Random Thoughts

 Ilustrasi: pixabay

Isinya ngacak, wes, apa aja yang lagi ada di kepala gue, gue keluarin. Sayang aja udah bayar tagihan domain tapi gak ada konten baru. YA BODO AMAT.

Mengawali tulisan pertama gue di tahun 2019, mumpung lagi selow gue mau bahas pemikiran acak gue. 

Serius ini tulisan gak ada faedahnya sama sekali. Tapi, harus tetap dibaca, kali aja kita punya kesamaan pemikiran dan pengalaman.
 

1. Hal Tersulit yang Pernah Gue Lakuin
Kalau gue tanya ini ke kalian, "Hal tersulit apa yang pernah kalian lakuin (yang udah pernah lu alami)?"
Kalau gue, gue bakal jawab, "Boker di kereta."
Asli. Kalo gak mules-mules banget gue ogah boker di toilet kereta. Bukan masalah bau atau jorok, tapi susah, ribet, pegel, kesemutan, goyang-goyang, dan sebagainya. Pokoknya segala kerumitan hidup tumpah ruah di situ, anjir. Lu bayangin, tapi jangan bayangin di kloset duduk, ya. Ini yang jongkok, di saat bersamaan lu harus nongkrong, nah, di saat posisi nongkrong inilah banyak tantangannya. Kalo posisi normal betis sama paha, kan, menyatu, yah? Ini nggak, coy. Di antara itu ada yang ganjel, lipatan celana jeans. Nah, itu kan kalo lama-lama nongkrong dengan ganjelan segitu tebal bisa kesemutan. Alih-alih ambil jeda dengan ubah posisi sebentar, tangan lu dua-duanya harus megang kuat-kuat besi pegangan di samping kanan-kiri.Tau sendiri jalannya kereta sambil goyang-goyang. Lu mesti nahan segala goncangan itu dengan sekuat tenaga, jaga keseimbangan, fokus, dan jangan lupa sambil bergumam, "Ntar-ntar dikasih mulesnya pas nyampe stasiun aja napa.." Kalo gak pegangan, ya, gak ngerti, deh, apa yang bakal terjadi. Terjerembab mungkin. Pokoknya lu harus coba. Senggaknya ngerasain pengalaman ini sekali seumur hidup. Biar gue ada temennya.

2. Kenapa Boker Selalu Dijadikan Tolok Ukur Betah Nggaknya di Tempat Baru
Kalau kita lagi main (nginap) di rumah temen atau mungkin pergi ke tempat yang belum pernah kita kunjungi atau tempat yang sama sekali asing, pas kebetulan kebelet pengen buang air besar tapi gak bisa tersalurkan -pengen ngomong 'gak bisa keluar' tapi kesannya jorok banget, yak- wahaha. Pasti auto ada yang nyeletuk, 
"Belum betah lu,"
"Nggak betah, ya?"
"Nggak 'kerasan', ya?"
Kerasan itu semacam benda yang bisa meledak, temennya kembang api. Krik.

Itu ada benernya juga, sih, walaupun gak tau penjelesan ilmiahnya. Tapi, ya, gak mau nyari tau juga. Udah biarin aja suka-suka dia mau keluar apa nggak.

3. Mulut Kampung
Gue gak tau, yah, diksi yang tepat buat menggambarkan mulut gue yang gak bisa masuk sama makanan modern. Seperti seafood, Western, Chinese, Japanese, Korean, Rusian, Belaian Food, dan apalah itu namanya (yang terakhir nggak, ya, becanda). Seriously, mulut gue cuma mentok di tiga te satu a. Tahu, tempe, telor, ayam. Kalo makan di luar, udah paling aman makan di KFC, mekdi, dkk. Sama menu ayam-ayaman. Ayam bakar, ayam goreng, ayam geprek, ayam penyet, ayam ancur, ayam kabur, ayam bubur, bubur ayam. Selebihnya, NO. Gak tau, deh, kalo Mas Anang.
Gue masuk HokBen, gak ada satu pun menu yang kepilih. Ayam kesenggol mayones dikit aja gue ogah makan. Seleramu, Nak...

4. Pake Baju yang Itu-Itu Aja
Yang kita tahu, alasan cewek kadang gak posting fotonya di media sosial itu karena dia keliatan gendut/kurus, pipinya keliatan chubby, alisnya seperti trapesium, atau jerawatnya kayak pecahan meteor. Itu gak sepenuhnya salah, karena gue juga kadang gitu. Kalau guenya keliatan kurus, poni ada spasinya (waktu belum jilbaban), senyum tapi matanya tinggal segaris, aliran darah salah masuk serambi, biasanya gue keep aja fotonya buat koleksi pribadi.
Tapi, semuanya itu omong kosong. Alasan paling valid kenapa gak posting fotonya di jejaring sosial adalah karena udah pernah posting foto pake baju yang sama. Baru selang dua hari malah.
Ada yang begitu? 
Serius ada? Yang mikir kek gitu?
Ya, ada. Buktinya gue nemu cuitan begitu di Twitter. Hahaha Ada-ada aja netijen. Yakali orang notis sama apa yang kita pake. Itu perasaan lu aja. Perasaan gue juga, sih. Wkwkwk. Aslinya gue sendiri gak notis sama apa yang orang lain kenakan. Yakali. Tapi, sekali pun ada orang yang notis, perhatiin, peduli dengan apa pun yang kita kenakan, yang mereka anggap itu-itu aja, yauda, emang kenyataannya gue punyanya itu-itu aja, ywdc.

5. Pengalaman yang Paling Gue Sesali Seumur Hidup: IKUT WISUDA
Bagi kebanyakan orang, wisuda adalah momen yang paling ditunggu nomor dua setelah menikah. Ya iyalah, hellaawww ... Setelah ratusan purnama bergelut dengan bangku kuliah, tugas-tugas bejibun, dan ngejar-ngejar dosen pembimbing, wisuda ibarat ritual sakral memasuki gerbang baru jadi pengangguran jiwa yang baru. Masa mau lu lewatin begitu aja?
Ya, itu bagi kebanyakan orang. Tapi, bagi gue sebaliknya. Itu adalah momen yang paling gue sesali dalam hidup gue. Nggak tau kenapa, ya. Padahal gue sendiri gak punya pengalaman traumatis dengan yang namanya "acara wisuda", tapi sampai sekarang gue nyesel kenapa gue ikut wisuda waktu itu? IDKW.
Alasan dangkal gue, ya, karena gue gak suka keramaian. Acara wisuda kan rame banget, yah. Gue gak suka dengan hal semacam; gue all out dandan yekan dari subuh, abis gitu dipakein toga, ketutupan. Gue duduk di kutub utara, orang tua di kutub selatan. Anggota keluarga yang lain di kutub parkiran. Selese acara, kerumunan orang-orang tuh bikin gue pusing. 
Pas nyampe rumah komen gue, "Oh, gini doang?"

