Wednesday, September 28, 2016

Malaysia Asing dengan Tongsis dan DSLR


Sedari baru turun dari taksi, gw udah sibuk nyiapin segala peralatan buat narsis. Mulai dari smartphone yang udah terpasang manis di tongsis, kamera DSLR ngegantung di leher, dan sebuah mini tripod mojok manja di dalem tas slempang. Nggak ada yang salah sih dengan itu semua. Mengabadikan momen sekaligus narsis di tempat yang sekeren itu, sayang banget kalo dilewatkan begitu saja. 

Di kita, bukan hal yang aneh kalo pergi ke tempat yang banyak spot foto bagus, secara bersamaan di sana pasti kita ngeliat banyak orang ‘nenteng’ DSLR, Go-Pro, Mirrorless, dsb. Tongsis pun gak kalah menjamur di setiap sudut. Di Kota Tua Jakarta misalnya, pemandangan di sekitaran Museum Fatahillah udah kayak lagi ngeliat pertandingan cabang olahraga anggar yang diadakan secara massal. Tongsis di mana-mana. Jangankan di tempat yang emang tujuan wisata, foto-foto di depan komplek perumahan aja, yang ada patung-patung kudanya, gw liat abege-abege yang seusia ‘dedek-dedek emesh’ itu tentengannya bukan cuma hp+tongsis, tapi DSLR dan semacamnya. Salut. Waktu gw seumuran segitu, buat beli pulsa yang 10ribu aja harus ngorbanin duit jajan yang buat hari Minggu, boro-boro DSLR. Lagian belum ada juga sih (jarang yang make) begituan, masih pakenya tustel. Ahelah tustel. Denger namanya aja udah kayak nama gorengan yang isinya kentang, wortel sama bihun. Itu pasteeell :V

Jaman sekarang sepertinya benda-benda itu jauh lebih krusial keberadaannya, selain pensil alis. Tapi bagus sih, itu tandanya tingkat perekonomian negara Indonesia meningkat, ditandai dengan daya beli masyarakat yang signifikan. DSLR, smartphone, dkk. sudah bukan termasuk barang sekunder (atau tersier bagi sebagian orang), tapi kebutuhan dasar.

Kembali lagi. Dengan pedenya gw narsis pake peralatan yang super rempong tadi, ya pegang tongsis, ya ngeleherin kamera, ya ngantongin mini tripod. Ternyata beberapa menit setelah itu dikasih ‘ngeh’ kalo di sekitar gw, di tempat yang sekeren itu, gak ada satu, dua, atau tiga pun pengunjung yang seheboh gw. Clumsiest moment. Wkwkwk Akhirnya gw iseng nanya ke si kawan, “Eh, lu perhatiin deh. Perasaan dari tadi gak ada orang yang seheboh kita, yah? Lu liat gak sih pengunjung yang pegang tongsis? Nenteng DSLR? Atau yang lebih niat lagi, setting self-timer pake mini tripod kayak kita?” Wakakakak kita cuma bisa ketawa ngeliat situasi yang menurut kita janggal itu. Apakah sindrom ‘kekinian’ belum merasuk ke negeri jiran ini? Entahlah. Tapi saat itu kita ngerasa jadi pusat perhatian pengunjung di sana. Terlebih gegara Si Mini Tripod yang dipasangin kamera ini. Jadi ceritanya, gimana caranya biar kita bertiga ada dalam satu frame, tanpa meminta bantuan orang lain buat motoin kita. Alhasil, gw setting self-timer, rela lari-lari kecil setelah atur posisi di mana gw bakal berdiri setelah menekan tombol shutter dengan hitungan waktu mundur 10 detik. Dan itu (sepertinya) jadi pemandangan yang asing buat mereka-para pengunjung.



