Showing posts with label Traveling. Show all posts
Showing posts with label Traveling. Show all posts

Sunday, July 26, 2026

Jatuh Cinta pada Pandangan Kedua

Sumber: foto pribadi

Selain Singapura, Thailand adalah salah satu negara yang gak pernah masuk dalam wishlist ''negara tetangga yang pengen gue datengin''. Gak tau kenapa, pokoknya dengan budget yang hampir sama, gue prefer bolak-balik ke Malaysia buat jajan lekor sama Milo ais. Kalau Singapura udah jelas dengan branding-an negara yang serba mahal gak cocok buat kaum mendang-mending. Sementara Thailand yang ada di otak gue yang bikin negara itu booming adalah Phuket dan Pattaya-nya. Sebagai orang yang kurang suka dengan pantai otomatis gak masukin Thailand ke dalam daftar rencana perjalanan, gue lebih memilih Brunei, Laos, dan Vietnam.

Sampai akhirnya di tahun 2023 ada momen yang memaksa gue pergi ke Thailand, yaitu nonton konsernya Blackpink. Ngonsernya sehari, tapi gue putuskan untuk stay di Bangkok sampai lima hari sekalian jalan-jalan.

Kesan pertama saat menginjakkan kaki di Bangkok, "Oh, oke, gue suka dengan Sevel-nya." Waktu itu posisinya baru sampai hotel hampir tengah malam dan buat ganjel perut udah paling bener pergi ke Sevel, makanan beratnya cukup lengkap.

Selama lima hari di sana gue cuma ambil kesimpulan, "Bangkok kurang lebih sama seperti Jakarta, dengan kemacetannya, ojek motornya, dengan angkot dan bus yang over kapasitas, dan kendaraan ngebutnya. Kayak yang 'Lu mau ke mana, sih, Bang, buru-buru banget bawa kendaraan'."

Tapi ada yang membedakan dari Thailand khusunya kota Bangkok ini. Di tengah kesemrawutan jalanan seperti Jakarta dan kota besar lainnya. Semacet apa pun, setumpah-ruah apa pun kendaraan di jalan, gak ada yang namanya polusi suara klakson. Macet, ya, macet. Ojek nyalip mepet kanan-kiri, ya, banyak. Tapi, gak ada yang berlomba saut-sautan klakson. Heran gue. Kok, bisa sehening ini di tengah jalanan macet. Kok, bisa ego pengendaranya gak ikut terbakar di tengah udara Bangkok yang super panas ini?


Ada satu hal lagi yang bikin gue terpukau dengan negara ini. Di tempat umum, pasar, taman, stasiun, halte, terminal, bandara, dll. GAK ADA SATU PUN YANG MEROKOK. Bjiiir. Asli terharu banget nemu tempat di muka bumi yang gak ada asap rokok. Kayak, gue happy banget, rasanya pengen tiba-tiba pargoy sangking senengnya menghirup udara bersih di tempat umum. Hal yang gak akan pernah gue temui di Indonesia.

  Sumber: foto pribadi

Bayangin aja, di Indonesia, gue belain jauh-jauh dari Serang ke Sukabumi hanya untuk mengejar laki-laki lain, buat apa, sih, benang biru kau sulam menjadi kelambu. NGGAK.  Gue ke Sukabumi mau liat pepohonan, menikmati udara sejuk pegunungan, hal yang gak bisa gue dapet kalo di lingkungan tempat tinggal. Di kawasan Situ Gunung Sukabumi, kawasan sejuk,  ada orang dengan santainya ngerokok. Literally, di tengah hutan, ngerokok. Astagfirullah. Orang jauh-jauh pergi ke kawasan hutan dan gunung buat nyari udara bersih dirusak sama manusia gak bertanggung jawab ini.

Tiap makan di kedai pinggir jalan, makanannya belum dateng, pengamennya udah bolak-balik ampe tiga kali. Itu di negara kita. Di Bangkok, gak ada yang namanya pengamen jalanan. Orang lagi makan, dinyanyiin. Gak ada. Gue sampe heran, temen gue heran, Jokowi juga heran, kok, enak banget, ya, makan di pinggir jalan gak diganggu pengamen yang kadang mintanya sambil maksa.