6. Dua Kepribadian yang Berbeda
Beberapa orang dan beberapa teman ada yang bilang saat mereka membaca status gue di media sosial atau tulisan gue di blog, itu berbeda 360 derajat saat bertemu langsung dengan aslinya (dengan gue maksudnya). Sebelum gue pura-pura nanya, "Masa, sih?" Sebetulnya gue udah tau jawabannya. Udah tau apa yang mereka pikirkan. Ya! Katanya kalau di tulisan atau status kayaknya gue ini orang yang seru, ekspresif, bocor, dan sebagainya. Tapi, pas berhadapan langsung, aslinya diem-diem bae. Wahahahahaha.
YA.

Saya pun merasa demikian. Nggak tau. Pokoknya aneh lah. Aslinya gak suka ngomong. Males ngomong. Ngomong seperlunya. Ngomong kalo ada perlunya. Ngomong kalo mau minjem duit.







Reminder: Tulisan ini dibuat pas lagi nunggu El Clasico di partai semifinal Copa del Rey Leg I.
-070219-

Harga Makanan di Jalan Alor Makin Gak Bersahabat

Sumber Foto: Arsip Pribadi

Seperti yang kita tau surganya kuliner di Kuala Lumpur itu salah satunya yang berlokasi di Jalan Alor. Pertama kali ngerasain kudapan di sini pada tahun 2014. Lokasinya persis di pusat kota, suasana ala-ala street food-nya dapet banget. Gue pernah bahas tentang ini di blog sebelumnya. Kali ini, gue akan fokus bahas masalah harga makanannya yang gue rasa semakin gak bersahabat dengan kantong sobat misqin -gue maksudnya- sekalian.

Sebulan terakhir ini gue pergi ke Kuala Lumpur sebanyak dua kali. Pertama, untuk urusan pekerjaan -ceilee kayak orang- kedua untuk kepuasan batin sendiri (backpacker-an).

Pertama kali 'ngeh kalau harga makanan di sini lebih mahal dibanding dengan harga tahun-tahun sebelumnya ketika si klien bayar untuk empat orang, total jenderal harganya mayan bikin gue syok. Tapi, karena gue dibayarin, ya, bodo amatlah. Sempet mikir mungkin karena kurs mata uang terus berubah, jadi harga-harga juga makin naik. Tapi, gak gitu keadaannya sodara-sodaraku sekalian. Kalau compare dengan harga di food court mall elit macem Suria KLCC, jajanan pinggir jalan ini masih lebih mahal. Untuk ukuran jajanan pinggir jalan, loh.

Karena gue penasaran, apa iya harganya segitu mahal, takutnya waktu itu kami cuma makan di kedai yang salah. Di kesempatan kedua, saat gue trip ke sana sebulan setelahnya, gue coba makan di situ lagi namun di kedai yang berbeda. Oh, iya, fyi, kedai-kedai di sepanjang Jalan Alor ini, yang jual halal food-nya cuma sekitar dua atau tiga kedai gitu, deh. Jadi, gue coba di kedai yang berbeda dari yang kemarin. Dan ternyata sama aja harganya emang bikin nyesek, terlebih kali ini gue bayar sendiri, kan. Elus dada.

Untuk sepiring nasi goreng pinggir jalan dibanderol RM 12. Waktu itu gue pesan segelas milo ais dan sepiring kerang ukuran small total RM 35. Bandingkan dengan gue makan di food court Suria KLCC dan Central Market dengan menu yang sama + chicken chop + milo ais cuma abis 20 ringgitan. Bandingkan lagi waktu makan di kedai mamak di Melaka Sentral dengan menu yang sama pula cuma abis gak lebih dari 8 ringgit.

*Rp3.625 per satu ringgit*


 Sumber Foto: Arsip Pribadi

Untuk ukuran gue yang traveling ala low budget, terlebih gue bukan pencinta kuliner dan gak hobi makan -yang tiap makan jarang abis- harga segitu jelas gak worth it. Tapi, itu kembali lagi ke hati kantong kalian masing-masing dan jenis perjalanan seperti apa yang kalian pilih. Apakah bepergian level on budget ala backpacker atau prioritas kenyamanan dan kemewahan ala flashpacker?
Hahaha bangke, gue bikin tulisan ini kesannya misqin banget, asli :')

Spot Selfie Terbaik di Bandung

Malam itu, ada pemberitahuan masuk, ada yang mention gue di Twitter, si kawan. Sebuah thread tentang rekomendasi spot selfie terbaru di Bandung yang belum banyak orang tau. Gue scroll cuitannya, foto-fotonya keren banget. Tanpa pikir panjang, kami langsung memutuskan untuk pergi ke sana secepatnya. Tapi, nggak malam itu juga. Nunggu libur.

Kami yang "anti weekend-weekend klub" ini sudah pasti sangat-sangat menghindari bepergian di hari Sabtu dan Minggu. Selain rame, juga serba mahal kalau akhir pekan. Uhuk...

Kamis sore sekitar pukul empat kami berangkat dari Serang. Rencananya, sih, berangkat jam duaan gitu biar nyampe Bandung nggak terlalu malem. Tapi, ya, namanya juga cewek, ngaret dua jam, sih, masih dianggap wajar. 

Bus yang kami tumpangi mulai melaju. Mata gue yang sudah terbiasa tidur siang, auto merem saat di dalam bus, sementara si kawan asyik dengan Candy Crush-nya. Kami larut dalam dunia masing-masing.

Sesekali mata gue melek saat ada suara tukang tahu dan penjual permen asem bersahut-sahutan, "Lima ribu dua, lima ribu dua. Gratis cabe, gratis cabe..."
"Mijon dingin, mijon dingin..."
"Permen asemnya, Mbak, dua ribu satu, kalo beli tiga cukup lima ribu..."

Belum lagi suara sindiran pengamen, "Mbak-mbak yang cantik semoga tidak sedang pura-pura tidur...." Gue denger kata-kata "cantik" gitu merasa terpanggil aja, kan? Jadilah gue melek dulu sebentar.

Sambil liat jam, waktu sudah menunjukkan pukul enam. Bus masih merayap di jalan tol. Jalan tol mana entah. Gue merem lagi. Melek lagi. Merem lagi. Melek lagi, tau-tau sampe juga di terminal Leuwi Panjang sekitar pukul 9 malam dan langsung menuju hotel yang sudah kami pesan sebelumnya. 

Hotelnya nyaman tapi sayang gak nyediain sendal selop putih. Padahal selop putih itu bukti otentik kalo kita benar-benar nginap di situ. Kan, kalo keluar malem di sekitaran hotel pake selop putih sambil nyari nasi goreng ngarep  ditanya sama tukang nasgornya, 
"Mbak, nginep di hotel situ, ya?"
"Kok, tau, Mas?"
"Ya, itu si Mbaknya pake sendal hotel."