Gw sempet mikir sejenak. Seandainya tempat seketje ini ada di Indonesia, ehh di Serang aja deh di Serang. Beban moral amat bawa-bawa Indonesia. Hehe Seandainya tempat seperti Bangunan Merah, Colmar Tropicale, dan i-city ini ada di Serang, mungkin udah diserbu sama pasukan ‘dedek-dedek emesh’ dengan perlengkapan narsis yang kekinian. Maksud gw, bukannya di sana (Malaysia) gak ada yang narsis. Ada kok. Ada yang pake tongsis? Ada. DSLR? Ada. Cuma jumlahnya gak lebih banyak dari jumlah gigi geraham orang dewasa. Kontras sekali kalo yang gw liat dengan pemandangan di Kota Tua Jakarta atau di depan komplek perumahan yang banyak patung kudanya itu. Di sana, segala unsur kekinian (kayaknya) berjalan santai atau bahkan lambat. Mungkin dalam setahun atau dua tahun ke depan, barulah kondisi semacam di kita ini baru muncul di sana. Kayaknya loh yaa. Asumsi gw kan berdasar apa yang pernah gw liat. Gak fair-lah kalo cuma bandingin dengan Kota Tua Jakarta. Ya, gak etis juga lah kalo gw sebutin Bogor, Bandung, Bali, Jogja yang ternyata punya kontur yang sama dengan wilayah ibukota dalam hal kekinian. Kesannya gw pamer. Padahal iya. Ehh, jangan serius nanggepinnya. Di Prambanan, Tanah Lot, Taman Bunga, Tebing Keraton, udah gak asing dengan pengunjungnya yang ngeluarin berbagai macam kamera (baik amatir maupun profesional).

Well, dari uraian panjang-panjang di atas (karena panjang-lebar sudah terlalu mainstream), gw berkesimpulan kalo untuk segala unsur kekinian, kita selangkah lebih duluan. Kenapa gw gak bilang selangkah lebih maju? Ya, gw sendiri masih ragu apakah ini suatu ‘kemajuan’ atau sebaliknya? Kalo gw bilang 'selangkah lebih duluan' kan ambigu. Bisa jadi ‘lebih duluan maju’ atau ‘lebih duluan mundur’. Walopun gw tau pasti kita lebih suka meng-Aamiin-i kalimat yang pertama. Jadi, SIAPKAN TONGSIS! TETAP NARSIS!

Tuesday, September 13, 2016

Novel Sore Ini







Sore ini gw ngerasa ada yang kurang, kayak ada sesuatu yang belum ditunaikan. Tapi entah apa itu.
Syukur deh, seteguk kopi berhasil ngingetin gw satu hal. Baru inget! Gw kan punya buku yang tadi siang baru dibeli. Ternyata itu yang ngeganjel dari tadi. Gw mau lahap bukunya. Sebuah novel remaja. Sebenernya gw random aja beli buku itu. Soalnya pikiran alam bawah sadar gw udah haus pengen baca buku baru. Kebetulan dua buku yang gw pesen online belum juga dateng, sementara hasrat ingin membaca semakin kuat. Alhasil sewaktu tadi ke Indomaret buat beli pembalut, dkk. Mata gw ngelirik ke sebuah display khusus buku yang ada di pojokan. Gw liatin satu per satu judul bukunya. Kebanyakan sih novel-novel remaja gitu. “Ahelah... Serial FTV semua,” kata gw dalam hati. Tapi gak apa-apa deh, buat ganjel  sembari nunggu dua buku yang tadi itu sampe. Karena gw pikir semua novel remaja itu isi ceritanya hampir sama, jadi gw ambil buku bukan berdasarkan judulnya yang menarik. Tapi berdasarkan harganya yang paling murah. 
Dengan ditemani kopi yang tinggal setengah gelas. Seperti sudah menjadi kebiasaan kalo punya buku baru, gw bolak-balik dulu, gw raba cover-nya depan-belakang, sedikit dilengkungin kemudian tahan dan lepas dengan cepat lembaran kertasnya sambil ciumi aroma yang dihasilkannya. Di situlah kenikmatan membaca buku dalam bentuk fisik. Walopun bagi sebagian orang yang punya hobi baca, sekarang gak perlu repot bawa dan pegang buku. Cukup mengandalkan smartphone dan membaca buku dalam bentuk digital. Gak perlu jadi perdebatan, itu masalah selera aja.

