Monday, March 5, 2018

Traveling Bukan Melulu Soal Uang

pixabay

Mungkin predikat gue sebagai "guru yang suka jalan-jalan" itu sudah melekat sekali di benak followers gue di beberapa akun media sosial. Sebetulnya sah saja. Namun, lain ladang lain ilalang, semua pikiran manusia tidak sama. Ada yang menganggapnya itu sebuah hal yang positif, namun ada juga yang menganggap sebaliknya. Ketika apa yang gue lakukan menjadi motivasi bagi sebagian orang untuk melakukan hal yang sama seperti gue, itu bagus. Namun, ketika ada sebagian orang yang berpikir sebaliknya, menganggap apa yang gue lakukan itu tidak logis, sontak mereka melakukan tindakan ofensif yang sudah masuk ke ranah paling privasi, mempermasalahkan status pekerjaan.

Profesi gue sebagai "guru honor" yang seperti kalian ketahui baik dari media massa atau dari kerabat, berapa, sih, gaji guru honor? Tak manusiawi bukan? Boro-boro untuk mencukupi kebutuhan tersier macam traveling, untuk beli bensin agar motor tetap bisa bernyawa aja udah syukur. Kasarnya seperti itu. Duit dari mana traveling kalau bukan dari hasil miara tuyul, jual ginjal, gadein sawah orang tua,  atau jadi simpanan Pak Dendy misalnya. Eh, kok gue geli sendiri, ya, ngebayanginnya. Hahaha. Astaghfirullah.

Sebetulnya tidak elok, ya, ngomongin gaji di hadapan siapa pun. Apalagi disebar ke publik.  Sayangnya, ada segelintir warganet yang kepo dengan ketidaklogisan tersebut. Guru honor kerjanya jalan-jalan terus, guru honor traveling-nya ke luar negeri, bla... bla... bla.... Sial betul, ya, gue. Status guru honor jadi kambing hitam.

Jadi, gini, ya...
Hmm...

Gue selalu percaya dan meyakini bahwa Tuhan itu kasih kita rejeki tidak hanya dari satu pintu. Ketika rejeki dari pintu yang satu tidak terbuka lebar, (gue masih percaya) Tuhan kasih buka pintu yang lain. Tugas gue hanya mengimani dan menjemputnya. Masih kurang logis? Kita diberi akal, skill, dan atau mungkin bakat. Ketika lu menerima keterbatasan sebagai -sudah- takdir hidup, ya, selamanya lu akan dalam keterbatasan. Tapi, ketika lu menggali potensi apa yang lu punya, Tuhan kasih satu lagi pintu rejeki dibiarkannya terbuka. Ketika melihat status gue sebagai guru honor adalah satu-satunya pintu gue menerima rejeki dalam bentuk materi yang tidak seberapa itu, jelas salah. Kita mengabaikan kemurahan Tuhan yang lain seperti: waktu, kesempatan, kesehatan, pertemanan yang sehat, lingkungan yang mendukung, jelas nikmat itu tidak kalah hebatnya dengan rejeki berupa materi.

Sekarang gue coba kaitkan dengan judul tulisan ini, bahwa "traveling bukan melulu soal uang". Memang, beli tiket pesawat, kereta api, atau voucher hotel itu pakai uang. Itu awal dari langkah kita pergi traveling. Fulus men fulus. Tapi, tau nggak, sih bahwa memiliki uang bukan satu-satunya faktor penentu yang melenggangkan langkah kita agar bisa traveling?

Ya, gue bilang bukan satu-satunya faktor karena ada komponen lain yang juga sama pentingnya, yaitu: waktu, kesempatan, kesehatan, dan keberuntungan.  

Gue beri contoh yang paling riil. Jauh-jauh hari gue sudah merencanakan pergi ke Malaysia bersama dua orang kawan. Tiket pesawat dan voucher hotel sudah kami bayar. Sebulan menjelang keberangkatan, si kawan gue yang satu memberi kabar bahwa dia tidak jadi ikut. Alasannya, tidak diberi cuti oleh atasan. See? Secara pekerjaan, karier, kemampuan finansial, jauh lebih oke ke mana-mana daripada gue yang cuma GURU HONOR, tapi nyatanya dia gak bisa traveling. Karena faktor apa pemirsa? Ya! Mungkin Tuhan belum kasih dia "waktu dan kesempatan" yang tepat untuk dia bisa pergi traveling.

Dua bulan sebelumnya, gue berencana solo-backpacking ke Malang. Tiket kereta api dan voucher penginapan sudah beres. Tiga hari menjelang keberangkatan, gue sakit. Sakitnya lumayan sakit banget. Apasih. Jelas gue tidak akan memaksakan tetap berangkat seandainya tak kunjung sembuh sampai hari H sekali pun semuanya sudah dibayar. Alhamdulillah-nya, satu hari menjelang hari H, gue sembuh. Dan ini membuktikan, bahwa "kesehatan" juga menjadi faktor penentu kita bisa pergi traveling atau tidak.

Semalem gue watsap si kawan buat ngajak trip ke Jogja bulan depan. Namun, nampaknya tidak akan pernah terjadi. Kenapa? Masing-masing dari kami tidak memiliki "waktu" yang pas untuk pergi nge-trip bareng. Jadi, gak bisa traveling karena apa teman-teman? Tidak memiliki "waktu". Tepat! Lantas gue coba mengajak kawan gue yang satunya, secara finansial gak usah ditanya. Dari segi kesehatan? Bokapnya ahli gizi, makannya mesti empat sehat lima sempurna, yang jelas dia sehat lahir batin, jiwa dan raga. Waktu? Doi sama kayak gue, guru juga. Waktu libur jelas banyak banget. Cuma bedanya dia guru swasta, beda kasta. Wkwkwk. Astaghfirullah... Gak boleh gitu... gak boleh gitu.
Doi semanget banget pengen ikut apalagi kita pernah nge-trip bareng. Anaknya asik juga. Tapi, dia balas apa coba? Sekarang udah susah dapet SIM (Surat Izin Main) dari suaminya. Hehehe. Gak jadi lagi, kan?