ANJAY SUMPAH NORAK!!! WAKAKAKAK

Oke, ya, bye! Malem itu gue langsung tidur pulas sampe subuh.

Namun, mata masih gnatuk banget -perhatiin aja gue sampe typo gitu- jadi kami lanjut tidur sampe pukul delapan pagi.

Akhirnya sekitar pukul sepuluh kami cabut menuju tempat yang ingin kami datangi, yaitu Centrum Million Balls. Waktu tempuhnya sekitar dua puluh menitan dari hotel di kawasan Pasteur itu ke tempat tersebut.

Berdasarkan informasi yang gue dapat, tempat tersebut dulunya adalah sebuah tempat wisata air, yak, kolam renang. Namun, sekarang disulap jadi tempat spot selfie terbaique. Wisata utamanya, sih, kolam mandi bola yang terluas yang pernah gue liat. Tapi, spot-spot yang lain gak kalah bagusnya. Tiket masuknya cuma Rp50.000 kalo weekday. Kalo weekend, sih, gue lupa berapa kagak liat. 

Tempatnya persis satu lokasi dengan SMAN 5 Bandung dan Taman Musik. Jadi, setelah ke situ bisa duduk-duduk dulu di taman sambil makan cuanki atau batagor di sekitaran situ. Makan kuaci juga boleh, tapi gak ada yang jual. Harus ke Indomaret dulu. Tapinya Indomaret lokasinya agak jauh dari situ. Jadi, mending gak usah nyari yang gak ada, deh, ribet amat idup lo. Emosi gue.

Pokoknya recommended bangetlah. Tapi, gue saranin kalau mau ke situ mending weekday, terutama hari Senin, kata si mbak-mbak penjaganya kalau Senin sedikit orang yang dateng, enak kalau mau foto-foto gak ada organ tubuh pengunjung lain yang ngalangin. Kalau udah weekend ke situ, ya, banyak-banyak sabar aja kalau mau foto. Mesti ngantri dan pasti kolam mandi bolanya penuh sangat. 

Oke, ya, udah gak sabar mau ngeracunin kalian dengan foto-foto yang gak seberapa ini...

Spot pertama yang gue kunjungi, tirai tali sepatu. Selfie di sini gak pernah dapet angle yang pas. Makanya sepatu aja yang jadi objeknya utamanya. Hhh

Walaupun terlihat menjijikan dengan pose kami yang seperti ini, tapi bodo amat. Ini tempatnya serba ijo. Disedian wig warna ijo juga. Kalo lu pake wig ini, ada dua kemungkinan, sih. Lu akan terlihat seperti Janeeta Janet, atau malah seperti Pak Tarno. Tolong dibantu, yaaa...

Kalau yang ini nggak usah dibahas. Percuma. Muka gue ketutupan. Kzl.

Fyi, buat melintirin jari begitu, gue butuh usaha, loh. Gak bisa, njir. Hhh

I'll "doodle" your heart. Apasih.

Biar cocok sama properti yang nempel di dinding, bagusnya kalo mau pose di sini, kening lu kena tancep anak panah. Krik.
 
Tes penglihatan. Coba cari gue di mana?
 
Kalian bebas di sini mau ngapain aja. Asal jangan minta bonekanya dibawa pulang. Jangan.
 
Botol-botol di belakang itu gak ada jin-nya. Jangan iseng buat bukain tutupnya.
 
 
Walaupun primadona dari tempat ini adalah kolam mandi bolanya, but this is the most favorite photo spot. Banyak banget yang ngantri di sini.

Ini dia primadona dari tempat ini. Wooaa... Bukan gue maksudnya. Itu bola-bolanya, loh. Bikin gue geer aja, dah.

Kalo lu ngebayangin kolam ini segede apa? Gue sertakan juga fotonya di bawah ini biar lu ada bayangan, walopun di foto ini gue terlihat seperti seonggok apaaa gitu. Ckckck

Oke, ya, cukup segitu. Terima kasih udah mampir.









Serius Hotelnya Angker?

Gambar Ilustrasi @pixabay

 Hari itu gue ditelepon oleh si kawan dan ngabarin kalau lusa dia ada tugas dinas ke Jakarta. Seperti biasanya, kalau udah begitu biasanya doi nyuruh gue nemenin dia selama di Jakarta. Gue, sih, oke. Sampai hari yang ditunggu tiba. Kami janjian ketemu di bandara pukul lima sore. Tapi, karena satu hal, gue telat dateng dari jam yang sudah dijanjikan. Macet, coy. Dari nada chat yang doi kirim ke gue, sepertinya dia udah ngerasa kesel banget gara-gara sampe jam lima gue gak nongol juga. Sebagai tuan rumah yang baik, gue berusaha sabar ngadepin ocehan si kawan ini.

Mungkin karena kondisi badan yang udah capek menempuh perjalanan Makassar - Jakarta, si kawan ini makin uring-uringan dan ngancem akan balik lagi bilang kalau sebaiknya kami langsung ketemu di hotel aja. Padahal waktu itu posisi bus yang gue tumpangi udah hampir memasuki kawasan sekitar bandara. Tapi, biar hati doi adem, gue iyain aja kalau mau ketemu langsung di hotelnya. Cuma masalahnya, doi belum booking hotel. Untuk melampiaskan kekesalannya, jadilah gue bulan-bulanannya si kawan, doi nyuruh gue yang cari hotelnya. Demi terciptanya perdamaian di bumi, gue ubek-ubeklah Traveloka cari hotel. Dari sekian hotel yang gue rekomendasiin, gak ada satu pun yang sreg di hati beliau ini. Akhirnya, dia sendiri yang berusaha cari hotelnya.
Kami terus bertukar pesan watsap. Doi bilang udah dapet hotelnya. Gue balas lagi kalau sebaiknya tunggu gue karena sebentar lagi sampai bandara. Beliau mengalah mau nunggu gue juga akhirnya.

Masih via watsap, iseng, gue tanya si kawan nama hotel yang baru dipesannya. Begitu si kawan sebutin nama hotelnya, ya, gue iseng buka aplikasi buat baca reviews-nya. Terhenyak, dong, gue begitu baca ulasan dari orang-orang yang pernah menginap di situ. Tujuh puluh persen isinya menceritakan bahwa hotel tersebut "agak" angker. Njir, mampus gue. Secepat kilat gue chat si kawan dan nanya apa nggak salah pesan hotel itu? Dia balik nanya, "Emang kenapa sama hotelnya?" Ya, gue suruh doi baca reviews-nya, dong. Nurut dia. Beberapa menit kemudian doi chat lagi dan sama terhenyaknya kayak gue, tapi udah terlanjur bayar, sih, soalnya tadi sebelum booking gak kepikiran buat baca-baca ulasannya karena doi kecapean dan kesel sama gue yang belum dateng juga. Gue lagi kena getahnya. Jadi, intinya ini semua salah gue. Gara-gara gue telat beberapa jam (doang). Dari situ gue dan si kawan coba mengabaikan kenyataan yang baru kami baca di ulasan. Ya, anggap aja kita gak tau apa-apa tentang cerita hotel tersebut.

