget jarang dipake jadi singkirkan saja.

Buat bikin tampilan sesuai keinginan kita, klik Window - Workspaces - Edit Workspaces

Lalu mulai atur layout, buang panel yang jarang dipake bahkan gak pernah. Contohnya kayak Learn ini buang aja.
Media Browser juga.

Setelah menyisakan panel-panel prioritas, tinggal klik-drag ke posisi yang bikin nyaman.
Hasil akhir punya gue langsung save aja klik Window - Workspaces - Save as New Workspaces
Kasih nama workspace-nya biar gampang nyarinya.
Jadi, kalo mau bikin project baru tinggal pilih workspace yang udah kita save sebelumnya.

Ini contoh workspace ternyaman versi gue. Ckckck.








Sunday, May 15, 2022

Pekerjaan Rumah Paling Ngeselin, Memasak!

Seharusnya gak pernah ada, tuh, label 'perempuan tapi gak bisa masak'. Selain memasak itu bukan hanya tugasnya perempuan, pelabelan itu kayaknya kurang tepat juga karena sebetulnya gak ada orang yang gak bisa masak. Sekali lagi, gak ada orang yang gak bisa masak. Pekerjaan rumah seperti nyapu, ngepel, nyuci, menjemur pakaian, memasak, dan sebagainya itu kalo di tempat gue disebut ilmu katon. Kalo katon sendiri artinya keliatan atau nampak, ilmu yang keliatan gak perlu dipelajari. Kurang lebih seperti itu.

Gue sebagai orang yang dicap 'gak bisa masak' sebenernya kurang tepat karena aslinya bukan gak bisa, tapi gak suka, males. Di antara sekian pekerjaan rumah, yang paling the best, ya, nyuci baju sama ngepel, paling ngeselin jatuh kepada: nyetrika dan masak. Hahaha. 

Perlu gue urutin pekerjaan rumah paling asik sampe paling ngeselin, mulai dari atas ke bawah, urutannya semakin ke bawah semakin ngeselin. Sebenernya gak ada pekerjaan rumah yang bikin senyum-senyum sendiri saat ngerjainnya. Semua pekerjaan rumah, ya, bikin capek, abis ngerjain ini ganti itu. Gak berujung pangkal lah pokoknya gak akan pernah selesai.

1. Nyuci Baju

Gue taro paling atas karena nyuci baju ini satu-satunya perkerjaan rumah yang efisien bisa ditinggal-tinggal buat ngerjain hal lain, gak 'ngajedog' liatin baju muter. Bayangin aja sambil nunggu proses penggilingan cucian gue bisa sambil push rank, ikut turnamen antar benua, ngisi  rapot, sampe bisa mantau progress Rafathar masuk pesantren.

2. Ngepel

Meski urutannya nyapu dulu baru dipel, tapi gue lebih seneng proses ngepel karena tetesan keringat yang keluar saat meras kain pel itu berasa kayak abis zumba, sehat. Wkwkwk. 


3. Nyuci Piring

Nyuci piring di sini adalah nyuci piring setelah makan, ya, bukan nyuci piring dan perabot setelah masak. Nyuci perabot setelah masak itu part yang ngeselin nanti gue bahas paling bawah.

4. Nyapu

Lebih milih nyuci piring ada di urutan atas karena nyapu itu berteman dengan debu, gak suka galaiikk. Tapi, tetep dikerjain. :))

5. Ngejemur Baju

Kenapa jemur baju itu ngeselin nomor 5? Karena kepala lu harus dangak, tangan juga angkat ke atas. Lama-lama pegel tau.


6. Nyetrika

Kerjaan rumah yang gak punya toleransi. Lengah sedikit, panas. Ditinggal sebentar, panas. Bales chat WA doang nih, lampu indikatornya udah kedap-kedip, kan gue ngeri meledak, ya. Mau gak mau kalo nyetrika kemerdekaan gue berasa direnggut. Gak bisa ngapa-ngapain. 