Biar lebih tau karakter si penulisnya, gw buka lembar pertama dan terakhirnya terlebih dahulu. Ucapan terima kasih si penulis. Kok mirip ucapan terima kasih di lembar skripsi itu yah gw pikir. Gaya bahasanya khas gaya-gaya bahasa mahasiswa tingkat akhir. Masa transisi di penghujung masa remaja menjelang awal dewasa. Gw pernah ngalamin.  Gak ada yang nanyaaaaaaa...
Berikutnya baca lembar paling terakhir sebelum cover belakang. Biografi si penulisnya. Bener dugaan gw, doi mahasiswa tingkat akhir. Mendekati kalimat terakhir perkenalannya. Di situ tertulis bahwa doi adalah seorang pecinta (all about) Korea. WuuuzzzZ... Iman gw mulai goyah.

Bukan apa-apa, cuma berdasarkan pengamatan gw yang sok tau ini, kalo ngeliat temen-temen yang punya ketertarikan dengan hal-hal yang berbau itu, gw kayak udah bisa baca sedikit-banyak sifat dan karakteristiknya mempunyai beberapa kemiripan. Entah. Mind set yang terbentuk dibenak gw seperti itu. Melankolis, penuh perasaan, sisi femininnya lebih dominan. Bukan jelek, bukan. Buseett ..ntar gw ditimpukin para penggemarnya lagi. Justru karena gw berada di sisi yang bersebrangan dengan itu, makanya setelah membaca kalimat terakhirnya batin gw langsung bilang kalo novel ini bagus. Tapi bukan gw banget. Sama kayak kesukaan baca buku dalam bentuk fisik atau digital, tidak perlu ada perdebatan. Ini cuma masalah selera. *salim dulu atuh*

Kata kiasan yang sering terdengar; don’t judge a book by its cover kayaknya pas banget. Dengan kopi yang tinggal seperdelapan gelas, gw paksa lanjutin baca dan coba nikmatin bukunya. Beberapa alur ceritanya bisa terbaca. Mulai bosan. Gw abisin sisa kopi itu. Berhenti di halaman enambelas. Sementara udah dulu. Tapi gw bakal paksain tetep baca dan habisin buku ini. Gimana pun, buku jenis apapun, dan siapa pun penulisnya, buku itu pasti mempunyai manfaat. Minimal bisa menambah kosakata. Ini sama halnya saat manusia sedang merasa di titik terendah, seolah merasa keberadaannya tak diinginkan oleh bumi dan seisinya. Dia lupa satu hal, bahwa karbon dioksida yang dikeluarkan yang menurutnya tidak berguna, justru sangat diperlukan oleh tumbuhan hijau untuk proses fotosintesis. Di situlah keberlangsungan hidup tetap terjaga. Begitu juga dengan buku; The more you read. The more things you know...  ~Dr. Seuss

*Yang bikin tulisan ini (anggap saja itu gw), bukan seorang yang hobi baca. Namun, suatu ketika ia jatuh cinta pada sebuah artikel yang dibacanya di jejaring sosial. Menurutnya tulisan tersebut sangatlah indah. Ia yang notabene seorang penggemar sepakbola kagum bagaimana bisa sebuah artikel sepakbola dikemas cantik oleh diksi berbalut sastra. Jenius. Sekarang ia mulai mengagumi sosok si penulis dan pengesai tersebut. Dan dari situlah motivasi untuk membiasakan membaca pun muncul.

I-City Wisata Bertema Digital Light di Shah Alam Malaysia


Referensi untuk tempat wisata yang satu ini sangat sedikit. Sewaktu kami menyusun itinerary pun dengan informasi yang sangat terbatas. Mungkin karena I-City belum banyak diketahui keberadaannya oleh khalayak ramai.  Tapi Alhamdulillah, kami bisa sampai di lokasi tanpa tersesat terlebih dahulu. Dan di tulisan ini juga tidak banyak menggali beberapa informasi penting dari tempat wisata yang bertema digital light ini. Jadi sebaiknya jangan terlalu menaruh ekspektasi berlebih terhadap tulisan ini.