Sampai lah gue di bandara. Ketemu si kawan yang mukanya udah kayak ubi rebus, biru. Kalau udah begini, gue, sih, senyum-senyum tanpa dosa aja.

Untuk menuju hotel di kawasan Jakarta Selatan tersebut, kami memesan GrabCar. Sayangnya, pesan taksi online di bandara ini harus main kucing-kucingan dengan petugas. Untungnya ini bisa diatasi. Kami yang harus nyamperin mobilnya di parkiran. Begitu ketemu mobil yang kami pesan dan kemudian masuk, duduk, si driver-nya sambil memegang smartphone langsung nanya setengah penasaran, "Bener, Mbak, mau diantar ke hotel X?" "Iya, Mas..." (niatnya gue mau lanjutin nanya, "Emang kenapa?", tapi gue urungkan). Eh, si Masnya malah nanya penasaran dan gak percaya kalau kami benar-benar mau menuju ke hotel tersebut, "Mbaknya mau menginap di hotel itu?" dengan mimik muka kayak yang nggak percaya gitu. Mungkin dalam hatinya belio nanya, "Serius kalian pada mau nginap di hotel yang udah terkenal angker itu?" Gue bisa menangkap isi kepala si Masnya. Gue jawab dengan nada do=C, "Iya, Mas, kita mau nginap di situ," jawab gue sambil natap muka si kawan yang sama-sama penasaran, kata-kata apa lagi yang bakal keluar dari mulut si Masnya.
"Itu kan...?" si Masnya udah mau nerusin kata-katanya tapi keburu gue setop, "Iya, Mas, nggak usah diterusin. Maksudnya hotel itu angker, kan?"
"Nah, itu si Mbaknya tau, kenapa nginap di situ?"
"Serius? Emang beneran, Mas?"
"Ya, gimana, sih, Mbak. Ya, hotel itu, sih, udah bukan rahasia umum lagi. Cerita keangkerannya udah ke mana-mana. Makanya saya heran dapet order-an minta dianter ke hotel X."
Hhh...
Mulai dari situ lah gue dan si kawan mulai saling menyalahkan. Sementara si Masnya masih terus ngoceh dengan cerita keangkeran hotel tersebut, kami berupaya mencari cara agar kita gak mati ketakutan karena nginap di hotel itu. Cancel. Ya! Satu-satunya cara adalah dengan membatalkan pemesanan. Selama di perjalanan (dengan si Masnya masih menakuti kami dengan cerita-cerita mistisnya) gue ngubek-ubek customer service Traveloka, coba telepon. Nyambung. Tapi, rupanya jawaban yang kami terima tidak seperti yang kami harapkan. Sekali pun cancel, ya, gak bisa refund. Pfft... Terpaksa kami tetap akan menginap di hotel tersebut selama dua hari. Ya, dua hari.

Driver-nya emang agak sedikit jahil. Gue berusaha mengalihkan pembicaraan, supaya gue gak ketakutan, tapi belio makin asik dengan cerita seramnya. Gue dan si kawan masih terus berusaha menjauhkan pikiran-pikiran negatif tentang hotel tersebut. Berusaha menepis bahwa apa yang kami baca dan kami dengar semuanya itu tidak benar.

Kebetulan malam itu adalah malam Minggu. Suasana kota Jakarta seperti biasanya tak pernah berhenti dari keriuhannya. Gue menatap dari kaca jendela mobil, sorak-sorai The Jakmania mulai merayap ke telinga. Langkah kaki fandom tim kesebelasan ibukota mulai berbaur dengan roda kendaraan yang tak bisa bergerak bebas. Malam itu ada laga partai final Piala Presiden yang mempertemukan Persija dengan Bali United di Gelora Bung Karno. Untuk menghilangkan rasa takut, gue berinisiatif mengajak si kawan agar menonton langsung pertandingan tersebut. Maksud gue, ya, menghabiskan malam dengan kegembiraan. Jadi, begitu nyampe hotel dengan kondisi lelah, setidaknya kami bisa langsung tidur dan gak memikirkan cerita seram tadi. Namun, si kawan yang bukan pencinta sepakbola, jelas menolak mentah-mentah ajakan gue. Hhh.

Sesuatu yang tak diharapkan pun tiba. Kendaraan yang kami tumpangi mendarat persis di depan lobi hotel. Hawa lembap menyapa tubuh kami saat mendapati bangunan besar nan kokoh yang ada di hadapan kami lebih mirip dengan bangunan tua seperti di film-film horror ketimbang sebuah hotel. Nuansa klasik dengan tiang-tiang besar menambah keangkuhan bangunan ini pada zamannya.

Lagi-lagi, si driver yang jahil ini, mengucapkan kata-kata terakhir yang bikin gue "yaelah" banget, "Mbak, kalo ntar ada kejadian apa-apa, kabarin saya, tau nomornya, kan?" sambil cekikikan.

Demi apa pun, gue gak suka dengan hawa-hawa merinding disko yang dihantarkan oleh si hotel ini. Saat itu hotel sebetulnya gak sepi-sepi banget. Banyak tamu lalu-lalang. Tapi, entah kenapa yang gue rasakan, tuh, dingin. Bukan dingin karena AC. Ya, dingin gimana, sih. Kayak hampa aja gitu. Rame tapi kosong, hambar, apa lah. Gitu aja pokoknya.

Setelah menyelesaikan urusan di resepsionis, kami pun langsung menuju kamar di lantai 4. Lorong di sekitar lift sepi. Sunyi. Gue tau apa yang dipikirkan si kawan. Pun dengan si kawan, sepertinya tau apa yang tengah gue pikirkan. Ciye saling mikirin. Sesekali kami saling bertatapan, tanpa mengucap sepatah kata pun. Kami berbahasa lewat tatapan mata, menambah dingin suasana.

TING!!! Rupanya bunyi bel tanda lift terbuka mengejutkan kami. Gimana nggak kaget, selama nunggu lift terbuka, kami cuma diam terhanyut dengan pikiran masing-masing.

Lift tanpa penumpang lain, hanya kami berdua. Gue berbisik, "Kita akan baik-baik aja, kan?" "Iya, gpp..." jawab si kawan kurang meyakinkan.

