Selayang Pandang


Guru SD yang suka jajan es kopi Good Day Mocacinno di jam istirahat. Atau kalau misalnya ngantuk banget biasanya lebih suka kopi versi panasnya, ditemenin sosis goreng, kue cubit, atau cilok ala-ala jajanan anak SD, itu udah jadi tandem yang pas banget buat lini pertahanan a.k.a ganjel perut.

Ngomongin 'lini pertahanan' yang bahasanya udah 'sepakbola' banget, gw termasuk salah satu penikmat sepakbola layar kaca. Saking sukanya sama sepakbola, gw sering membayangkan diri gue jadi pelatih sepakbola, yang berdiri di pinggir lapangan sambil teriak-teriak kasih arahan dan motivasi kepada pemain layaknya Pep Guardiola. Kemudian 'jingkrak-jingkrak' ala Jurgen Klopp saat selebrasi kemenangan. Atau tetep kalem ke-bapak-an seperti Arsene Wenger. Gak tau kenapa gw suka aja ngebayangin jadi pelatih sepakbola gitu, nyusun taktik, seleksi pemain untuk starting line up kayaknya seru. Hahaha Absurd, Guru SD tiba-tiba jadi pelatih sepakbola, cewek pula, mana level Eropa. Namanya juga ngayal ya, kan? Iya.

Selain sepakbola, juga suka banget motret. Suka doang, sih. Gak sampe sayang, apalagi sampe ingin memiliki. Nggak. Gw juga suka banget liatin langit pagi, kadang gw suka perhatiin bentuk awannya, liat pepohonan, liat yang ijo-ijo gitu deh. Terus yang paling gw gak suka adalah;
- orang yang suka buang sampah sembarangan
- pengendara yang suka nglakson saat lampu baru ijo *selow dong, bro!
- ada yang bilang, "Jangan lupa oleh-oleh, ya!"
- ada yang bilang, "Gak ngajak-ngajak!"
- ada yang nge-chant "Hala Madrid!"
Yang terakhir provokatif banget. Hehehe

Sekiranya cukup dulu~



 

Ranah Kognitif

Ranah Kognitif


    Ranah Kognitif
Menurut Benjamin S. Bloom (dalam Makmun, 2004: 26), secara garis besar ranah kognitif terdiri dari tahapan:
·         Knowledge (pengetahuan)
·         Comprehension (pemahaman)
·         Application (penerapan)
·         Analysis (penguraian)
·         Synthesis (memadukan)
·         Evaluation (penilaian)

Namun pada perkembangan selanjutnya, taksonomi Bloom ini mengalami revisi pada tahun 1990 oleh seorang murid Bloom yang bernama Lorin Anderson. Dan baru dipublikasikan pada tahun 2001 dengan nama Revisi Taksonomi Bloom. Dalam revisi ini ada perubahan kata kunci, masing-masing kategori masih diurutkan secara hirarkis dari urutan terendah ke yang lebih tinggi. Pada ranah kognitif kemampuan berpikir analisis dan sintesis diintegrasikan menjadi analisis saja. Dari jumlah enam kategori pada konsep terdahulu tidak berubah jumlahnya karena Lorin memasukan kategori baru yaitu creating yang sebelumnya tidak ada.
Taksonomi  hasil revisi Anderson pada ranah kognitif adalah: 
·         Remember (mengingat)
·         Understand (memahami)
·         Apply (menerapkan)
·         Analyze (menganalisis)
·         Evaluate (mengevaluasi)
·         Create (mencipta, berkreasi)
Dari beberapa tahapan tersebut, hanya tahapan mengingat, memahami, dan menerapkan yang cocok untuk diterapkan di sekolah dasar, sedangkan analisis dan dan sintesis baru dapat dilatihkan di tingkat sekolah menengah, atas, dan perguruan tinggi secara bertahap (Arikunto, 2005: 121).
Berdasarkan tahapan yang cocok diterapkan di sekolah dasar. Zainul dan Mulyana (2007: 35-36) menjelaskan bahwa:
Pengetahuan adalah tingkatan yang paling rendah dari tujuan pendidikan. Aspek ini menunjukkan kemampuan untuk mengingat kembali atau mengenal informasi yang dipelajari sebelumnya. Informasi yang masuk ke dalam ingatan murid bisa dalam bentuk pengetahuan tentang fakta, terminologi, peristiwa, nama, data, hubungan dan yang lainnya. Pengetahuan fakta mulai dari yang spesifik sampai pada yang universal atau abstrak. Kategori pengetahuan merupakan aspek yang mudah diajarkan dan dievaluasi.