7. Memasak

Nah ini! Pekerjaan rumah paling ngeselin versi gue, memasak! Jadi, ya, gue itu bukan gak bisa masak, apalagi zaman sekarang mau masak menu apapun ada tutorialnya di YouTube. Gue cuma males, ribet. Wkwkwk dendam banget kayaknya. Sini gue jelasin kenapa gue males masak. Pertama, gue gak begitu doyan makan. Makan tuh cuma kayak menggugurkan kebutuhan raga biar tetep hidup aja. Kedua, di rumah udah emak tiap hari masak, gue tinggal makan. Ketiga, gak suka sama asap/uap yang dihasilkan saat proses memasak, apalagi kalau udah gorang-goreng. Hhh. Faktor ketiga ini, sih, yang bener-bener bikin gue gak suka masak, kek yang kalo habis masak tuh keringetan, bau masakan, dan setelahnya wajib mandi, jangan dibalik, ya, bukan mandi wajib. Halah.


Sesepele goreng telor aja gue bisa keringetan sekebon dan berasa badan lengket banget gak suka, otomatis kudu mandi. Hhh. Faktor Keempat, belum lagi nih, ya, kalo abis masak beberapa menu, itu astaghfirullah, selain menghasilkan keringat juga menghasilkan perabot kotor bekas masaknya banyak banget. Otomatis kudu nyuci piring segerobak. Faktor kelima, lantai dapur jadi lengket gaksi, mau gak mau setelah masak dan nyuci perabot kudu ngepel. Ekstra banget energi yang dikeluarin buat proses masak dari awal sampai akhir ini. That's why gue gak suka masak kecuali lagi kepengen banget dan lagi mood, dan sudah pasti itu jarang terjadi. :))

Sampe-sampe gue kepikiran pengen masak tapi di alam terbuka kayak gini nggak keringetan tapi dikelilingin laron.


Atau masak di atas salju.

Mungkin nanti desain dapur yang kayak gini juga bisa, kalo ujan tinggal tutupin terpal.

Btw, tulisan ini terinspirasi setelah gue masak nasi goreng yang gak seberapa tapi capeknya luar biasa. Hehehe.




**semua gambar pemanis dari Google.


Friday, March 4, 2022

Cerita di Balik Layar Kamera

Kadang ada beberapa momen di dalam hidup ini yang bikin sedih gitu. Wkwkwkwk. Kayak yang gue alamin barusan. Dapet share loc-an acara wedding besok hari. Pas buka preview di Google Maps, buset! JAUH BENER!!

Ngebayangin perjalanannya aja udah gak sanggup, gimana dibawa kerja ntar yakan, dan serius itu bener-bener jauh banget. Apalagi kalo pake motor, mana bawa-bawa kamera segede dosa Hitler, tripod yang beratnya gak ngotak, ditambah lagi kalau misal di tengah perjalanan tiba-tiba turun hujan, makin rempong dah. Mau marah tapi ke siapa, pengen ngeluh tapi gimana, ya nikmatin aja sendiri. Wkwkwk.

Pernah tempo hari gue ngalamin begitu, karena lokasi wedding-nya jauh otomatis nyubuh dari rumah, kagak sempet sarapan, kan. Udah setengah perjalanan turun hujan. Riweuh gitu kudu pake jas hujan, ngebungkus kamera sama tripod pake plastik, walopun akhirnya tetep kebasahan juga. Waktu ngelanjutin perjalanan dengan kondisi ujan gede plus bawa-bawaan seberat dan serempong itu, sepatu ampe basah ke dalem-dalem, dalam hati, "Nyari duit gini amat," sambil nangis di atas motor gue ngomong begitu. Wakakakak Ya Allah. Mana pas nyampe lokasi muka gue udah kagak ada bentukannya, badan udah setengah basah dan kedinginan, telanjang kaki akhirnya karena takut masuk angin pake sepatu basah. Abis gitu gue lanjut kerja woy kerjaaa. Hahaha.

Dan itu bukan kejadian pertama dan terakhir, mungkin ada dua-tiga kali yang gue nangis di atas motor pas berangkat nyari cuan. Wakakak kocak banget kalo dipikir. Lebih ke-karena cuaca dan jarak yang gak mendukung sih sebenernya yang bikin sedih tuh. Kalo capek mah ya semua kerja juga capek. Tapi capek bisa ilang kalau transferan udah masuk. Hehehe.