TING!!! Kami keluar dari lift. Wuuzzz.... Kembali, hawa merinding disko menyambut kedatangan kami di lantai empat. Suasananya sepi, nggak ada orang sama sekali. Lorong-lorong menuju kamar seperti hendak menelan kami hidup-hidup. Detak jantung gue udah gak beraturan, dengkul gue lemes gemeteran. Gue bukan termasuk orang-orang yang penakut terhadap hal-hal mistis begini. Tapi kali ini gue ngerasain sendiri rasanya ketakutan. Gue kayak mau nyerah. Padahal dari tadi gue gak ngalamin hal yang janggal seperti ngedenger suara, atau dicolek setannya langsung, nggak. Tapi, kenapa gue bisa ketakutan separah ini. Nggak ngerti. Dan ini belum apa-apa. Begitu kami masuk kamar, terutama gue, tiba-tiba punggung gue terasa panas, bahu gue berasa berat kaya ada yang lendotan. Dengan nada lemas gue berbisik ke si kawan, "Kita harus cepet-cepet keluar." Si kawan sepertinya paham apa yang gue rasakan walaupun saat itu gue gak bilang ke doi apa yang lagi gue rasain. Gue pikir nanti aja lah ceritanya kalo lagi di luar.

Sangking ketakutannya, ke kamar mandi pun pintunya gak berani ditutup rapat. Hahaha

Setelah naro tas dan sedikit touch up muka yang udah gak simetris, kami pun pergi ke luar cari makan sambil menikmati suasana malam ibukota. Di situlah gue bercerita apa yang gue alami barusan. Dari situ kemudian kami memutuskan untuk nongkrong di luar sampai larut dengan tujuan, ketika sampai di kamar langsung tidur.

Alhamdulillah, karena kecapean dan ngantuk banget, gue tidur pulas tanpa terbangun dan berhasil melalui malam tanpa ketakutan. Lain halnya dengan si kawan. Doi justru sering kebangun saat tidur.

Hari kedua kami check out dan memutuskan untuk tidak extend di sisa satu hari si kawan selesai tugas. Setelah apa yang kami alami, kami pun lebih memilih mencari hotel yang lain.

Dapatlah kami hotel di kawasan Jakarta Barat. Kali ini jelas lebih nyaman, selain memang hotel ini adalah bangunan baru dan sepertinya juga baru dibuka beberapa bulan yang lalu, juga dekat dengan keramaian, Stasiun Tanah Abang.

Mungkin karena sangking senangnya gue terlepas dari jerat mistis si hotel yang pertama, gue baru 'ngeh kalau ternyata kerudung gue yang satu ketinggalan di hotel itu. Hadeuh. Mungkin setannya pengen kali, yah. Hehehe







Cerita Gue yang Pengen Gemukin Badan

Di saat orang-orang -terutama wanita- sibuk ingin ngurusin badan dengan cara diet dan sebagainya, gue sebaliknya. Pengen gemukin badan. Nah, loh?

Gak gemukin badan juga, sih. Maksudnya, biar badan gue agak sedikit lebih berisi aja gitu. Gak kurus-kurus banget.

Sama halnya seperti orang yang pengen badannya kurus, sampai berkorban untuk diet dan mengurangi makan, gue juga melakukan pengorbanan yang sama. Cuma bedanya, ya, tentu sebaliknya. Gue berusaha untuk banyakin makan. Makan banyak. Banyak makan. Ya, gitu, deh. Cuma masalahnya justru di situ. Gue orangnya gak suka makan, susah makan, pemilih makanan, dan gak punya nafsu makan. Rumit, kan?

Gue bukannya tanpa usaha, dari dulu gue coba ikutin saran dari beberapa orang. Katanya harus konsumsi ini-itu biar nafsu makan, ada juga yang bilang harus kurangi ngopi dan begadang, rutin minum susu, jangan ada pikiran, periksain ke dokter, harus punya pacar biar ada yang ngingetin makan, harus nikah dulu kemudian melahirkan biar melar badannya, harus suntik KB, dan saran-saran absurd lainnya. Saran yang terakhir itu apa banget, dah. Orang masih gadis, kok, suruh suntik KB? Ngeselin, kan?

Semuanya udah gue coba. Sudah. Kecuali tiga saran dari urutan yang terakhir tadi. Namun, hasilnya tetap nihil. Badan gue, ya, segini-gini aja. Ppfft. Pasrah aja udah. Sebelum akhirnya temen gue nawarin sebuah produk kesehatan berupa madu alami yang konon katanya kalo gue konsumsi itu bisa menambah nafsu makan. Karena kata-katanya sangat persuasif  sehingga bikin gue tertarik dan kebetulan karena faktor gue "enggak enakan" orangnya kalau ada temen yang nawarin apapun, seringnya gue beli dagangannya walaupun gue gak butuh-butuh banget. Termasuk yang ini. Karena dia udah cas-cis-cus ngejelasin panjang-lebar produk yang dia jual, ya udah, lah, ya, dibeli aja. Akhirnya terjadilah transaksi.

Ini usaha gue yang terakhir buat gemukin badan. Jadi, gue harus yakin kalau madu -yang harganya lumayan mahal- ini bisa membantu usaha gue buat gemukin badan dengan cara merangsang nafsu makan. 

Udah seneng banget lah gue ngebayangin kalau produk ini sampe beneran berhasil bikin badan gue berisi seenggaknya gue gak harus repot-repot kalau mau foto harus cari-cari angle yang pas biar gak kelihatan kurus. Karena selama ini kalau gue foto mesti berulang kali supaya gue gak nampak kurus. Njiir, motivasi gue gemuk cuma itu. Biar bagus saat difoto. Ya Tuhan... Hempaskan.

Excited banget gue nungguin kiriman paketnya dateng.
Dua minggu berlalu. Paketan belum sampai juga. Gue tanya itu si temen gue yang jualnya, katanya belum sampe karena barangnya aja belum dikirim dengan alasan doi sibuk gak sempet ke JNE, njir.
Untung gue orangnya penyabar dan "enggak enakan", jadi gue santai aja.

Sebulan berlalu. Belum ada mamang JNE ngetuk pintu rumah. Gue hubungi si penjualnya. Lagi, dia jawab emang barangnya belum dikirim, masih sibuk dengan kerjaannya. Untung gue orangnya penyabar dan "enggak enakan", jadi gue santai.