Sumber: foto pribadi

Dengan keterpukauan yang gue sebutin tadi belum cukup bikin gue ngerasa kayak, "Gue kudu balik lagi, nih, ke Bangkok." Nggak sama sekali. Gue pikir satu negara cukup satu kali gue kunjungi, kecuali Malaysia. Hahaha. Gak tau mungkin ada pertimbangan lain yang bikin gue mikir cukup sekali ke Bangkok, selain agak gak sebebas cari makanan halal seperti di Malaysia, juga karena agak kurang nyaman dengan kesulitan nemu bidet kalau pergi ke toilet umum. Sebagai warga yang gak terbiasa cebok hanya pake tisu baik setelah BAK atau BAB, rasanya pertimbangan ini cukup ikut andil kenapa cukup sekali aja ke sana, meski bukan alasan utama. Lebih ke... 'mending uangnya dipake buat eksplor negara lain biar nambah pengalaman baru lagi'.

Sampai akhirnya ada di momen ketemu promo AirAsia. Ngide banget kalo dapet tiket mau terbang ke Malaysia lagi buat ngisi liburan sekolah. Seperti biasa gue ingfo ke si kawan ternyata gak nemu titik tengah perihal tanggal keberangkatan. Ada yang belum dapet cuti apalah-apalah. Akhirnya gue putuskan untuk pergi sendiri aja kali ini, ke Malaysia lagi, terlebih promo ke sana ada harga yang murah banget. Sebelum akhirnya dapet wejangan dari si kawan baiknya pergi ke Bangkok aja karena gue udah terlalu sering pergi ke Kuala Lumpur. Sepertinya si kawan udah muak banget liat gue sering ke KL. Wkwkwk.

Gue yang masih setengah hati 'iya-iya nggak-nggak' untuk pilih promo ke Bangkok, akhirnya check out juga, tuh, tiket. Tapi, kayak gak semangat seperti biasanya setiap mau traveling. Gue belum dibuat jatuh cinta pada pandangan pertama saat ke Bangkok pertama kali tiga tahun silam. Jadi, kayak yaudalah udah terlanjur pilih tiket PP Bangkok, liat nanti aja gimana.

Ada unpopular opinion kayak gini, "Visit every place twice. Once as a tourist and once as a traveler." Kata-kata itu kayak ngena banget di gue terlebih gue gak ada planning pergi ke tempat-tempat wisata di sana. Semua itu udah pernah gue lakuin waktu ke Bangkok pertama kali, menjelajah setiap tempat wisata terutama pergi ke tempat paling ikonik kayak temple Buddha, Icon Siam, Chatuchak, Pratunam, Jodd Fair, dsb. Kali ini gue ke sana bukan sebagai turis, tapi pelancong yang menyamar jadi warlok. 

Tiba hari H, gue yang meski pengalaman beberapa kali pergi ke negara tetangga tetep bawaannya degdegan karena ini kali pertama solo traveling. Ada sedikit rasa takut, cemas, tapi satu sisi senang dan bangga juga akhirnya bisa ke negara orang sendirian. Dan akhirnya momentum ini bikin gue bisa bilang, "Solo traveling ternyata cocok di gue." Malah nagih, pengen lagi kapan-kapan. Di konten terpisah nanti gue bakal tulis plus-minusnya solo traveling. Nunggu mood nulisnya.

Ada drama reschedule beberapa kali dari pihak maskapai AirAsia yang semula hanya reschedule jam sampai akhirnya tanggal keberangkatan akibat gonjang-ganjing konflik geopolitik di Timur Tengah dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Rencana semula stay enam hari jadi kepangkas hanya lima hari. Yaudah lah ya.

Lima hari di Bangkok gue sangat menikmati hari-hari di sana. Gak banyak pergi ke tempat wisata, tapi justru dengan melihat kehidupan sekitar gue merasa jatuh cinta sama kota ini. Jatuh cinta pada pandangan kedua.