Terakhir, nih, gue kasih contoh dari faktor penentu berikutnya, keberuntungan. Bisa jadi gue nggak jadi traveling ke Malaysia seandainya waktu itu gue tidak dinaungi dewi fortuna. Gimana nggak? Gue telat dateng ke bandara. Pesawat take off pukul 14.10 WIB, 14.05 WIB gue baru nyampe check in counter untuk cetak boarding pass. Jelas ditolak sama petugasnya. Emang gue mau ngejar-ngejar pesawatnya di landasan kayak film Dono zaman dulu? Gue pikir oke lah bye Malaysia, gue ketinggalan pesawat. Gak jadi traveling.
Lantas siapa yang menyangka kalau ternyata pesawat yang akan kami tumpangi itu mengalami delay? Akhirnya kami diizinkan mencetak boarding pass kemudian lari sekencang-kencangnya menuju boarding gate. Jelas di sini bahwa faktor keberuntungan membuktikan segalanya. Apa jadinya kalau pesawat tadi terbang tepat waktu? Ya, kami tidak akan pernah pergi ke sana. Balik lagi ke rumah. Bilang ke orang rumah, gak jadi piknik. Ketinggalan pesawat. Hahaha

Banyak, sih, kejadian yang membuka mata kita bahwa benar traveling itu tidak melulu soal uang. Kalau boleh gue cerita satu pengalaman lagi, nih. Boleh, ya? 

Hari Jum'at gue ke Bandung,  Sabtunya ke Jakarta, Minggu udah di Bogor. Ngapain? Jalan-jalan tentunya. Dipikir secara logis, kalau masih bawa-bawa status gue yang guru honor, apa mungkin itu terjadi? Duit dari mana? Sementara Sabtu depannya gue udah cabut ke Malaysia. Banyak kali duit aku jalan-jalan terus. Hahaha Seperti yang gue bilang, pertemanan yang sehat dan lingkungan yang mendukung juga alasan kenapa gue (kelihatannya) jalan-jalan terus. Bersyukurnya gue adalah dikelilingi oleh teman-teman (walaupun sedikit) yang apa, yah? Ah, ini susah diungkapkan. Mereka terlalu teramat sangat baik sekali. Kalimat terakhir itu sebagai upaya menjilat, sih. Hahaha Tapi serius gue punya kawan semuanya baik. MashaAllah, Allah kasih rejeki dalam bentuk lain.

Jadi, setiap komponen tadi saling berkaitan, bukan? Kalau tidak kita miliki salah satunya, bisa apa?
Jika status pekerjaan dijadikan tolok ukur seseorang boleh atau bisa traveling atau tidak, buang jauh pikiran itu mulai dari sekarang. Jagat raya ini luas sekali melebihi dari apa yang kita bayangkan. Maka jangan kerdilkan pikiran kita. Terbukalah dengan yang manis. Sudah viral driver ojek online bisa keliling tiga negara, setelahnya dengan profesi yang sama, tau-tau foto di bawah menara Eiffel. Sementara kita yang lain, pikiran mereka masih terjebak memikirkan hal-hal yang mereka anggap tidak logis.

Gue tidak sedang berusaha meluruskan dugaan mereka yang tidak sehaluan dengan gue. Gue cuma mau sedikit membuka celah untuk melakukan -kalau dalam istilah sepak bola- counter attack (serangan balik). Di mana filosofi dari serangan balik adalah "kemewahan dari mereka-mereka yang terbatas. Selalu ada jalan bagi mereka yang enggan menyerah, bagi siapa pun yang tak sudi takluk dengan cuma-cuma", Zen RS dalam bukunya yang berjudul Simulakra Sepakbola.

Saturday, January 6, 2018

Pengalaman Jalan - Jalan Naik KRL

sumber google

Bagi sebagian warga Jakarta dan sekitarnya mungkin tidak asing dengan salah satu moda transportasi massal Kereta Rel Listrik (KRL) atau yang biasa disebut Commuterline. Namun, bagi gue yang berdomisili di Banten, yang sebagian besar wilayahnya masih belum tersentuh dengan alat transportasi yang satu ini, menaiki KRL merupakan pengalaman yang seru dan menggemaskan. Rupanya gue baru melek modernisasi, ternyata salah satu kota di Indonesia sudah memiliki sistem transportasi yang menurut gue baik.

Tak kenal maka tak sayang. Supaya gue lebih mengenal alat transportasi yang satu ini, maka gue mencoba untuk berjalan-jalan menggunakan KRL dengan tujuan Serang - Bogor. Cukup mudah memang, walaupun perjalanan pertama harus dilalui dengan menggunakan kereta ekonomi terlebih dahulu untuk menuju Stasiun Rangkasbitung. Dari Stasiun Rangkasbitung ini, barulah petualangan menaiki KRL dimulai. Dengan tarif hanya Rp 8.000, gue menuju tujuan pertama, yakni Stasiun Tanah Abang (transit), sebelum nantinya akan melanjutkan perjalanan ke stasiun tujuan akhir, Stasiun Bogor yang bertarif Rp 6.000.

Sebetulnya ini bukan pengalaman kali pertama, sebelumnya pun pernah ke Tangerang dan Bogor menggunakan KRL. Bedanya, waktu itu gue pergi bersama kawan. Ketika pergi bersama kawan, tentulah gue hanya mengikuti ke mana ia pergi. Tanpa tahu cara membeli tiket, mencari rute, dan menuju jalur yang mana pun tidak gue perhatikan. Gue hanya tinggal mengikutinya dari belakang kemudian duduk manis, tahu-tahu sudah sampai tujuan. Lain halnya seperti saat ini, gue pergi sendiri, mencari tahu sendiri, cara membeli tiket, menempuh rute ke mana, masuk ke jalur yang mana, jadwal keberangkatan dan ketibaan pun gue cari tahu. Ternyata tidak sulit. Kalau mau agak susah sedikit, ya, bisa tanya infonya via akun Twitter-nya Commuterline, fast response, kok. Tapi, cara yang lebih mudah tentu tinggal men-download aplikasi KRL Access. Semua informasi ada di situ, mulai dari posisi kereta, jadwal dan rute, peta lokasi, sampai untuk mengetahui tarifnya pun ada.