Si kawan yang gue ceritain kalau gue beli madu dan udah sebulan barangnya belum sampe juga, dia yang emosi. Katanya gue bego. Masa order udah sebulan dan barang belum nyampe gue masih santai dan sabar aja atau coba negur agak sedikit keras ke si penjualnya. Ya, gue bilang, gue orangnya "enggak enakan" mau negur-negur begitu. Si kawan jawab, "Baik sama bego itu emang beda tipis, sih, ya. Sini, mana akun si penjualnya biar gue labrak. Biar gue aja yang ngomong suruh balikin duitnya aja." Waduh! Ya, nggak usah, lah, ntar malah gue yang enggak enak sama si penjualnya. Mana dia juga masih temen gue juga, kan. Sekali lagi dia ngucapin, "Baik sama bodoh emang beda tipis." 

Iya juga, sih. Akhirnya gue beranikan diri hubungi si penjualnya dan negur agak sedikit keras. Gue kasih tenggat waktu kalau sampai tanggal sekian barang gak sampai, gue mau uangnya dibalikin aja titik. Ceile gue sok galak gitu nge-chat ke dia. Tapi, ya, setega-teganya gue ke orang, tetep aja setiap ngetik selalu disertai emot nyengir. Gue, kan, orangnya "enggak enakan".

Gak lama setelah gue chat, barangnya dateng. Jadi, hampir sebulan setengah, lah, terhitung dari mulai order sampai akhirnya barang itu sampai ke tangan. Biar lebih dramatis aja makanya gue ceritain dulu cara dapetin itu produk "penambah nafsu makan" memakan waktu yang sangat lama dan penuh emosi.

Ketika barangnya sampai, dengan semangat gue menguliti lapisan pembungkusnya. Taraaa...!!! Madu yang gue tunggu-tunggu udah digenggaman. Gue baca baik-baik setiap tulisan yang melekat di dinding botol. Sedikit sekali tulisannya. Bahkan di situ tidak ada indikasi bahwa madu tersebut bisa menambah nafsu makan. Jadi, dari sekelumit tulisan tadi gue tidak mendapati informasi penting terkait khasiat si madunya itu apa, kecuali tulisan singkat "madu alami bisa disajikan sebagai makanan pendamping, dicampur dengan minuman atau sebagai selai roti". Ppfft.

Namun, karena dari awalnya gue udah percaya bahwa madu yang gue beli bisa menambah nafsu makan, jadi gue pikir gak perlu ada tulisan untuk meyakinkan bahwa itu benar madu penambah nafsu makan.

Gak pernah menjadikan madu sebagai selai atau campuran minuman, makanya gue memutuskan untuk makan madunya langsung satu sendok setiap hari. Bahkan, anjuran takaran dan harus dikonsumsi berapa kali sehari pun nggak ada. Ya, gue ngarang sendiri aja, satu sendok sehari. Lagian itu madunya manis banget. Kalo gue konsumsi juga sampe nyengir-nyengir bergidikan. Manis banget asli. 

Terus efeknya gimana setelah gue konsumsi rutin?

Jadi gini, ya...

Ini, entah memang madunya benar-benar berkhasiat atau cuma karena dari awal sugesti gue yang kuat bahwa madu ini benar-benar madu penambah nafsu makan, sehingga dua atau tiga hari setelah mengonsumsi madu tersebut gue ada sedikit perubahan dalam urusan makan. 

Maksudnya, untuk porsi makan berat (nasi), sih, sama. Lantas perbedaannya apa?
Perbedaannya yaitu, pertama, yang biasanya gue jarang bahkan gak hobi ngemil, sekarang bawaanya pengen ngemil terus. Kedua, setelah makan makanan pokok (nasi - makan siang dan malam), biasanya perut gue udah gak mungkin nerima makanan apapun. Baik makanan ringan, apalagi makanan berat seperti aspal, bauksit,  bakso, siomay, mpek-mpek, bijih besi, dan sebagainya. Sekarang, sekali pun abis makan nasi, masih masuk, tuh, yang namanya bakso, dkk. Ketiga, sekarang gue udah bisa sarapan yang berat-berat. Semacam nasi kuning, ketupat sayur, bubur ayam, dll. Yang sifatnya karbo, lah. Mana abis sarapan minum susunya dua gelas coba. Pake es pula. Terus jam istirahat gue melipir ke deretan pedagang jajanan SD, kan, macem-macem. Banyak banget gue jajan.  Jam pulang sekolah gue setopin tukang remote mpek-mpek atau cilok-cilok gitu. Sampe di rumah, makan. Habis makan, nunggu tukang bakso lewat, gue beli. Biasanya gue gak pernah begini. Kayak yang gue bilang tadi, kalo abis makan gak bisa nerima lagi perutnya dengan makanan lain. Abis makan bakso, baru deh, tidur siang. Bangun tidur, makan lagi cemilan atau gorengan gitu, apa aja yang penting mulut gak diem. Njiirr... Sebelumnya gak pernah gue makan terus-terusan begini. Boro-boro. Liat makanan aja rasanya benci banget. Sekarang malah maunya makan terus.



Terus hasilnya gimana? Badan udah gemuk belum? Naik berapa kilo?

Nah! Ini yang bikin gue kecewa. Nafsu makan, sih, emang udah sedikit membaik. Tapi, berat badan belum juga naik. Lama-lama gue putus asa lagi, dah, usaha-usaha beginian. Buktinya gak ada perubahan di berat badannya sendiri.

Kalau kata si kawan, "Mungkin lu punya pikiran makanya gak gemuk-gemuk?"

Gue coba ngubek-ubek. Tapi gak nemu juga gue mikirin apaan. Kalau kata orang, mungkin gue mikirin pengen nikah. Njiir... Entah harus dengan cara apa gue ngeyakinin orang-orang bahwa itu gak sedikit pun terlintas di pikiran gue. Maksudnya, bukan berarti gue gak memikirkan pernikahan dan masa depan gue kelak, bukan. Tapi, maksud gue hal itu tetep gue pikirin tapi selama ini gue enjoy dengan hidup gue gak memikirkan terlalu dalam yang ampe hopeless gitu juga kagak, ahelah.

Gue berusaha cari tau apa yang jadi beban pikiran gue kalau begitu? Utang? Mikirin utang mungkin?
Hhh... Nggak ada utang nggak ada cicilan. Utang pulsa paling cuma seratus-dua ratus ribu, ahelah receh. Terus gue mikirin apaan? "Cuma elu yang tau," kata kawan gue.

Anggaplah pikiran-pikiran yang banyak diasumsikan orang adalah dua poin tadi. Nyatanya 98% tidak benar. Lantas?
Entahlah.

Daripada gue pusing mikirin gue punya beban pikiran apaan, nanti malah jadi kepikiran dan jadi pikiran itu sendiri yang selama ini gue cari. Ngomong apasih.