Monday, September 27, 2021

Akhirnya Nemu yang Cocok - Review Skincare

Kurang-lebih dua tahun yang lalu gue pernah nge-tweet gini:

Saat itu, tuh, tahun terburuk lah menurut gue secara muka yang tadinya gapapa dan gak kenapa-napa, tiba-tiba diserbu sama jerawat. Anjir, gue kenapa ini? Woy lah gue pengen nangis tiap hari rasanya. Wkwkwk. Meski muka gue awalnya gak mulus-mulus banget, tapi ya gak gini juga, njir, semuka-muka jerawatan.

Fotonya kalo tampak depan lebih parah, sih, sampe gue mikir macem-macem, apa gue ada yang nyantet atau ada yang jailin gitu. Wkwkwk. Gak ada foto before yang bener-bener cuma liatin muka, karena waktu itu beneran sampe risih banget mau selfie juga. Hiks.

Dua tahun banget gak tuh gue mulai gonta-ganti merk skincare buat nyari yang cocok. Aaarrgh! Capek banget lah pokoknya dan sempet putus asa juga. Hahaha. Kalo muka lo jerawatan, keinginannya tuh cuma satu, JERAWAT ILANG. Persetan glowing, cuma pengen jerawat musnah aja, udah. :(

Setelah dua tahun dengan struggle-nya bak-bik-buk sama jerawat dan nyoba-nyoba merk skincare A sampai Z, akhirnya sekarang udah nemuin formula yang cocok. Jerawat udah berkurang dan kadang nyaris gak ada. Kecuali jerawat datang bulan, ya.

Di blog ini gue bukan mau kasih rekomendasi kalian buat pake merk skincare yang sama, tapi mau share pengalaman aja, toh, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Lain kulit lain pula treatment-nya.

Dua tahun itu bukan waktu yang sebentar buat orang yang lagi insecure-insecure-nya sama muka jerawatan menurut gue. Tiap hari kek lo harus searching penyebab jerawat apa, solusinya gimana, liatin review orang-orang. Oh, iya! Kalo gue biasanya nyoba skincare itu berdasarkan review atau thread orang-orang di Twitter, karena menurut gue mereka share pengalaman itu tulus tanpa ada embel-embel endorsment. Kalo kayak liat review di YouTube dan Instagram itu udah beraroma kapitalism. Hehehe. Tapi, gak salah juga, sih, tetep diliat biar banyak referensi.

Dah lah curhatnya segitu aja. Sekarang muka gue udah kembali seperti semula, udah gak seperti orang kena santet. Canda santet. Gue gak mau lebay bilang, "Setelah pake skincare A, jerawat langsung hilang! Wkwkwk Gak gitu, ya. Biasa aja, sih, semuanya pelan-pelan butuh proses. 

Bcd banget kelamaan.

Pemakaian pagi dan malam sama aja, kecuali di step terakhir, kalo pagi sunscreen, malem sleeping mask. Fyi, gue udah gak pernah pake facial foam, gak tau kenapa tiap pake itu selalu tumbuh jerawat baru. Udah nyoba berbagai merk mulai dari yang pH-nya rendah sampe yang suka ngerendahin. Better gue gak pake dan terbukti lebih aman dari jerawat. Kebetulan juga udah berhenti pake make up, jadi udah gak ada masalah dengan proses cleansing, cukup bersihkan dengan air biasa dan air wudu. MashaAllah.

1. Toner
Foto: Dokumen Pribadi

Selalu cocok pake toner-nya Some By Mi, baik yang Yuja Niacin atau yang AHA-BHA-PHA. Tapi yang Galactomyces Pure Vitamin C Glow Toner ini nendang banget sih, berasa cerah ceria dan bijaksananya ke muka. Warna dan teksturnya lucu suka bikin gue ketawa, persis banget soalnya kayak obat batuk OBH Combi Plus.