Ketika turun di stasiun pun papan-papan petunjuk terpampang nyata dan jelas. Kalau belum yakin, tinggal tanya ke petugas yang seliweran di situ, pasti dibantu.

Cukup worth it lah, ya, dengan tarif yang jauh lebih murah, akses pun dipermudah. Walaupun kalau gue bandingkan perjalanan Serang - Bogor menggunakan KRL ini memakan waktu dua kali lipat lebih lama dibandingkan kalau kita naik bus (yang jauh lebih cepat). Salah satu faktornya menurut gue mungkin karena belum adanya ketersediaan KRL sampai ke wilayah Serang. Selebihnya, aku sih, YES.

Tuesday, December 26, 2017

Pengalaman Solo Traveling yang Gagal Maning


Sebelum bikin tulisan ini, terlebih dahulu gue googling beberapa istilah yang gak asing di dunia per-traveling-an. Mulai dari pengertian traveling, solo traveling, traveler, solo traveler, backpacker, solo backpacking, dan sebagainya. Dengan maksud agar mengetahui gue ini termasuk kategori yang mana. Ternyata 'njlimet'. Wes, intinya gue jalan-jalan sendirian, mulai dari beli tiket, sewa peginapan, bikin itinerary, dan sebagainya gue rencanakan seorang diri. Namun, untuk mempermudah penulisan, gue pakai istilah solo traveling backpacking aja yang agak mirip-mirip dengan pengalaman gue. Walaupun judulnya solo traveling.

Solo backpacking merupakan satu di antara beberapa wishlist gue. Sempet gagal di bulan April lalu (rencana solo backpacking ke Singapura), akhirnya bulan Desember ini bisa terwujud juga, ya, walaupun cuma ke Malang. Tidak masalah, karena ke luar negeri atau cuma ke luar kota sekali pun, pressure-nya sama saat memutuskan untuk bepergian sendirian. Rasanya campur-aduk, antara penasaran, excited, deg-degan, takut, wes pokoknya macem-macem.

Sebetulnya trip kali ini agak spekulasi, gue beli tiket kereta api waktu bulan September, untuk keberangkatan Desember. Padahal itu, ya, gambling aja. Gue pun nggak yakin di tanggal itu gue bakal dibolehin izin atau nggak sama kepala sekolah. Soalnya tanggal yang gue pilih tersebut bukan tanggal-tanggal libur semester. Justru akhir Desember itu sekolah lagi sibuk-sibuknya bakal pemeriksaan kinerja. Wew. Gue pikir yang penting udah beli tiket aja dulu, masalah diizinin atau nggak, ya, urusan nanti.

Memasuki awal Desember harusnya gue udah prepare untuk booking penginapan, tapi karena belum tau jadwal kapan sekolah gue kebagian pemeriksaan kinerja, gue tunda dulu booking-nya. Takutnya jadwal kinerja dengan jadwal keberangkatan bentrok, otomastis gue nggak bisa berangkat. Dan seandainya memang begitu (gak jadi berangkat), gue gak kecewa-kecewa amat karena belum keluar uang untuk sewa penginapan. Paling uang tiket kereta PP yang melayang masih oke lah, rapopo. Gak mau aja kejadian terulang, udah beli tiket pesawat dan penginapan, malah gak jadi pergi ke Singapura, karena alasan yang sama. Nyesek.

Seminggu lagi dari jadwal keberangkatan kereta, baru deh gue dapat pesan watsap, bahwa jadwal sekolah gue kebagian di hari terakhir sebelum libur tahun baru. Desember ujung. Wow! Senengnya bukan kepalang. Gak bentrok, dong. Segera gue selesaikan yang  namanya ngoreksi kertas ulangan, rekap nilai, nulis buku raport, laporan ini-itu. Uanjiirr! Punya sisa waktu seminggu itu bener-bener gue manfaatin buat selesein semuanya. Belum lagi kerjaan di balik layar, Desember musim nikah, editing beberapa video wedding yang belum tersentuh. Harus diselesein, biar jadi uang, uangnya bakal bekel ke Malang. Hehehe sa aja.

Dua hari menuju ke hari H, barulah gue sempetin searching penginapan dan langsung dapet. Beres.

Tiba saat yang dinanti.

Sabtu, 16 Desember 2017. Pukul sebelas siang gue cabut dari rumah menuju Stasiun Pasar Senen Jakarta. Mulai dari langkah pertama ini gue udah dibikin dag-dig-dug. Gimana, nggak, gue berangkat ke Jakarta dengan waktu mepet begini. Takut ketinggalan kereta, kan, lucu. Mana sendirian. Tapi, seru juga. Kalo misalkan sampe beneran ketinggalan kereta palingan gue cuma bisa menyalahkan diri sendiri, gak nyalahin temen. Hehehe

Bepergian sendiri itu, dibilang cemas, ya, cemas. Dibilang nggak, ya, nggak. Kalau ada yang nanya, "Takut nggak?", nggak, sih. Mungkin bukan takut, tapi lebih waspada aja. Karena ini pengalaman pertama gue solo backpacking, paling antisipasinya adalah gue gak naro uang di dalam dompet atau tas. Jadi, emang rencana ini udah mateng banget, sebelumnya gue beli, tuh, yang namanya Funn Travel, semacam tempat penyimpanan uang, passport, dan kartu identitas lainnya, bentuknya tipis buat dipake (dilingkarkan) di perut (di dalam baju). Bentuknya seperti ikat pinggang gitu cuma ada kantong buat menyimpan uang, dan sebagainya. Jadi aman. Beberapa uang receh bisa lah simpan di tas atau saku celana, barangkali untuk bayar toilet umum, pengamen, beli cangcimen di bus, atau sekadar beli gorengan di depan Alfamart.