Sewaktu duduk menyendiri di taman kota tiba-tiba gue mikir, apa yang membedakan Bangkok dengan Kuala Lumpur? Sama-sama menyediakan ruang publik yang bebas dari asap rokok, gak ada tukang parkir, gak ada pengamen, gak polusi klakson meski sedang di situasi kemacetan. Kendaraan di KL yang gue perhatikan tetap menjaga jarak aman dengan kendaraan di depannya. Tapi, tidak dengan di Bangkok. Di Bangkok abang ojek, abang Grab, abang taksi, kalo ada celah sedikit selagi bisa masuk, ya, masuk. Pepet terus. Namun, anehnya justru ketenangan sangat hidup di kota ini. Sebetulnya ruang publik menjadi tenang ketika gak bercampur dengan asap rokok, baik di KL maupun di Bangkok, terlebih lagi di Singapura. Tapi, Singapura gak gue mention di tulisan ini karena ia udah di next level, skip aja. Gue lagi meromantisasi kota Bangkok dulu. Wkwk.

Selama lima hari, tuh, gue coba cari apa jawaban dari pertanyaan yang gue ciptakan sendiri. Ternyata ada satu hal yang bikin gue mikir, "Oh, kayaknya karena... there are no ******* in Bangkok." Jawabannya gue keep sendiri aja apalagi ini hanya pendapat pribadi. Tapi, itu sih satu hal yang gue perhatikan yang membedakan Bangkok dengan KL.

Jadi, Bangkok, tuh, bukan perihal kemacetannya aja tapi tentang perasaan yang entah bagaimana bisa tumbuh di antara keramaian. Bangkok seperti punya cara sendiri untuk berjalan, tidak terlalu cepat untuk dilupakan, namun tidak terlalu lambat untuk membosankan.

Sumber: foto pribadi

Orang-orang, tuh, dateng ke Bangkok selain bawa koper juga bawa rasa penasaran. Pulang pun bukan hanya bawa oleh-oleh dan perjompoan, namun juga kenangan. Bangkok kayak ngajarin kita kalau perjalanan bukan perihal tempat yang kita datangi, tapi tentang perasaan yang kita bawa pulang. Sebab pada akhirnya  yang paling sulit dari meninggalkan Bangkok bukanlah menutup koper bukan juga meninggalkan hotel dan bandara. Melainkan menyadari bahwa setelah kembali pulang ke rumah, ada sebuah kota yang masih terus hidup di dalam ingatan. HIDUP JOKOWI!!!




Sunday, June 26, 2022

Jalan Kaki dari Sudirman ke Suropati

Gara-gara liat kutipan di buku yang lagi gue baca jadi dapet inspirasi bikin konten di blog. :)

"Berjalan-jalanlah. Kita perlu berjalan-jalan di luar, supaya pikiran kita dapat disehatkan dan disegarkan oleh suara terbuka dan tarikan napas yang dalam." -Seneca

Kemudian menjadi sumber inspirasi bagi Friedrich Nietzsche menghasilkan karya-karyanya saat dan setelah melakukan aktivitas berjalan-jalan, dalam hal ini berjalan kaki. Cuma jangan dibayangin Nietzsche jalan kakinya di daerah kawasan industri macem di Kabupaten Serang ini. Wkwkwk. Bukan ketenangan yang didapet tapi malah emosi. Beliau berjalan kaki di sekitaran danau, bukit, hutan pinus, di kaki Gunung Engadine Atas, atau kalau lagi musim dingin beliau jalan kakinya di sekitaran kota kecil di Genoa. 

Nih, lembah Engadine boleh nyomot dari Google masih ada watermark-nya.

Kalo ini ilustrasi jalan raya depan rumah gue kurang lebih sama seprti ini, jam lengang banyak kendaraan berat, jam masuk dan pulang kerja malah makin barbar. Wakakak, gusti Allah.

Dokumen pribadi yang gue fotoin sendiri. BAYANGIIIIINNN.