2. Serum + Vitamin C
Foto: Dokumen Pribadi

Aura Bright Glutathione & Vit C Serum. Kali ini boleh lebay gak, sih. Gue tuh kek yang udah capek banget gonta-ganti serum tapi gak ada yang cocok. Pas liat arsip lama di Twitter (biasanya kalo ada thread skincare gue like dulu, dibacanya kapan-kapan) gue nemu ini. Gak expect apa-apa karena pas pertama kali nyoba beli dari kemasannya tuh gak meyakinkan banget astaga. Ini skincare berasal dari Meksiko atau negara mana, sih, gue gak pernah tau asli.
Tapi, pas sebulan pertama pake kayak keliatan ada bedanya. Pikiran gue waktu itu, kalo yang efeknya instan langsung keliatan perubahannya gitu pasti abal-abal. Akhirnya gue cari tahu nomor BPOM-nya ternyata terdaftar. Senanglah hati hamba. 
Di bulan kedua akhirnya gue pake pagi dan malam, dan itu 'wuuussshhhh' hahaha.


3. Essence
Foto: Dokumen Pribadi

Essence-nya gue pake produk dari COSRX - Advanced Snail 96 Mucin Power Essence. Gak tau, sih, ini seberapa ngaruh ke muka gue, cuma, ya udah lah buat bikin muka gak kering aja dan klaimnya bisa mengurangi pertumbuhan jerawat. So far emang iya terbukti, sih. Udah gak pernah tumbuh jerawat di sekitaran dagu, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki.
Pernah pake Safi Gold Water Essence itu bagus juga ke muka apalagi kalo pas bangun tidur tau-tau ada di jembatan Ampera.


4. Moisturizer
Foto: Dokumen Pribadi

OIL-FREE Ultra Moisturizing Lotion. Gue suka produknya COSRX karena ringan aja gitu dipakenya, gak beban ke muka apalagi beban keluarga.


5. Sunscreen
Sisca Kohl ketawa ngeliat ini :(
Foto: Dokumen Pribadi

Water Drop Sunscreen-nya Innisfree gak bikin muka kusam dan beda pendapat. Cuma jatohnya oily banget di muka gue. Tapi bagus, gue suka, tapi mau nyoba yang lain. Ini baru semingguan pake  Lacoco. Not bad, tapi kalo ini habis kayakknya bakalan balik lagi ke Innisfree.

Foto: Dokumen Pribadi

Kalau yang dua tadi cocok dipake pas aktivitas di luar rumah, seperti bekerja atau menanam jagung di kebun kita, berasa aman aja gitu meski matahari lagi galak-galaknya. Tapi, kalo diem di rumah dan gak ada rencana keluar atau rencana membangun Indonesia yang lebih baik, agak sayang pake sunscreen yang tadi, hehe, gue cukup pake Skin Aqua aja. Teksturnya hampir sama dengan Lacoco tapi beda di harga. Uhuk.
Foto: Dokumen Pribadi



6. Sleeping Mask
Foto: Dokumen Pribadi

Gue kan gak doyan semangka, ya. Tapi pake sleeping mask-nya Lacoco ini loh, rasa semangka. Plek banget ke muka tuh wangi-wangi semangka. Adem-ademnya juga berasa kayak lagi makan semangka. Padahal gue gak doyan semangka.
Ini adem dan gue suka. Tapi gue gak suka semangka. Tapi sleeping mask ini adem, ada dingin-dinginnya gitu kayak semangka. 
Lembut, sih, ini. Pas bangun tidur apalagi, cerah banget ke muka. Tapi, gue gak doyan semangka.


7. Masker
Foto: Dokumen Pribadi

Super Volcanic Pore Clay Mask. Udah paling bener beli yang sachet gini karena makenya paling cuma sebulan sekali, dan maskeran itu rutinitas yang sebenernya paling males dilakuin. Kalo disuruh milih antara maskeran 2x seminggu atau jadi member Jkt48, gue milih ngopi bareng keluarga Halilintar.


8. Acne Spot Cream
Foto: Dokumen Pribadi

Innisfree Bija Cica Balm EX. Seperti ritual sakral aja, sih, begitu mau tumbuh jerawat atau pas di jerawatnya langsung diolesin. Suka aja karena gak menimbulkan rasa sunyi rasa rindu pada dirimu, menyatu di dalam kebbisuan malam ini nyeri dan cenat-cenut.