Solo backpacking ini sebetulnya sangat cocok buat tipikal-tipikal manusia introvert macem gue. Wkwkwk Pasalnya ada manusia yang sangat cemas, bakalan bete (sendirian) selama di perjalanan. Biasanya alasannya adalah nggak ada teman ngobrol, gak asik, sendirian, garing. Kalau gue justru sebaliknya, teramat sangat menikmati kesendirian, selama di perjalanan dan di tempat tujuan. Menikmati kesendirian bukan berarti menutup diri untuk tidak berkomunikasi dengan orang sekitar, loh, ya. Malah justru serunya saat bepergian sendiri adalah kita tidak segan untuk membuka pembicaraan dengan orang yang baru kita kenal. Dengan orang yang berada di sebelah kita misalnya. Sekadar nanya alamat, asal tempat tinggal, tujuannya ke mana, itu pengalaman seru.

Oh, iya, beberapa minggu sebelum keberangkatan ini, gue dibikin parno sama video yang seliweran di Twitter. Jadi, di video yang terekam CCTV di sebuah kereta api ekonomi tersebut memperlihatkan bagaimana dua orang penumpang berkomplot berhasil mencuri sebuah isi tas salah seorang penumpang lainnya. Wow! Terlihat saat pencurian itu terjadi beberapa penumpangnya sedang terlelap tidur, maka si penumpang yang emang berniat mencuri ini dengan mudahnya melancarkan aksinya. Setelah melihat video tersebut tentu gue lebih berantisipasi dengan memutuskan untuk tidak membawa kamera DSLR dan handycam. Ppftt. Biasanya kalo nge-trip bareng temen, gue paling rempong, deh, bawa amunisi eksistensi itu. Wakakak Tapi, untuk kali ini gue tahan dulu. Mending gue bawa kamera yang kalung-able, camera digital. Jadi, sekalipun di kereta nanti gue ke toilet, kameranya gak gue tinggalin di tas, always hangin' on.
 
Setelah perjalanan panjang Jakarta - Malang yang memakan waktu enam belas jam, Minggu pagi, sampailah gue di Stasiun Malang Kota Lama. Mengetahui gue sampai di Malang dengan kondisi utuh, makin besar, dong, rasa percaya diri gue untuk tidak takut lagi bepergian sendiri. Hehehe

Karena badan rasanya remuk redam, gue putuskan untuk langsung menuju penginapan. Walaupun di itinerary yang gue bikin, harusnya begitu sampai di Malang, langsung menuju ke destinasi yang pertama, Kampung Warna-Warni Jodipan. Sekali lagi, enaknya bepergian sendiri adalah tidak perlu beradu argumen dulu saat ingin melakukan tindakan di luar itinerary yang sudah dibikin. Lebih fleksibel. 

Hari itu benar-benar gue habiskan waktu sendirian. Mulai dari cari alamat palsu penginapan, kemudian keluar cari makan dan pergi ke Jodipan dan Alun-Alun Malang hingga larut malam. Sampai akhirnya kawan gue yang dari Surabaya ngewatsap kalo dia mau nyamperin dan nemenin gue selama di Malang. MashaAllah ... Kan ntar judulnya bukan Solo Backpacking, dong, kalo ada temennya? Tapi, ya sudahlah, mungkin dia rindu dan gak mau gue kenapa-napa di kota orang. Wakakakak Mengacau lah kau ni ...


Dan benar saja, sekitar jam sepuluh malam si kawan datang nyamperin, posisi gue waktu itu masih duduk termangu di Alun-Alun Malang. Seperti yang gue bilang, gue sangat menikmati kesendirian macam ini. Duduk di barisan kursi taman, sementara yang lain berpasangan. Gue suka memperhatikan orang lalu-lalang, datang kemudian hilang. Silih berganti. Gue coba menerka apa yang ada di pikiran orang-orang yang ada di sekeliling gue ini. Mereka yang datang berpasangan, yang datang dengan keluarga tersayang, atau yang malang sendirian. Seketika pikiran gue melayang bebas, lupa dengan pikiran apa-apa yang gue tinggal di rumah dan sekolah. RPP yang belum ditulis, Silabus yang belum di-print, telepon dari wali murid yang gak gue angkat,  cicilan hp yang tinggal sebulan lagi, emak gue yang nyuruh gue cepet-cepet kawin, pokoknya semua pikiran itu tiba-tiba hilang malam itu, ditelan oleh pekatnya malam Kota Malang, sementara dinginnya udara mampu diredakan oleh segelas kopi yang gue beli dari tukang kopi keliling, walaupun sayang kopinya encer kebanyakan air. Sial.


"Posisi di mana?" Sebuah pesan watsap mengusik lamunan gue.
"Dari arah Mesjid Agung lurus aja, aku duduk di deket air mancur," balas gue cepat.


Kami pun bertemu, namun karena malam kian larut, kami memutuskan untuk pulang ke penginapan.
Otomatis, keesokan harinya sampai hari terakhir gue di Malang, ya, si kawan nemenin gue, ke mana-mana gak sendirian lagi. Jadinya, ngalamin "solo backpacking"-nya cuma di hari pertama dan kedua. Wakakakakak Gagal maning, sooonnnn......!!!