Pemahaman adalah kemampuan untuk memahami arti secara harfiah dari materi, kemampuan menangkap arti dan maksud dari materi, dan menyatakan kembali informasi dengan kata-katanya sendiri. Bentuk kemampuan yang disajikan dalam pemahaman ini ialah kemampuan menerjemahkan dan menginterpretasi. Informasi yang diterima oleh siswa bisa dalam bentuk data yang dapat diperoleh melalui sumber-sumber tertentu. Sumber-sumber tersebut misalkan peta, bagan, grafik, ensiklopedi, atlas, dan lain-lain.
Aplikasi adalah kemampuan menggunakan atau mentransfer apa yang diketahui ke dalam situasi baru, seperti mengaplikasikan sebuah konsep, generalisasi atau suatu proses ke dalam situasi baru. Dalam kategori ketiga ini secara esensial adalah kemampuan siswa untuk dapat menggunakan apa yang telah ia pelajari, siswa dapat menggunakan pengetahuannya untuk memecahkan masalah.

Kognitif

Kognitif



A.    Pengertian Kognitif
Neisser (dalam Uno, 2008) Istilah cognitive berasal dari kata cognition yang padanannya knowing, berarti mengetahui. Dalam arti luas, cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi populer sebagai salah satu domain atau wilayah/ ranah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan.
Adapun yang dimaksud dengan psikologi kognitif adalah suatu wujud perkembangan teori kognisi mengenai proses berpikir. Hal tersebut dapat dipelajari dari definisi ahli psikologi kognitif, seperti berikut ini.
(a) Menurut David Groome (dalam Kuswana, 2011: 81), psikologi kognitif merupakan psikologi yang mengkhususkan pada aspek pemahaman dan pengetahuan dalam mempelajari proses mental. Dengan kata lain, psikologi kognitif mempelajari bagaimana otak manusia memproses informasi.
(b)  Menurut Brown Carol (dalam Kuswana, 2011: 81), psikologi kognitif mencakup materi yang berhubungan dengan topik-topik, perhatian, persepsi, memori, bahasa, berpikir, dan membuat keputusan.
(c)  Menurut Mark Ylvisaker, Mary Hibbard, dan Timothy Feeney (dalam Kuswana, 2011: 81), psikologi kognitif adalah cabang psikologi yang mempelajari proses mental, termasuk bagaimana orang berpikir, merasakan, mengingat, dan belajar.  
Pendapat-pendapat tersebut memiliki kesamaan pandangan, yakni pentingnya mempelajari aspek proses mental manusia dalam konteks kehidupan sehari-hari, khususnya yang berkaitan dengan kebermanfaatan. Fokus utama dari psikologi kognitif adalah bagaimana orang memperoleh, memproses, dan menyimpan informasi. Ada banyak penerapan praktis untuk penelitian kognitif, misalnya dengan cara meningkatkan daya ingat, akurasi pengambilan keputusan, dan struktur kurikulum pendidikan untuk meningkatkan pembelajaran.
Proses kognitif merupakan gabungan antara informasi yang diterima melalui indra tubuh manusia dengan informasi yang telah ada dalam ingatan jangka panjang. Interaksi kedua informasi terjadi dalam memori kerja. Kemampuan pengolahan  dibatasi oleh kapasitas memori dan faktor waktu. Sebagai akibat dari proses kognitif, tercipta tindakan yang terpillih, mencakup proses kognitif dan proses fisik berupa gerakan anggota tubuh dan suara. Tindakan ini juga dapat berupa tindakan pasif, yakni berupa aktivitas yang telah biasa dilakukan sebelumnya.
Pengetahuan, keterampilan, sikap dan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan yang dimiliki seseorang diperoleh melalui proses belajar. Belajar, apapun yang dipelajarinya, pendekatan, strategi, dan metodenya, keberhasilannya tergantung kepada fungsi memori pembelajar tersebut. Para peneliti psikologi kognitif menemukan salah satu hambatan dalam belajar disebabkan oleh masalah memori. Bahkan pribadi yang mempunyai kapasitas memori yang normal sekalipun harus mengoptimalkan sumber daya memori secara efisien untuk mencapai hasil belajar yang optimal.
Psikologi kognitif saat ini berkembang melalui penelitian dengan metode percobaan untuk memperkirakan proses kognitif yang diuji secara empiris, dengan asumsi perilaku di bawah kondisi terkendali.