Mungkin faktor terakhir ini yang bikin gue gak bisa gemuk. Genetik. Ya! Banyak artikel yang gue baca bahwa ujung-ujungnya kenapa ada orang yang gak bisa gemuk adalah karena  faktor genetik. Jawaban ini yang gue rasa paling masuk akal. Bawaan bapak gue yang juga emang kurus. Titik. Case closed. (?)
----------
Suatu hari gue curhat dengan si rekan, "Kenapa, ya, gue begini? Mau gemuk aja susah. Padahal usaha gak kurang-kurang amat." Si rekan kemudian menjawab, "Elunya harus ikhlas. Ngelakuin usaha-usaha begitu jangan diniatin biar bisa gemuk atau bisa kurus. Yang penting udah ada usaha, ikhlas(kan)."

Jadi sodara-sodara, panjang-panjang gue bikin tulisan keluh-kesah begini, jawabannya cuma satu, (harus) IKHLAS.

Traveling Bukan Melulu Soal Uang

pixabay

Mungkin predikat gue sebagai "guru yang suka jalan-jalan" itu sudah melekat sekali di benak followers gue di beberapa akun media sosial. Sebetulnya sah saja. Namun, lain ladang lain ilalang, semua pikiran manusia tidak sama. Ada yang menganggapnya itu sebuah hal yang positif, namun ada juga yang menganggap sebaliknya. Ketika apa yang gue lakukan menjadi motivasi bagi sebagian orang untuk melakukan hal yang sama seperti gue, itu bagus. Namun, ketika ada sebagian orang yang berpikir sebaliknya, menganggap apa yang gue lakukan itu tidak logis, sontak mereka melakukan tindakan ofensif yang sudah masuk ke ranah paling privasi, mempermasalahkan status pekerjaan.

Profesi gue sebagai "guru honor" yang seperti kalian ketahui baik dari media massa atau dari kerabat, berapa, sih, gaji guru honor? Tak manusiawi bukan? Boro-boro untuk mencukupi kebutuhan tersier macam traveling, untuk beli bensin agar motor tetap bisa bernyawa aja udah syukur. Kasarnya seperti itu. Duit dari mana traveling kalau bukan dari hasil miara tuyul, jual ginjal, gadein sawah orang tua,  atau jadi simpanan Pak Dendy misalnya. Eh, kok gue geli sendiri, ya, ngebayanginnya. Hahaha. Astaghfirullah.

Sebetulnya tidak elok, ya, ngomongin gaji di hadapan siapa pun. Apalagi disebar ke publik.  Sayangnya, ada segelintir warganet yang kepo dengan ketidaklogisan tersebut. Guru honor kerjanya jalan-jalan terus, guru honor traveling-nya ke luar negeri, bla... bla... bla.... Sial betul, ya, gue. Status guru honor jadi kambing hitam.

Jadi, gini, ya...
Hmm...

Gue selalu percaya dan meyakini bahwa Tuhan itu kasih kita rejeki tidak hanya dari satu pintu. Ketika rejeki dari pintu yang satu tidak terbuka lebar, (gue masih percaya) Tuhan kasih buka pintu yang lain. Tugas gue hanya mengimani dan menjemputnya. Masih kurang logis? Kita diberi akal, skill, dan atau mungkin bakat. Ketika lu menerima keterbatasan sebagai -sudah- takdir hidup, ya, selamanya lu akan dalam keterbatasan. Tapi, ketika lu menggali potensi apa yang lu punya, Tuhan kasih satu lagi pintu rejeki dibiarkannya terbuka. Ketika melihat status gue sebagai guru honor adalah satu-satunya pintu gue menerima rejeki dalam bentuk materi yang tidak seberapa itu, jelas salah. Kita mengabaikan kemurahan Tuhan yang lain seperti: waktu, kesempatan, kesehatan, pertemanan yang sehat, lingkungan yang mendukung, jelas nikmat itu tidak kalah hebatnya dengan rejeki berupa materi.

Sekarang gue coba kaitkan dengan judul tulisan ini, bahwa "traveling bukan melulu soal uang". Memang, beli tiket pesawat, kereta api, atau voucher hotel itu pakai uang. Itu awal dari langkah kita pergi traveling. Fulus men fulus. Tapi, tau nggak, sih bahwa memiliki uang bukan satu-satunya faktor penentu yang melenggangkan langkah kita agar bisa traveling?

Ya, gue bilang bukan satu-satunya faktor karena ada komponen lain yang juga sama pentingnya, yaitu: waktu, kesempatan, kesehatan, dan keberuntungan.  

Gue beri contoh yang paling riil. Jauh-jauh hari gue sudah merencanakan pergi ke Malaysia bersama dua orang kawan. Tiket pesawat dan voucher hotel sudah kami bayar. Sebulan menjelang keberangkatan, si kawan gue yang satu memberi kabar bahwa dia tidak jadi ikut. Alasannya, tidak diberi cuti oleh atasan. See? Secara pekerjaan, karier, kemampuan finansial, jauh lebih oke ke mana-mana daripada gue yang cuma GURU HONOR, tapi nyatanya dia gak bisa traveling. Karena faktor apa pemirsa? Ya! Mungkin Tuhan belum kasih dia "waktu dan kesempatan" yang tepat untuk dia bisa pergi traveling.

Dua bulan sebelumnya, gue berencana solo-backpacking ke Malang. Tiket kereta api dan voucher penginapan sudah beres. Tiga hari menjelang keberangkatan, gue sakit. Sakitnya lumayan sakit banget. Apasih. Jelas gue tidak akan memaksakan tetap berangkat seandainya tak kunjung sembuh sampai hari H sekali pun semuanya sudah dibayar. Alhamdulillah-nya, satu hari menjelang hari H, gue sembuh. Dan ini membuktikan, bahwa "kesehatan" juga menjadi faktor penentu kita bisa pergi traveling atau tidak.

Semalem gue watsap si kawan buat ngajak trip ke Jogja bulan depan. Namun, nampaknya tidak akan pernah terjadi. Kenapa? Masing-masing dari kami tidak memiliki "waktu" yang pas untuk pergi nge-trip bareng. Jadi, gak bisa traveling karena apa teman-teman? Tidak memiliki "waktu". Tepat! Lantas gue coba mengajak kawan gue yang satunya, secara finansial gak usah ditanya. Dari segi kesehatan? Bokapnya ahli gizi, makannya mesti empat sehat lima sempurna, yang jelas dia sehat lahir batin, jiwa dan raga. Waktu? Doi sama kayak gue, guru juga. Waktu libur jelas banyak banget. Cuma bedanya dia guru swasta, beda kasta. Wkwkwk. Astaghfirullah... Gak boleh gitu... gak boleh gitu.
Doi semanget banget pengen ikut apalagi kita pernah nge-trip bareng. Anaknya asik juga. Tapi, dia balas apa coba? Sekarang udah susah dapet SIM (Surat Izin Main) dari suaminya. Hehehe. Gak jadi lagi, kan?