Jarum Pentul dan Hal-Hal Kecil yang Membanggakan

Kayak random aja, sih, gue tiba-tiba pengen ngeluarin unek-unek ini, astaga. Kenapa cewek-cewek sering banget beli jarum pentul sesering kayak lo bayar iuran BPJS. Hampir tiap bulan.

Pernah ada temen dan dia bilang, "Gue beli jarum pentul belum ada sebulan udah habis aja." Ini asli gue bingung ngeresponsnya, yang gue pikirin itu jarum pentul dipake buat kerudungan apa dijadiin lauk dimakan sama nasi, sih? Dan itu tuh kayaknya bukan cuma temen gue doang yang begitu.

Ya, aneh aja soalnya seumur-umur gue cuma pernah sekali beli jarum pentul dan itu tuh kayak udah 3 tahun yang lalu. Selama itu gue cuma baru pake 2 biji. Itu pun karena diminta sama temen. Aslinya gue baru ngabisin satu dan masih gue pake, masih mulus. Yang ada gue malah bingung gimana caranya ngabisin jarum pentul se-box ini? Apa gue bikin giveaway aja? Caranya DM ke Instagram yang mau dapetin jarum pentul 5 biji, nanti gue kirim, free ongkir khusus pulau Jawa. Wkwkwk kek yang gabut banget gue.

Semacam prestasi yang bisa gue banggain, sih, jatohnya. Kayak yang gue jagain barang sekecil ini aja bisa apalagi jagain Malika, kedelai hitam yang saya besarkan sepenuh hati seperti anak sendiri.

Ngomong-ngomong soal prestasi, kayaknya gue punya segudang prestasi selain rekor pakai jarum pentul terlama, yaitu bisa masak nasi pake perasaan. Kebanyakan orang masak nasi nuangin airnya pake takaran atau ngukur pake ruas jari, kalo gue enggak, ya, pake feeling aja gitu. Tapi, asli hasilnya beneran bagus, gak lembek dan gak keras.

Buka tutup galon pake pulpen juga gue bisa, dan demi apa gue bangga banget. Kalo disebutin satu per satu prestasi gue dalam hal-hal kecil kayaknya banyak banget, deh.

Coba bayangin, gue tuh gak pernah banget nonton tv dengan sengaja, cuma sepintas-pintas gitu tapi sampe bisa hafal mars Perindo. Itu tuh rasanya kayak gue pengen standing applause buat diri sendiri. Hahaha.

Emang ya gak ada alasan untuk pesimistis sama hidup. Banyak hal-hal kecil yang bisa kita banggain ketimbang terus mengeluh terhadap mimpi besar yang gak pernah tersentuh. Menerima apa pun keadaan dan keberadaan kita dengan rasa tenang dan bangga adalah contoh ideal kehidupan. Uhuk.


Saturday, September 4, 2021

Siswa Kelas 6 Belum Bisa Membaca, Salah Siapa?

Ceritanya di WhatsApp gue posting video lagi ngajarin anak kelas 6 belajar membaca. Dari awal sebenernya gue ragu mau di-posting atau nggak, ya? karena taruhannya adalah nama baik sekolah dan guru-guru tentunya. Perang batin gitu karena orang-orang pasti mikirnya langsung menyudutkan satu pihak. Hahaha. Tapi, persetan lah nama baik, tujuan gue posting biar mata kita semua terbuka terhadap kondisi dunia pendidikan di Indonesia, khususnya untuk kelas ekonomi menengah ke bawah. Masalah anak yang belum bisa baca ini bukan hal yang tabu buat gue. Hampir setiap tahun selalu kedapatan anak yang belum dan bahkan gak bisa baca meski sudah naik ke kelas enam. Bahkan nanti sampai ke SMP selalu ada desas-desus yang nyampe ke kuping gue kalo si A belum bisa baca, ditanya oleh guru SMP-nya alumni SD mana, siapa guru kelas 6-nya? LAH GUE.

Paling enak emang nyalahin guru. Guru SMA nyalahin guru SMP, guru SMP nyalahin guru SD, guru SD nyalahin guru TK, PAUD, BIMBA, dsb. Ujungnya nyalahin siapa? Ya, keluarga. Peran orang tualah yang bertanggung jawab atas pendidikan anak.
Orang tua gak terima katanya disekolahin biar pinter diajar gurunya, kenapa nyuruh orang tua ngajarin dan bertanggung jawab. Wkwkwk. Gitu aja terus sampe tukang bubur naik haji. Saling menyalahkan.