Monday, November 27, 2017

Proses Tilang Bikin Ribet Parah

Ilustrasi: Pixabay

Gue coba berbagi pengalaman saat gue ditilang, kemudian saat mengikuti proses persidangan yang berlarut-larut sehingga bikin capek. Capek waktu, tenaga, dan uang. Gue akan coba bikin tulisannya seringkas mungkin, walaupun kejadian aslinya memakan waktu berhari-hari dan kalau kalian mengalaminya sendiri kalian bakal berpikir mending pindah kewarganegaraan daripada sebagai rakyat jelata Indonesia ngurusin yang beginian aja dipersulit.
Senin, 30 Oktober 2017
Motor gue kena tilang di daerah Rangkasbitung. Gue yang berdomisili di Serang tentu gak hafal dengan jalan dan medan di sana. Sempet nanya arah pulang sama tukang service-nya (waktu itu ke sana mau service handycam), katanya bisa lewat jalur sini (sambil nunjuk ke arah jalan yang kemudian motor gue ditilang). Percaya dong. Eh, pas baru beberapa meter lewat jalur tersebut, ngerasa, kok, ada yang aneh. Kok, kayaknya ini jalan satu arah, deh, dalam hati. Baru juga 'ngeh kepikiran begitu, tiba-tiba polisi udah nongol di belakang. Langsung ditegur dan ditilang tentunya. STNK ditahan dan dikenai sanksi dua pasal; Pasal 281 (tidak memiliki SIM) dan Pasal 287 (melanggar lalulintas).

Gak punya inisiatif kasih uang damai, karena emang gak punya duit, baru dipake bayar service tadi, kan. Sambil nyodorin selembar kertas berwarna biru, polisinya bilang, "Nih, nanti bayar ke BRI sejumlah uang Rp 1.500.000, bukti pembayaran dibawa saat ikut sidang tanggal 10 November 2017." Jujur aja waktu itu sempet su'udzon sama polisinya. Gue pikir dia bilang suruh bayar denda Rp 1.500.000 itu cuma gertakan aja supaya gue kasih uang damai di tempat. Entah lah kenapa mindset gue dan atau mungkin kalian (wakakak nyari temen) begitu denger kata "tilang" pasti melekat dengan kata "uang damai". Gak tau siapa yang nyetting begitu, udah ada di otak gue, beneran. Ya, maklum lah gue berpikiran kayak gitu, soalnya dari pengalaman gue ditilang (sebanyak dua kali), gak pernah mencapai angka jutaan gitu, paling cuma dua ratusan, nih polisi gertak doang, pikir gue saat itu. Maaf, loh, ini gue udah su'udzon.
Kamis, 9 November 2017
Datang lah gue ke BRI, serahkan kertas biru tadi ke Customer Service-nya. Diproses. "Satu juta lima ratus, Bu," katanya. Lah? Kan gue melongo, ya. Itu polisi beneran, ya, kasih denda segitu? Buset. Karena gue cuma pegang Rp 900.000, gue gak jadi bayar, dong. Si CS-nya aja sempet kaget, kok, denda tilangnya gede banget, emang Ibu abis ngapain? Loh? Maksudnya abis melanggar apa? Ya, gue bilang cuma salah arah dan gak punya SIM. Sempet rame juga itu para nasabah yang di sana ngedeketin gue -ciye- nanya kenapa bisa besar gitu dendanya, ya, gak tau. Coba nanya ke nasabah yang lagi ngantri itu takutnya ada yang punya pengalaman ditilang dengan denda sebesar ini, ternyata nihil. Pulang lah gue sambil berusaha cari uang buat nutupin kekurangannya tersebut. 
Jum'at, 10 November 2017
Di hari yang sakral bagi bangsa Indonesia ini -Hari Pahlawan- gue nelongso. Harusnya hari ini hadir di persidangan seperti yang sudah ditentukan. Namun, karena gue kagak bisa bayar itu denda, jadi akan percuma kalau pun gue pergi ke sana. Mana jaraknya jauh, kan, Serang - Rangkasbitung. Ya udah lah, bodo amat. 
 
Minggu, 12 November 2017
Jual ginjal buat nutupin kekurangannya. Hahaha
 
Senin, 13 November 2017
Hari kerja udah pasti gak akan sempet ngurusin beginian, lagian feeling gue berkata bakalan lama, deh, kalau udah berurusan sama birokrasi di negara kita tercinta ini. Gue minta bantuan sepupu gue buat ngurusin perkara ini ke Kantor Pengadilan Rangkasbitung. Untung dia mau. Padahal rumahnya lebih jauh lagi, loh, di Cilegon. Luar biasa.

Pukul 05.30 WIB, dia udah standby di Stasiun Merak untuk naik kereta jurusan Rangkasbitung  sambil bawa anaknya yang berumur lima tahun. Singkat cerita, pukul sembilan dia sampai di depan kantor pengadilan. Bersama ratusan orang lainnya yang juga kena tilang, dia berusaha masuk ke dalam kantornya. Namun, tidak diperbolehkan oleh petugas yang berjaga di sana. Katanya, yang boleh masuk hanya yang sudah memiliki slip bukti pembayaran dari BRI. Pergi lah dia ke BRI yang letaknya berdekatan dengan kantor pengadilan. Dan di sana tempat lahir beta udah bertumpuk orang mengantri. Untungnya sepupu gue ini punya ATM BRI, jadi gak perlu mengantri di teller bank. Tapi, ATM dia pajangan dompet doang, gak ada saldonya. Sama aja bo'ong. Dia nelpon, gue transfer uang hasil jual ginjal lele tadi, beres.

Setelah transfer uang denda, kita bisa cek statusnya di www.etilang.info 

Bergegas dia kembali ke kantor pengadilan. Sesampainya di sana dan menunjukkan slip bank dan/ bukti digital-nya tidak langsung diproses dengan alasan harus membawa Surat Kuasa dari yang menguasakan. Oke, lah, itu masuk akal karena yang ngurusin bukan yang bersangkutan (yang ditilang) langsung, kan. Karena sudah pukul 14.00, kereta jurusan Merak pun sebentar lagi tiba, maka dia putuskan untuk pulang hari itu.