Terakhir, nih, gue kasih contoh dari faktor penentu berikutnya, keberuntungan. Bisa jadi gue nggak jadi traveling ke Malaysia seandainya waktu itu gue tidak dinaungi dewi fortuna. Gimana nggak? Gue telat dateng ke bandara. Pesawat take off pukul 14.10 WIB, 14.05 WIB gue baru nyampe check in counter untuk cetak boarding pass. Jelas ditolak sama petugasnya. Emang gue mau ngejar-ngejar pesawatnya di landasan kayak film Dono zaman dulu? Gue pikir oke lah bye Malaysia, gue ketinggalan pesawat. Gak jadi traveling.
Lantas siapa yang menyangka kalau ternyata pesawat yang akan kami tumpangi itu mengalami delay? Akhirnya kami diizinkan mencetak boarding pass kemudian lari sekencang-kencangnya menuju boarding gate. Jelas di sini bahwa faktor keberuntungan membuktikan segalanya. Apa jadinya kalau pesawat tadi terbang tepat waktu? Ya, kami tidak akan pernah pergi ke sana. Balik lagi ke rumah. Bilang ke orang rumah, gak jadi piknik. Ketinggalan pesawat. Hahaha

Banyak, sih, kejadian yang membuka mata kita bahwa benar traveling itu tidak melulu soal uang. Kalau boleh gue cerita satu pengalaman lagi, nih. Boleh, ya? 

Hari Jum'at gue ke Bandung,  Sabtunya ke Jakarta, Minggu udah di Bogor. Ngapain? Jalan-jalan tentunya. Dipikir secara logis, kalau masih bawa-bawa status gue yang guru honor, apa mungkin itu terjadi? Duit dari mana? Sementara Sabtu depannya gue udah cabut ke Malaysia. Banyak kali duit aku jalan-jalan terus. Hahaha Seperti yang gue bilang, pertemanan yang sehat dan lingkungan yang mendukung juga alasan kenapa gue (kelihatannya) jalan-jalan terus. Bersyukurnya gue adalah dikelilingi oleh teman-teman (walaupun sedikit) yang apa, yah? Ah, ini susah diungkapkan. Mereka terlalu teramat sangat baik sekali. Kalimat terakhir itu sebagai upaya menjilat, sih. Hahaha Tapi serius gue punya kawan semuanya baik. MashaAllah, Allah kasih rejeki dalam bentuk lain.

Jadi, setiap komponen tadi saling berkaitan, bukan? Kalau tidak kita miliki salah satunya, bisa apa?
Jika status pekerjaan dijadikan tolok ukur seseorang boleh atau bisa traveling atau tidak, buang jauh pikiran itu mulai dari sekarang. Jagat raya ini luas sekali melebihi dari apa yang kita bayangkan. Maka jangan kerdilkan pikiran kita. Terbukalah dengan yang manis. Sudah viral driver ojek online bisa keliling tiga negara, setelahnya dengan profesi yang sama, tau-tau foto di bawah menara Eiffel. Sementara kita yang lain, pikiran mereka masih terjebak memikirkan hal-hal yang mereka anggap tidak logis.

Gue tidak sedang berusaha meluruskan dugaan mereka yang tidak sehaluan dengan gue. Gue cuma mau sedikit membuka celah untuk melakukan -kalau dalam istilah sepak bola- counter attack (serangan balik). Di mana filosofi dari serangan balik adalah "kemewahan dari mereka-mereka yang terbatas. Selalu ada jalan bagi mereka yang enggan menyerah, bagi siapa pun yang tak sudi takluk dengan cuma-cuma", Zen RS dalam bukunya yang berjudul Simulakra Sepakbola.

Pengalaman Jalan - Jalan Naik KRL

sumber google

Bagi sebagian warga Jakarta dan sekitarnya mungkin tidak asing dengan salah satu moda transportasi massal Kereta Rel Listrik (KRL) atau yang biasa disebut Commuterline. Namun, bagi gue yang berdomisili di Banten, yang sebagian besar wilayahnya masih belum tersentuh dengan alat transportasi yang satu ini, menaiki KRL merupakan pengalaman yang seru dan menggemaskan. Rupanya gue baru melek modernisasi, ternyata salah satu kota di Indonesia sudah memiliki sistem transportasi yang menurut gue baik.

Tak kenal maka tak sayang. Supaya gue lebih mengenal alat transportasi yang satu ini, maka gue mencoba untuk berjalan-jalan menggunakan KRL dengan tujuan Serang - Bogor. Cukup mudah memang, walaupun perjalanan pertama harus dilalui dengan menggunakan kereta ekonomi terlebih dahulu untuk menuju Stasiun Rangkasbitung. Dari Stasiun Rangkasbitung ini, barulah petualangan menaiki KRL dimulai. Dengan tarif hanya Rp 8.000, gue menuju tujuan pertama, yakni Stasiun Tanah Abang (transit), sebelum nantinya akan melanjutkan perjalanan ke stasiun tujuan akhir, Stasiun Bogor yang bertarif Rp 6.000.

Sebetulnya ini bukan pengalaman kali pertama, sebelumnya pun pernah ke Tangerang dan Bogor menggunakan KRL. Bedanya, waktu itu gue pergi bersama kawan. Ketika pergi bersama kawan, tentulah gue hanya mengikuti ke mana ia pergi. Tanpa tahu cara membeli tiket, mencari rute, dan menuju jalur yang mana pun tidak gue perhatikan. Gue hanya tinggal mengikutinya dari belakang kemudian duduk manis, tahu-tahu sudah sampai tujuan. Lain halnya seperti saat ini, gue pergi sendiri, mencari tahu sendiri, cara membeli tiket, menempuh rute ke mana, masuk ke jalur yang mana, jadwal keberangkatan dan ketibaan pun gue cari tahu. Ternyata tidak sulit. Kalau mau agak susah sedikit, ya, bisa tanya infonya via akun Twitter-nya Commuterline, fast response, kok. Tapi, cara yang lebih mudah tentu tinggal men-download aplikasi KRL Access. Semua informasi ada di situ, mulai dari posisi kereta, jadwal dan rute, peta lokasi, sampai untuk mengetahui tarifnya pun ada.

Ketika turun di stasiun pun papan-papan petunjuk terpampang nyata dan jelas. Kalau belum yakin, tinggal tanya ke petugas yang seliweran di situ, pasti dibantu.

Cukup worth it lah, ya, dengan tarif yang jauh lebih murah, akses pun dipermudah. Walaupun kalau gue bandingkan perjalanan Serang - Bogor menggunakan KRL ini memakan waktu dua kali lipat lebih lama dibandingkan kalau kita naik bus (yang jauh lebih cepat). Salah satu faktornya menurut gue mungkin karena belum adanya ketersediaan KRL sampai ke wilayah Serang. Selebihnya, aku sih, YES.