Ya, kalo gitu siapa dong yang salah?
Guru? Orang tua? Siswanya sendiri? Kurikulum? Lingkungan? Ekonomi? Keluarga? Tingkat pendidikan orang tua? Idpoleksosbudhankam? NKCTHI?



Bener aja, kan, gara-gara postingan itu, banyak banget replies masuk. Udah gue prediksi, sih, sebelumnya. Pasti temen-temen gue yang notabene sudah mempunyai anak usia sekolah dasar ngerasa aneh liat murid gue ada yang belum bisa baca dan (((kelas enam))) pula. Dari sekian chat yang masuk di antaranya:
"Kok bisa?"
"Belum bisa baca kenapa naik kelas sebelumnya?"
"Waktu kelas sebelumnya ngapain aja?"
"Sebelum ada Covid-19 berarti belum bisa baca dong?
"Berarti bukan karena alasan sekolah daring, kan?"
"Astaghfirullah, kelas 6 belum bisa baca."

Sama sekali gue gak merasa terpojok, kok, santai. Karena apa yang orang-orang pikirkan (kadang) tidak seperti realita di lapangan. Gue juga pertama kali ngajar tahun 2009 kaget ketika tau ada anak kelas tinggi yang belum bisa baca. Tapi, lama kelamaan melihat fakta di lapangan ya, jadi paham. Permasalahannya sangat kompleks, gak bisa hanya menyalahkan satu pihak, entah guru, orang tua, atau siswanya.

Masalah siswa yang belum bisa membaca ini termasuk gangguan psikologis terhadap transfer belajar, dan itu sangat banyak faktor yang mempengaruhi, di antaranya;
• ketidakberfungsian belajar (learning disfunction) yang disebabkan oleh tidak berfungsinya pengolahan dalam otak. Gangguan neurologis dan hubungan proses fungsi mental dan perilaku tertentu;
• lambat dalam belajar (slow learner) di mana siswa tersebut memerlukan waktu yang lebih lama dari siswa lain dibandingakan dengan temannya yang memiliki intelektual sama;
• lingkungan belajar, meliputi aspek keluarga, ekonomi, budaya, dan sosioteknologi.

Dan poin-poin itu semua sangat relate dengan kasus yang sedang gue bahas ini. Kondisi di lapangan memang seperti itu. Pola asuh orang tua kebanyakan (dalam hal ini di kampung tempat gue mengajar) adalah leave alone (membiarkan), orang tua tidak turut campur terhadap keinginan belajar anak, tidak pernah memberikan arahan, semua keputusan diserahkan pada anak, masa bodoh, tanpa pantauan, tanpa interaksi yang dekat antara anak dan orang tua. Kalo kata bahasa Jawa Serangnya 'nyeclekaken anak doang ning sekolahan kuh' semuanya diserahkan ke guru, baik mendidik maupun mengajar. Nah, ini yang salah persepsinya. Cuma, ya, balik lagi, pola asuh keluarga di rumah pun refleksi dari kondisi ekonomi dan pendidikan orang tuanya. Faktor ekonomi itu wujud investasi dalam pendidikan. Sekecil apapun pengorbanan untuk kepentingan pendidikan tidak lepas dari unsur pembiayaan. Siklus ini tidak ada ujungnya. Muter-muter bae wis, garan ya mekonon. Wkwkwk.

Biar imbang, faktor budaya yang salah satunya meliputi budaya belajar di sekolah pun harus dibahas, ya. Dalam hal ini guru yang mengajar. Gue gak boleh salah ngomong, nih. Uhuk.

Hmm ...

Jadi gini ...

Hmm ...