Selasa, 14 November 2017
Ada cerita lain di hari ke-2 dia pergi ke pengadilan ini. Versi lengkapnya klik di Gara-Gara Uang Seribu ini. Pukul 09.00 WIB dia sampai di kantor pengadilan. Nampak tidak ada seorang pun petugas di sana. Meja nampak kosong, sementara puluhan orang tengah menanti diadili. Halah, seolah-olah. Satu jam kemudian, salah seorang petugas datang, menginstruksikan kepada seluruh orang yang tengah menunggu tadi untuk mempersiapkan kertas biru yang diberikan oleh si polisi saat menilang.
Mengantri lama, menunggu namanya dipanggil satu per satu oleh petugas kemudian dari kertas biru tersebut akan dilihat pelanggarannya apa saja, kemudian disidang dan diputuskan jumlah denda yang harus dibayarkan. Lah, kok, diputuskan kena denda berapa? Bukannya udah transfer uang sejumlah Rp 1.500.000, ya? Berarti udah jelas dong didendanya kena Rp 1.500.000?

Tenang pemirsa, ternyata begini alurnya: Si terdakwa (eh, bener gak, sih, gue nyebut orang yang ditilang itu dengan sebutan "terdakwa"? Apa korban? Wakakakak) sebelum disidang memang diharuskan membayar Rp 1.500.000. Ketika di persidangan, rupanya jumlah denda tidak sebesar itu. Rata-rata sekitar 200-300 ribuan, dan sisanya akan dikembalikan. Oh, begitu? Eh! Belom kelar! Lu kira proses persidangan mulai dari dipanggil nama, dicocokkan si kertas biru tadi, ketok palu sampai pengambilan STNK-nya semudah itu? NOOOOOO!!!

Setelah menunggu lama, nama sepupu gue dipanggil, dong. Masuk lah dia menghadap petugas, menyerahkan kertas biru tadi, nama yang tertera jelas bukan nama dia makanya diminta juga surat kuasanya. Begitu dia nyodorin surat kuasa, si petugasnya bilang gak usah repot-repot bawa surat kuasa yang dibikin sendiri karena sudah kami sediakan di sini, cukup dengan membayar uang Rp 30.000. Ngeselin, kan? Yang model begituan aja di bisnisin. Coba dari kemaren bilang kalau gak usah bawa dari rumah, kan sepupu gue gak repot-repot malem-malem pergi ke warnet cuma buat bikin itu surat kuasa. Bikes!

Ya udah lah ya kita mah sebagai rakyat jelata yo manut ae. Biar cepet kelar. Setelah diketok palu rupanya cuma dikenakan denda Rp 250.000. Sisanya akan dikembalikan tunai setelah jam istirahat. Nunggu lah dia.

Gue singkat aja, akhirnya dia dapetin uang pengembaliannya setelah proses yang berliku. Makanya gue saranin baca Gara-Gara Uang Seribu ini dulu. Hehe

Setelah dapetin sisa uang dendanya, dia bergegas ke ruangan berikutnya untuk pengambilan STNK. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Pengambilan STNK tidak bisa dilakukan hari ini, silakan kembali esok hari. Njiir.

Rabu, 15 November 2017
Hari ini gue seneng, karena gue pikir hari ini bakalan beres. Kan, tinggal ngambil STNK doang. Lagian kesian juga sama sepupu gue ninggalin anaknya di rumah demi bantuin gue. Hiks. Terharu gue. 
Seperti Biasa juga dia pagi-pagi udah di kantor pengadilan, dari Cilegon, loh. Beres... Beres... Dalam hatinya. Begitu dia masuk ke salah satu sudut ruang pengadilan di mana tempat itu adalah tempat pengambilan STNK, sudah berkumpul puluhan orang. Sudah bertumpuk kertas-kertas slip pengambilan STNK di atas meja. Namun, tak ada satu pun petugas menunjukkan batang hidungnya. Lama menunggu. Matahari mulai menunjukkan keangkuhannya. Panas tjoi udah siang. Puluhan orang masih menanti harap-harap cemas, mereka seperti diabaikan. Tak lama kemudian, petugas nongol, dengan santainya bilang bahwa hari ini cuma ingin membagikan sisa-sisa uang yang belum diambil kemarin, jadi tidak menerima pengambilan STNK. Hemm!! Gue udah boleh mengumpat belum? Sok! Kampret!! Gitu doang? Hahaha Setidaknya ini membuktikan bahwa birokrasi kita emang ribet parah. Bisa ngebeyangin gak, sih, mereka yang datang berhari-hari, itu sudah pasti  mengorbankan banyak hal, entah itu uang, tenaga, atau pun waktu. Mungkin saja, kan, dari puluhan, bahkan ratusan (karena sepupu gue bilang di hari pertama itu kayaknya mencapai angka tiga digit), orang tersebut satu di antaranya ada yang harus rela dimarahi atasan karena ijin gak masuk kerja, ada yang meninggalkan rumah pukul lima pagi dan meninggalkan anak kayak sepupu gue ini, ada yang sementara tidak berjualan, dan sebagainya. Pelik.

Jum'at, 17 November 2017
Untungnya sepupu gue ini sedikit cerdas. Rencananya hari ini dia coba peruntungan lagi dateng ke persidangan, tapi hal tersebut urung dilakukan karena dia sudah coba menghubungi temennya (temen dapet nemu saat di persidangan yang asli orang Rangkasbitung). Dia mengabari bahwa hari itu gak perlu ke sana karena belum ada jadwal pembagian STNK. Oke, baiklah.
Senin, 20 November 2017
Berakhir sudah siksaan ini. Hari ini dia bisa langsung ngambil STNK-nya. Alhamdulillah.

Ilustrasi: Pixabay



Gue berbagi cerita ini bukan untuk menggiring opini kalian bahwa gue adalah aktor protagonisnya di sini yang seolah-olah memberi kesan bahwa gue adalah korban dari kerumitan birokrasi negara kita. Bagaimana pun gue salah. Gue gak punya SIM dan gue melanggar lalulintas walaupun tidak disengaja, sih. Gue salah gak punya SIM, itu aja.




Thursday, November 23, 2017

Tidur di Bandara

Ilustrasi: Pixabay

Lagi kosong di jam pertama, kelas enam lagi belajar mapel Penjas, daripada gue bengong mending gue coba inget-inget pengalaman yang bisa gue tulis di sini.