Gue sih maunya kalo lagi di rumah dan pengen ke Indomaret atau sekadar jajan beli gorengan ke depan itu ya jalan kaki aja gitu, toh deket. Tapi, jalan kaki di tempat gue, tuh, ibarat nganterin nyawa cuma-cuma. Jalan udah mepet ke pinggir aja, nih, udah diklaksonin angkot sama motor, astaga. Belum lagi banyak banget kendaraan berat macem truk, mobil molen, kontainer, yang gitu-gitu dah. Masih sayang nyawa mending gue tahan rasa ingin jajannya, atau kalo terpaksa banget, ya, milih ngeluarin motor yang pasti ngeluarin energi lebih banyak, ditarik-tarik motornya takut nyenggol kusen pintu.

Setop ngebahas kabupaten gue dibanding-bandingin dengan Swis dan Italy, jauh panggang dari api. Gue mau sharing pengalaman berjalan kaki yang menurut gue paling berkesan. Berkesan dalam arti gue merasa tenang, damai, hening meski bukan di tempat seperti hutan atau di kaki gunung. Tepatnya di tengah kota Jakarta. Waktu itu gak sengaja sama si kawan seperti biasa habis pulang nge-trip cari stasiun terdekat. Dari hotel ke Stasiun Cikini kami putuskan berjalan kaki sejauh 1,5 km, waktu tempuh 20 menitan. Dengan beban ransel yang menempel di punggung meski berat tapi gue menikmati setiap langkah menuju stasiun. Gue kok merasa adem, tenang, selama perjalanan gak riuh dengan kendaraan dan masih ada pepohonan rindang untuk menutupi terik. Cukup teduh untuk ukuran kota Jakarta.

Dari situ lah akhirnya gue pengen suatu waktu melakukan perjalanan yang sama -berjalan kaki- di tempat yang sama, sendiri, tanpa partner dan beban ransel.

Kebetulan gue suka banget dengan taman, gue betah duduk berlama-lama di taman baik ramean atau sendiri. Dan taman terbaik sejauh ini jatuh kepada Taman Suropati. Wakakak. Gue jauh-jauh dari Serang ke Jakarta cuma ingin duduk di taman berjam-jam. Belum seberapa, sih, kalau ke Jakarta. Karena pernah waktu itu sangking pengen banget duduk di taman, gue keretaan sampe ke Kebun Raya Bogor. Di situ gue cuma duduk selama dua jam, terus pulang. Emang random banget, sih. Tapi emang yang dicari adalah ketenangannya. Gue suka kereta, buku, jalan kaki, dan taman. Ketika empat amunisi itu jadi satu rasanya kayak dapet nikmat besar dari Sang Pemilik Semesta.

Tentang kereta dan taman kayaknya pernah gue bahas entah di blog ini atau di jawaban Quora, yang pasti sekarang ngasih ruang untuk 'jalan kaki'.

Dari sekian pengalaman berjalan kaki, rute dari Stasiun Sudirman ke Taman Suropati adalah yang paling gue suka. Mungkin karena di situ kawasan komplek rumah orang kaya jadi beda kali suasananya, ya. Wkwkwk. Gak gitu. Lebih ke sepanjang jalannya adem, rindang, ada suara hiruk-pikuk ala kota besar tapi terdengar jauh sekali. Tenang, saat jalan gue ngobrol dengan diri sendiri, relaksasi, gak perlu menyamakan langkah dengan teman seperjalanan karena gue jalan sendirian, lepasin semua identitas diri dan topeng sosial, lupa sejenak cucian piring, atau motor yang belum ganti oli. Suatu gambaran  kesederhanaan perihal kebahagiaan dapat dirasakan sewaktu berjalan kaki.