Para bunda dan mamah muda yang punya putri dan putra, dalam kapasitasnya untuk memahami kesulitan belajar siswa (terutama poin pertama dan kedua), perlu diketahui bahwa peran guru adalah mengidentifikasi, memecahkan masalah, dan merekomendasikan hasil diagnosis terbatas kepada guru BP, psikolog, psikiater, atau fisioterapis jika perlu. Jika perlu, loh, Bun. Poin pertama dan kedua ya khususnya, yakni siswa yang mengalami learning disfunction dan slow learner. Kenapa gak gurunya aja kalau ada siswa yang berkebutuhan khusus? Gini, loh, Bun, guru itu gak hanya pegang satu siswa dalam satu kelas, kalau kita hanya fokus pada siswa-siswa slow learner, apa kabar dengan siswa yang lain?

Tapi, ah, banyak tapinya. Wkwkwk. Namanya sekolah di kampung, ya kali ada siswa yang mau silaturahmi ke fisioterapis, jauh panggang dari api. Huhu.

Intinya siswa-siswa yang kasusnya seperti di postingan gue itu butuh penanganan khusus, diajar oleh guru khusus yang mempunyai kemampuan mengajar inklusif, di luar guru kelas sekolah reguler. Terlebih jika anak tersebut misalnya terdiagnosa mengalami sindrom kekacauan belajar (disleksia, disgrafia, dan diskalkulia) baiknya disekolahkan di sekolah inklusi atau sekolah luar biasa. Jika dipaksakan belajar di sekolah umum output-nya gak akan maksimal. Akibatnya, ya, seperti yang kita lihat, mereka tertinggal jauh dengan teman-teman sekelasnya yang lain.

Menjawab pertanyaan, "Kok bisa naik kelas, kan, gak bisa baca?" Guru itu selalu berdiri di ruang tengah bernama dilema. Kanan-kiri terbentur antara hati nurani dan aturan pemerintah. Semoga bisa menyimpulkan sendiri maksudnya apa. Rrrrrrr...

Sunday, August 8, 2021

Beruntung Hidup Sezaman dengan Messi

 "Dalam luasnya antariksa dan panjangnya waktu, bahagia rasanya bisa menempati planet dan zaman yang sama dengan Lionel Messi."

Kutipan tersebut -dengan sedikit mengubah kalimat pembuka sebuah buku karya Carl Sagan- adalah gambaran umum perasaan fans  FC Barcelona di seluruh dunia saat ini, termasuk saya. 

Sumber Foto: Google

Beberapa hari terakhir berita kepergian Messi dari Barcelona sedikit mengusik ketenangan saya. Momen yang seharusnya tidak pernah terjadi. Bahkan menurut kepercayaan kami dan dengan keyakinan penuh Messi akan dan mungkin bisa menghabiskan karirnya di Barcelona hingga pensiun. Memang benar jika tak ada yang abadi, nanti ada masanya dunia tidak bisa lagi menyaksikan kehebatan Messi di lapangan hijau atau hiruk-pikuk komparasi Messi dengan Ronaldo di media sosial. Namun, tidak dengan cara seperti ini, meski secara hitam di atas putih, habis dan/atau putus kontrak adalah hal yang wajar terjadi pada setiap pemain sepak bola. Messi pergi dengan status bebas transfer karena tenggat kontraknya habis per 30 Juni kemarin. Tidak ada yang salah. Yang salah mungkin perasaan kami para fans-nya. Hahaha.

Di balik kacaunya keuangan Barca dan ketatnya peraturan La Liga menyangkut gaji dan kontrak pemain, biarlah itu menjadi urusan internal petinggi-petinggi klub. Saya hanya akan melihat kepergian Messi dari sisi yang lebih humanis.

Saya mulai mencintai sepak bola sejak gelaran Piala Dunia 1998 yang dihelat di Perancis. Saat itu saya masih kelas 5 SD. Namun, cinta ini terpaksa harus saya pendam karena saya seorang wanita, tak elok rasanya menyukai permainan yang didominasi kaum Adam saat itu. Hingga di 2010 saya melihat sosok yang mencuri perhatian di Piala Dunia, siapa lagi kalau bukan Lionel Andres Messi. Pemain berkebangsaan Argentina ini mengingatkan saya pada aktor pemeran Pedro dalam telenovela Amigos, yaitu Martin Ricca. Wkwkwk. Setiap melihat Messi, saya terbayang dengan Pedro-nya Amigos di mana telenovela tersebut punya andil banyak mewarnai masa anak-anak dan remaja saya.

