Camp Nou, Mimpi di Dalam Mimpi


Tribun penonton sudah penuh. Para supporter seperti sudah tak sabar ingin menyaksikan laga klasik antara kesebelasan Barcelona kontra Real Madrid. Begitu juga denganku. Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Bisa menyaksikan laga secara langsung dan duduk di salah satu sudut stadium terbesar di Spanyol, Camp Nou.

Kick off hanya tinggal beberapa menit. Kupandangi keadaan seisi stadium. Mosaik-mosaik tanda penghormatan kepada Johan Cruyff mulai dibentangkan. Sayup-sayup terdengar suara narator yang mengumumkan bahwa pertandingan akan segera dimulai.

Seketika pemain dari kedua kesebelasan memasuki lapangan. Ah! Sepertinya sekali lagi aku harus mencubit lenganku untuk memastikan bahwa yang kulihat ini bukan mimpi. Menyaksikan dua pemain terbaik dunia, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo berada dalam satu lapangan. Aku terpana dan larut terbawa suasana. Hingga aku terlupa untuk mengabadikan momen langka ini dengan telepon genggam yang sedari tadi hanya teronggok di dalam saku celana.

Suasana stadium semakin emosional saat minute's silence mengenang almarhum Johan Cruyff. Mata kamera membidik tribun penonton, terdapat mosaik bertuliskan GRACIES JOHAN. Kontribusinya yang begitu besar pada dunia sepak bola, terutama bagi klub Barcelona, membuat semua orang mencintainya. Tak terkecuali bagi para pemain rivalnya, Real Madrid. Dalam big screen terlihat pula mata Sergio Ramos berkaca-kaca. Terlebih, para penggawa Barcelona, termasuk sang entrenador Luis Enrique. Sebuah laga kandang yang sempurna.

Priiiiittt... Wasit meniup pluit babak pertama. Namun, pikiranku masih tak tentu arah. Kenapa tak kunikmati saja pertandingan ini tanpa harus bertanya-tanya tak percaya mengapa aku bisa sampai ke tempat ini.

Aku semakin gelisah. Mungkin aku butuh segelas kopi untuk sedikit menenangkan pikiranku. Apakah aku harus beranjak ke luar hanya demi segelas kopi? Melewatkan sang maestro si kulit bundar menari di lapangan tanpa tepuk tanganku? Sepertinya tidak. Lebih baik kutunggu saja penjaja kopi yang biasanya menghampiri penonton yang sekedar ingin membasahi tenggorokannya. Namun, sedari tadi memang tak kulihat satu pun bapak-bapak si penjaja kopi yang biasanya terlihat berseliweran di antara riuhnya para penggila bola. Atau mungkin dia lebih memilih menikmati big match ini dibanding menjajakan kopinya pikirku. Ternyata sekali lagi kutemukan diriku di antara alam bawah sadar. Terhenyak. Ini bukan stadium yang biasa kumasuki saat di tempatku. Ini stadium kaliber dunia. Dengan pengamanan super ketat, tak mungkin ada seorang penonton yang membawa termos dan sekotak rentengan kopi bisa lolos dari penjagaan pintu masuk. Mustahil.

Tiba-tiba suara penonton semakin riuh. Aku tak menyimak. Kulihat tayangan ulang pada layar. Suarez gagal menyambut bola hasil umpan silang Neymar. Belum beruntung. Waktu masih panjang, tapi entah mengapa aku merasa seperti cenayang. Seolah bisa membaca pertandingan ini akan berakhir dengan hasil diluar ekspektasiku.

Menit ke-17. Papan skor masih menunjukkan angka 0 - 0. Wasit memberi kartu kuning kepada Sergio Ramos akibat pelanggaran yang dilakukannya terhadap Suarez di luar kotak penalti.

Messi dan Neymar memasang kuda-kuda, bersiap untuk melakukan tendangan bebas. Dan lagi. Aku seperti cenayang. Menerka bahwa Messi lah yang akan mengeksekusi tendangan bebas tersebut.

Dan benar saja! Dengan kekuatan kaki kirinya, bola meluncur tajam ke arah gawang melewati pagar betis para pemain bertahan kubu Real Madrid. Aku mengernyitkan dahi agar lensa mata terfokus pada arah meluncurnya si kulit bundar. Tak kubiarkan mata ini berkedip sebelum tahu ke mana bola akan mendarat. Apakah berhasil masuk ke dalam gawang yang dijaga Keylor Navas, yang berarti akan mengubah papan skor menjadi 1 - 0. Atau sebaliknya, bukan suatu tendangan ancaman bagi sang penjaga gawang?

"Oouuwwhh...."
Suara bergemuruh saat bola tendangannya hanya melewati mistar gawang. Namun bola tersebut masih meluncur dengan derasnya ke arah tribun penonton yang berada tepat di belakang gawang.

Tiba-tiba.

Braaakkk!!! Bola itu mendarat tepat di wajahku. Hantaman itu membuat telingaku mengiang keras. Tak lama kemudian aku merasa berada di dunia yang lain. Mataku terpejam dan aku tak bisa mengingat apa pun.

Setelah berapa lama kemudian, mataku mulai bisa kubuka sedikit demi sedikit. Kulihat kerumunan orang menatapku penuh cemas. Dan di antara mereka ada yang memanggil-manggilku.

"Bu!"
"Bu...!"
"Bangun, Bu!"

"Ibu? Kenapa di negeri matador ini mereka tak memanggilku dengan sebutan senora, atau senorita?" Pikirku dalam hati.

"Ibu ngantuk yah?"
"Semalem pasti abis nonton bola ya?"
"Ini es kopinya, Bu!"


"Hah?" Aku tersentak.

Ah! Rupanya aku tertidur pulas di dalam kelas. Kuperbaiki posisiku. Berusaha menegakkan kepala yang sejak beberapa menit lalu tergeletak di atas meja. Ya, aku ingat sekarang. Selepas aku mengajar tadi, mataku terasa berat dan secara tak sengaja aku tertidur. Sebelum tertidur itu lah aku sempat meminta salah seorang muridku untuk membelikanku segelas es kopi di kantin sekolah. Mereka seperti sudah tahu betul kebiasaanku yang suka menonton pertandingan bola. Memesan es kopi adalah ciri yang menunjukkan bahwa malam harinya aku telah menyaksikan sebuah laga sepak bola.

Kuterima es kopi yang disodorkan tadi. Aku minum seteguk untuk memulihkan ingatan dan penglihatanku yang belum sempurna. Jam istirahat hanya tinggal beberapa menit lagi. Bergegas kutinggalkan kelas. Kulangkahkan kaki menuju ruang guru dengan menggenggam segelas es kopi di tangan kananku. Selama perjalanan dari kelas menuju ruang guru, aku sambil tersenyum mengingat mimpiku tadi. Mimpi untuk melihat pertandingan secara langsung di Camp Nou ternyata masih menjadi mimpi di dalam mimpi.