Sebagai penutup ada satu kutipan yan gue suka:

"Duduklah sesedikit mungkin, jangan percaya ide apa pun yang tidak lahir dari udara terbuka dan gerakan kaki yang bebas!" -Nietzsche

 

Monday, December 28, 2020

Kepepet, Gue Nyetrika Pakai Botol Aqua

Sumber Foto: Dokumen Pribadi

Sebagai perempuan minimalis yang ogah rempong bawa-bawa barang banyak saat liburan, nyumpelin baju di tas kecil adalah jalan ninjaku. Lagian kalau lagi jalan sama temen, dia selalu prepare bawa setrikaan yang bisa gue pinjam.

Sayangnya, pas kemarin staycation di Bogor si kawan gak bawa 'benda pelicin' tersebut sementara kemeja yang mau gue pake kusut banget. Ya, mau gak mau, dong, akhirnya gue menghubungi pihak hotel buat pinjam setrikaan. Tapi, resepsionisnya bilang semuanya lagi terpakai sama tamu yang lain. Gue gak mau nunggu lama-lama langsung search YouTube "cara merapikan baju yang kusut tanpa setrika" dan langsung gue praktikkan. Hahaha. 

Caranya adalah dengan memanfaatkan teko listrik untuk memanaskan air. Setelah mendidih, masukkan air panas tersebut ke dalam botol plastik Aqua bekas. 

Sumber Foto: Dokumen Pribadi

Tidak untuk ditiru, ya, btw. Ini gue lagi kepepet aja. Harus hati-hati juga karena botol plastik akan sedikit letoy terkena air panas meski gak sampai bocor.

Di bawah ini adalah foto kemeja gue yang kusut.

Sumber Foto: Dokumen Pribadi

Setelah botol terisi air panas gue mengutamakan menggosok di spot-spot yang paling kusut terlebih dahulu. Gak sebaju-baju juga yekan disetrika keburu airnya dingin dulu. Botolnya panas banget kalau dipegang dengan tangan kosong, jadi gue pakai handuk untuk alas telapak tangannya. It works. Cukup keliatan banget perbedaannya, kan? Hahaha.


Sekali lagi! Bukan untuk ditiru! 
Kecuali kepepet.


Wednesday, October 28, 2020

Gak Perlu Antri di Loket, Naik KRL Pakai LinkAja

Ilustrasi: Dokumen Pribadi

Sebagai penikmat KRL rasanya aneh aja gitu gue masih ngeliat pemandangan antrian seperti di atas. Padahal zaman sekarang udah dikasih kemudahan pembelian tiket KRL hanya dengan menggunakan uang elektronik semacam Flazz, Brizzi, TapCash, dll., tinggal tap, langsung masuk. Gue sendiri semenjak ada pilihan pembayaran melalui uang elektronik ini ngerasa nyaman banget terutama untuk hal efisiensi waktu yang sebelumnya gue harus membeli tiket harian/mingguan secara manual di loket yang ada di stasiun. Tentunya dengan menghadapi segala problematika macam harus mengantri, berdesakan, belum lagi kalau sampai ketinggalan kereta, jadi harus nunggu jadwal pemberangkatan kereta selanjutnya.

Gue pernah banget ngerasain pas hari Senin ke Stasiun Tanah Abang di pagi buta (sekitar jam 6) itu ternyata manusia se-Jabodetabek kayak tumpah semua di situ. Hahaha atau di Stasiun Bogor sore hari pas menjelang akhir pekan, beugh! Ngeliat antriannya aja gue udah pusing. Gue sampe ngebayangin kalo gue kerja di tempat yang lokasinya mengharuskan setiap hari dalam seminggu, pulang-pergi menggunakan moda transportasi ini bisa stres pas nyampe tempat kerja. 

Cobaan hidup seperti itu akan terasa sedikit lebih ringan kalau kita menggunakan sistem pembayaran uang elektronik. Sumpah, deh. Kayak gue yang cuma sesekali naik KRL aja ngerasa penting banget bawa Flazz. Hemat waktu.