Kaku banget sih. Hahaha

Hari itu kita berasa lagi sprint, gak bisa nafas sebelum nyampe garis finish. Semua harus berjalan tepat waktu sesuai dengan 'skejul', berasa diburu-buru, dikejar waktu, dan butuh konsentrasi tinggi. Gimana enggak, dari destinasi yang satu ke destinasi berikutnya ditempuh dengan jarak yang sangat jauh dan waktu yang lama. Sangat melelahkan. Seharian itu kita singgah di tiga negara bagian Malaysia (Kuala Lumpur - Melaka - Selangor). Kalo diibaratkan perjalanan antar provinsi di sini, mungkin kita semacem 'ngebolang' dari Banten - Jakarta - Jawa Barat. Ya gak, sih? Iyain aja dah biar cepet. 

Shah Alam, Selangor jadi tujuan terakhir hari itu. Agak keluar dari itinerary. Harusnya ke Shah Alam itu pagi hari jam 10 setelah pulang dari Melaka. Tapi perjalanan ke-dan-dari Melaka itu ternyata cukup jauh jadi waktunya molor. Alhasil pergi ke i-city malem banget, jam 9 baru cabut dari hotel. Pergi ke tempat ini baiknya sih kita dapet momen di siang dan malam hari. Jadi jam 5-an nyampe situ tuh pas banget.

Sampe di i-city tepat jam 12 malem, tapi ternyata masih rame pengunjung karena emang yang ditonjolkan dari tempat wisata ini adalah digital light-nya yang mengandalkan langit gelap supaya cahaya dari lampu-lampu itu terlihat maksimal. Di tempat ini sebenernya banyak wahana lain yang tentunya bakal dipungut tiket masuk. Sekali lagi, karena kita ke sini malem banget jadi wahana itu udah pada tutup. Kita hanya menikmati taman di luarnya aja yang banyak lampu-lampu gitu. Keren banget lah. Untuk outdoor-nya ini sendiri tutup sekitar pukul 1 dini hari.

Lihat aja dulu beberapa foto kita yang gak seberapa ini :D






Balik dari i-city jam 1 dini hari. Bingung mau pulang naik apa ke hotel? Jalanan udah sepi. Commuter line pasti udah tutup. Taksi mehong. Untungnya gw inget ada aplikasi GoJek dan Grab di hp yang biasa gw pake kalo lagi ke Jakarta. Kenapa gw gak coba aja pake aplikasi ini. GoJek gak mungkin (ya iyalah), cuma ada di region Indonesia. Seinget gw (kalo gak salah) Grab ini produk Malaysia (correct me if I’m wrong), makanya pasti bisa kalo dipake di sini. Alhamdulillah ternyata bener emang bisa. Langsung deh booking dan gak lama kemudian mobil pun dateng. Aman deh nyampe hotel. Tarifnya RM 42, tapi karena driver-nya ganteng dan wangi *eeh jadi digenapin aja RM 50. Hadeuuhh... kelakuan --'


Cukup sekian. Bener-bener gak ngasih info apapun, kan? Kecuali pamer foto? Hahahaha 
Nggak lah! Noh gw kasih rutenya biar ada manfaatnya dikit ini tulisan :D

 Rute dari Bukit Bintang ke I-City:


-St. Bukit Bintang ke St. KL Sentral (naik monorail RM 2.50)

-St. KL Sentral ke St. Padang Jawa (naik KTM RM 4) Fyi, St. Padang Jawa satu stesen lebih awal dari St. Shah Alam. Jadi awas kelewat!
-St. Padang Jawa ke i-city (naik taksi RM 10)

Rute pulang:
Order GrabCar, i-city ke Bukit Bintang RM 42