Kejadiannya setahun lalu, waktu gue bersama  dua orang kawan gue nge-trip ke Malaysia. Harusnya pesawat take off dari Bandara Soekarno-Hatta pukul 19.00 WIB, tapi delay satu jam. Terbanglah kami pukul 20.00 WIB, mendarat pukul 23.00 waktu setempat. Karena kami tidak booking hotel untuk malam itu, jadilah kami terlunta-lunta di bandara negara orang. Mau lanjut bepergian juga gak mungkin, udah malem, kan? Akhirnya kami putuskan untuk tidur di bandara sambil menunggu matahari terbit baru kami cabut.

Bukannya tanpa rencana, sih, saat nyusun itinerary-nya kami sudah sepakat  menghemat pengeluaran booking hotel dan mencari sensasi tidur di bandara a la backpacker gitu.

Kami sempatkan keliling bandara KLIA 2, sambil mencari counter yang jual perdana untuk internetan juga sembari "celingak-celinguk" nyari emperan bandara untuk tidur.

Setelah dua jam berkeliling, handphone sudah terisi kuota, saatnya kami mencari tempat untuk tidur.

Sempat berpindah-pindah tempat, sih, tidurnya. Awalnya tidur di ubin pojokan toko yang udah tutup sambil nge-charge hp, ngampar aja di situ tanpa alas, kecuali kepala yang diganjel pake tas ransel. Lama-kelamaan tidur di ubin dingin juga, mana malem makin larut, akhirnya kami keliling lagi nyari-nyari tempat pewe buat tidur, kali aja nemu sofa, kan?

Gak liat ada sofa nganggur, yang ada cuma barisan kursi-kursi buat nunggu para penumpang. Di beberapa barisan sudah ditempati orang yang sepertinya bermalam juga di bandara. Akhirnya nemu juga tiga barisan kursi kosong di bawah eskalator, pas buat kami bertiga. 

 
Walaupun kursinya tidak nyaman untuk ditiduri, karena bentuknya nggak rata gitu, ada batas berundak setiap kursinya, tapi karena mata sudah ngantuk dan badan sudah lelah, mau tidak mau kami tidur juga di situ. Alhasil ketika bangun jam lima pagi untuk melanjutkan perjalanan (kurang lebih empat jam tidur di kursi tersebut), badan gue khususnya pada sakit dan makin pegel-pegel. Selebihnya sih seru, punya pengalaman yang nanti bisa diceritain ke anak-cucu kalo Emaknya bisa senekat itu -ceileee-

Segitu dulu deh ceritanya, sebentar lagi bel masuk...


Sunday, November 19, 2017

Dijawab oleh Waktu

ilustrasi: pixabay


Minggu pagi, gorden kamar sengaja nggak gue buka agar makin nyaman "leyeh-leyeh" di atas kasur. Seperti hari Mingu sebelum-sebelumnya, hari ini gue tidak berencana pergi ke mana pun. Ada dua buku baru yang belum gue selesaikan membacanya. Tapi sepertinya gue nggak akan menyelesaikan semuanya hari ini. Mungkin gue akan berlama-lama kembali di depan komputer, meneruskan editan di Photoshop untuk header dan favicon blog yang belum "cucok".

Sebelum kegiatan "sok sibuk" itu terlaksana, gue akan membaringkan badan lebih lama, membuka aplikasi YouTube, melihat highlight gol-gol yang tercipta di pertandingan liga-liga di Eropa semalam. Luis Suarez on fire - Paulinho mematahkan praduga pembelian terburuk - Pogba come back - Zlatan sudah duduk manis di bangku cadangan - Alexis mengobati patah hatinya yang tak bisa meloloskan Chile ke Piala Dunia 2018 dengan menaklukkan Hotspurs - Liverpool tak salah membeli Salah - De Bruyne makin moncer di tangan Guardiola - Neymar tak memberi umpan matang kepada Cavani - AC Milan tumbang di tangan Napoli, Munchen menggila sudah biasa - Namun, yang paling menarik perhatian adalah Madrid menelan hasil imbang melawan tim rival sekota, Atletico. Tandemnya di el clasico, Barcelona makin nyaman di pucuk dengan selisih sepuluh poin. Gue merayakannya sendiri dalam hati.

Handphone yang dihuni oleh nomor Telkomsel berbunyi. Tanpa melihat layarnya, gue udah tau siapa yang menelepon dari ujung sana, karena nomor Telkomsel gue hanya tiga orang yang tau; kawan gue satu orang; salah seorang wali murid; dan driver pada aplikasi GoJek. Wali murid menelepon di hari libur begini sepertinya tidak mungkin. Driver GoJek nanyain gue pake baju apa dan berdiri di mana juga nggak mungkin, karena gue masih bersemayam di kamar. Sudah pasti kawan gue. Benar saja!
"Halo," sapa suara dari ujung telepon. Dari suaranya gue tau dia sedang berada dalam posisi yang sama kayak gue, "leyeh-leyeh".
"Waalaikumsalam," balas gue ngasih kode.
"Assalamualaikum," jawab dia peka.
"Walaikumsalam. Lagi di Jakarta, Beb?" terka gue.
"Nggak, Beb, belum tau lagi kapan ada tugas ke Jakarta," jawabnya pesimis.
Selama hampir satu jam kami larut dalam percakapan. Ketawa-ketiwi laiknya tak pernah berjumpa sekian lama. Terakhir ketemu tiga bulan yang lalu. Waktu itu si kawan ada tugas ke Jakarta, maka kami sempatkan bertemu. Dan memang kami cuma dapat bertemu setiap si kawan ada tugas ke Jakarta. Ibarat kata sambil menyelem minum air; sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Sambil tugas sambil main. Terakhir ketemu kemarin, kami mainnya kebablasan, awalnya cuma sekitaran Jakarta, taunya melangkah sampe ke Bandar Lampung, dari Serang, naik motor. Gila.

"Gantian kapan main ke sini?" tukasnya memotong pembicaraan.
"Jarang ada tiket promo ke Makassar, jadi kemungkinannya kecil," sanggah gue.
"Hmm.. Susah muka-muka promo," ejeknya.