Sumber Foto: Google

Kembali pada ke-patah-hatian kami para Cules -sebutan untuk fans Barcelona, menempatkan 'keberuntungan' sebagai antidot rasa kecewa. Bumi merupakan rumah beratapkan langit luas, sejak terbentuknya empat miliar tahun yang lalu akibat kondensasi gas dan debu antarbintang-bintang, bumi terus berevolusi. Setelahnya, bumi merupakan tempat yang unik, tempat di mana manusia pertama diturunkan dan memulai perjalanan panjang terbentuknya kehidupan hingga sekarang. Bumi, sejak dimulainya kehidupan telah banyak melahirkan manusia dan zamannya di waktu yang  relatif singkat. Peradaban dan penguasa silih berganti. Membayangkan zaman kenabian hingga kekaisaran Romawi kuno -mungkin hingga sekarang, timbul banyak pertanyaan dalam benak saya, sudah setua itu kah bumi dan nenek moyang kita? Berapa banyak manusia zaman dulu hingga sekarang yang pernah hidup di bumi? Dengan bentangan waktu yang begitu lama -ini ketika saya membayangakan kehidupan di tahun-tahun Sebelum Masehi dan setelahnya, saya merasa beruntung hidup sezaman dengan Messi, manusia yang dengan bakat alaminya membuat semua pencinta sepak bola kagum kepada La Pulga (Si Kutu), kecuali Madridista.

Tuhan memilih bumi sebagai satu-satunya benda langit yang dihuni oleh milyaran manusia, meski kita juga selalu senang jika membayangkan ada kehidupan di planet lain. Messi sering dianggap sebagai Alien karena kemampuannya di atas rata-rata manusia pada umumnya. Solo run-nya saat melewati hadangan tujuh pemain Getafe atau saat berhasil 'mengolongi' Jerome Boateng hingga terjatuh ketika laga melawan Bayern Munchen di Camp Nou. Itu semua menjadi bukti jeniusnya Messi mengobrak-abrik jantung pertahanan lawan. Setelah kejadian tersebut Bayern Munchen terdepak dari putaran UCL selanjutnya. Alih-alih Manuel Neuer ingin menunjukkan 'siapa bosnya' -sisa-sisa kepongahan ketika Jerman melawan Argentina di putaran final Piala Dunia 2014 setahun sebelumnya, kini yang terjadi sebalikanya. Tagar 'whoistheboss' dengan meme mengolok Neuer sempat ramai di dunia per-twitter-an saat itu. Ahahaha. 

Saat menulis ini, saya sambil memantau  press conference Messi untuk yang terakhir kalinya. Dari sekian alasan yang bisa membuat saya menangis, sepak bola adalah salah satunya. Para penikmat sepak bola pasti mengalami hal yang sama ketika tim kesayangan kita kalah di laga krusial atau menang di menit-menit akhir, termasuk drama di luar lapangan seperti jual-beli pemain, beberapa tangis mengiringi tiap momen karena sepak bola terlalu dalam melibatkan emosi  para penonton dan memaksa kita berdiri di antara dua jurang, kemenangan dan kegagalan. Sebuah gambaran realisme nasib yang tersaji tidak hanya 90 menit di atas lapangan, namun ia merasuki pojok tersempit kehidupan.

Messi yang jenius maupun kita semua adalah spesies yang muncul sebentar lalu musnah. Kita memahami dunia, tempat di mana segala sesuatunya bisa berubah namun tetap sesuai dengan pola yang teratur. Tentang perpisahan, saya teringat salah satu lagu Mansyur S, kira-kira begini liriknya; bukan perpisahan kutangisi, hanya pertemuan kusesali. Mungkin jika lagu dangdut ini sampai ke telinga Messi pasti akan diputar-ulang selama beberapa hari ini. Selama itu pula para fans berusaha membiasakan diri melihat pemandangan Camp Nou tanpa Messi.

Pada akhirnya, kekaguman dan keterpukauan akan Messi ketika berseragam FC Barcelona hanya akan menjadi nostalgia yang tak putus-putus. 

Gracias, Capitan.