Perbincangan berlanjut, tawa kami pecah setiap mengingat kembali peristiwa absurd macam begitu. Lewat sambungan telepon kami menumpahkan  rindu. Kejadian-kejadian konyol, segala tingkah bodoh kami, kebersamaan  penuh gelak-tawa, melangkah bebas ke mana pun, akan kah bisa terulang kembali saat kelak kami sudah mempunyai kehidupannya masing-masing?



Thursday, November 16, 2017

Cara 'Ngakalin' Promo di Traveloka

Sekarang ini PT KAI lagi gencar-gencarnya promosiin salah satu moda transportasi darat andalan mereka, ya, apalagi kalau bukan kereta api. Di Twitter sering gue liat hashtag #AyoNaikKeretaApi seliweran di linimasa. Tapi, entah kenapa gue gak pernah tertarik untuk naik kereta api, terutama untuk perjalanan jarak jauh. Gue udah ngebayangin bakalan bete setengah mati berada di dalam kereta berjam-jam. Soalnya pengalaman naik kereta api paling jauh cuma dari Stasiun Serang ke Stasiun Jatinegara, Jakarta.

Sampai suatu ketika si kawan nge-WhatsApp, "Liburan ke Jogja, yuk! Tapi naik kereta aja biar murah!" Jelas lah gue agak gimana gitu dengernya. Tapi si kawan ini coba ngeyakinin kalo naik kereta itu gak sesuram yang gue bayangin. Terus karena gue pikir belum punya rencana ke mana-mana akhirnya gue bilang oke lah. Tapi, dengan satu syarat (gue bilang ke si kawan); "Beli tiketnya talangin dulu," cekikikan dalam hati.

Pergi lah kami ke Jogja bulan Juli kemaren. Dari pengalaman itu, sepertinya gue nagih naik kereta api. Udah tiketnya lebih murah, ternyata bener kata si kawan, gak sesuram yang gue bayangin, ahelah. Brb, gue install aplikasi yang disediakan oleh PT KAI untuk pemesanan tiket online, KAI Access namanya. Uanjirlah! Pas iseng gue liat list harganya bikin ngiler. Tanpa pikir panjang, persiapan untuk liburan sekolah bulan Desember gue coba booking tiket ke Malang, untuk kelas ekonomi harganya cuma Rp 109.000, pun dengan harga tiket kepulangan, sama harganya segitu. Makin semangat, dong, gue untuk melanjutkan proses pemesanannya. 

Udah isi data diri, isi tanggal keberangkatan dan kepulangan, pilih seat segala macem, langkah terakhir adalah proses pembayaran. Udah excited banget tuh gue. Begitu klik "Proses Pembayaran..."
SILAKAN ISI NOMOR KARTU KREDIT ANDA. Anjay! Gue tuh paling sebel kalo beli atau booking sesuatu via online, pembayarannya pake kartu kredit. Ngeselin. Gak jadi booking, lah akhirnya.

Gue pikir zaman now gak ada yang gak mungkin. Pelarian gue ke Traveloka, soalnya udah pernah booking hotel di situ. Alasan awal gue gak langsung nyari di Traveloka tuh karena gue pikir kalo booking dari website KAI-nya langsung akan lebih mudah dan murah. Ternyata bagi kaum tak berkartu kredit macam gue, itu gak berlaku.
Emang, sih, harga Rp 109.000 itu sudah termasuk paling murah, pergi-pulang cuma Rp 218.000. Tapi, ya itu kendala di cara pembayarannya.

Sedangkan di Traveloka, selain pembayarannya lebih fleksibel, bisa melalui transfer ATM atau bayar di minimarket, juga ada promo setiap hari.  Kampret banget gak tuh Traveloka kasih promo tiap hari dan gak banyak cincong.

Akhirnya gue coba pesan di Traveloka dengan jadwal yang sama kayak tadi. Harganya pun sama kereta tujuan Ps. Senen - Malang, Malang - Ps. Senen Rp 218.000. Bedanya, kalau di Traveloka, harga segitu masih bisa dapet potongan Rp 25.000 kalau kita masukin kode promonya! Wuih! Kampret banget gak tuh enaknya.

Singkat cerita, gue saattt-seettt isi biodata diri, masukin kode promonya, tertera jumlah nominal yang harus dibayar Rp 218.000 dikurangi promo Rp 25.000, yang harus dibayar cuma Rp 193.000. Lumayan, kan?

Eits! Tapi gue mengurungkan niat booking-nya. Gue cancel. Loh, kok?
Ya! Gue mau licik sedikit! Hari itu gue pesan tiket kereta untuk keberangkatannya dulu. Jadi gini... jadi gini... Sini gue kasih tips biar harga yang udah murah tadi bisa lebih murah lagi.

Pertama, gue pesan tiket keberangkatannya dulu. Dari harga yang tertera Rp 109.000, masukkan kode promonya, otomatis akan berkurang Rp 25.000. Jadi harga yang dibayarkan cukup Rp 92.000 seperti yang tertera pada screenshoot di bawah.


Baru esok harinya gue pesan lagi tiket pulangnya. Kayak di bawah ini. Kenapa harus keesokan harinya? Karena kode promo berlaku untuk satu pemesanan yang sama dalam satu hari tersebut cuma satu kali. Gpp lah usaha sedikit lebih keras cerdas.


Nah, jadinya harga tiket pergi-pulang Jakarta - Malang cuma Rp 184.000. Ahaaiii ... cerdas bersahaja. Wkwkwk


*fyi
gue booking tiketnya waktu bulan September, saat itu;
- aplikasi KAI belum sefleksibel sekarang yang bisa menerima pembayaran lewat ATM dan minimarket. Sekalipun begitu, kayaknya mending pesan via Traveloka, sih, lumayan promonya;
- untuk promo kereta di Traveloka cuma Rp 25.000, tapi untuk yang sekarang sih gue liat makin gede promonya Rp 30.000. ajib!