Terlebih, nih, sekarang makin dimudahkan untuk urusan pembelian tiket. Gak perlu ngantri. Tinggal buka aplikasi LinkAja di handphone, shake hp-nya sampe nongol barcode, kalau udah keluar barcode tinggal scan ke gate masuk dan gate keluar yang ada logo LinkAja-nya. Asalkan ada saldonya minimal Rp13.000. Ya! Jadi harus ada saldo minimal ya di aplikasi LinkAja. Kalau lebih banyak saldo lebih baik. :)

Jadi, sistemnya, tuh, ketika kita tap in di stasiun awal keberangkatan saldo otomatis terpotong Rp13.000, tapi nanti kelebihan sisa saldo akan dikembalikan ketika tap out di stasiun tujuan. Misal, kita berangkat dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Bogor, itu kan tarifnya Rp6.000. Ketika tap di gate masuk Stasiun Tanah Abang saldo kita berkurang sebesar Rp13.000. Begitu sampai di Stasiun Bogor tap di gate keluar, kelebihan saldo sebesar sebesar Rp7.000 akan masuk lagi ke saldo LinkAja kita.

Ilustrasi: Website LinkAja

Ilustrasi: Website LinkAja



Makin mudah makin senang jalan-jalan naik KRL. :)

Sunday, October 6, 2019

Teman tapi Perhitungan


Gara-gara di‐tag ini di story Instagram, gue jadi pengen keluarin aib, eh, gak aib juga sih. Mungkin tepatnya Tips Agar Pertemanan Awet. Heleh.

Ini kisah gue dan si kawan, sebut saja Princess. Kami temenan udah lama banget sejak SMK. Hampir lima belas atau enam belas tahunan gitu, kalo diitung sejak kelas 1 SMK. Sebenernya waktu sekolah dulu gak akrab-akrab banget sama si kawan ini, kami beda gank, tau muka dia pun karena dijodohkan Tuhan tiga kelas setahun sama dia. Kebalik. Tiga tahun sekelas sama dia. Sampe gue hapal di gank-nya, gaya dia yang paling sengak.

Justru setelah lulus 'keakraban' kami dimulai. Ini gak ada diksi yang kasar buat ganti kata 'keakraban'? 
Konyol banget setelah lepas dari bayang-bayang muka sengaknya semasa sekolah, ternyata kami satu kampus, dong. Hadeuh. Untung beda angkatan dan beda jurusan. Tapi, dari situ lah benih kedekatan dimulai, cuih, geli gue. Di awal-awal masuk kuliah dia sok-sokan pinjem buku paket Akuntansi bekas sekolah dulu, sok-sok ngajakin main, sowan ke rumah temen, ngajak rafting, dan klimaksnya pas ngajakin trip di tahun 2014. Sejak dari situ, sih, akhirnya kami sering nge-trip bareng, baik ramean atau pun cuma berdua. Ya, berdua. Berdua. Seriously, berdua. Sama dia, berdua. Ya, sisa kami berdua akibat seleksi alam. Hahaha

Kenapa alam memilih dia, dan alam memilih gue untuk dia? -Ini kalimat apalagi sih yang barusan gue ketik ya Tuhan, jijik-
Dia satu-satunya temen yang paling gak ribet kalo diajak main. Waktunya selalu available. Uhuk. Gak banyak bacot berisik di grup bilang 'kangen pengen ngumpul' kayak yang lain tapi wacana doang. Kalo kangen, ya, langsung chat tentuin tempat dan tanggal ketemu, beres.

Akhirnya, setiap jalan sama si kawan ini, entah lagi nge-trip atau pergi main biasa, auto dia yang keluarin duit dulu dari mulai berangkat sampe pulang, karena kami itu males pas lagi makan atau bayar apapun dua-duanya ngeluarin duit. Biasanya gitu, kan? Semua pada sok-sokan ngeluarin duit sampe si kasirnya bingung harus ngambil duit yang disodorin siapa. Ya, kan? Padahal dalam hatinya, "Ya Allah semoga jangan duit gue yang diambil," kebaca deh pikiran lu semua.

Can relate, kan, foto yang gue post tiga tahun yang lalu ini sama meme di atas tadi? Lagi itung-itungan bahkan sampe ke receh-recehnya mesti akurat. Wkwkwk

Pertemanan kami bukan didasari oleh rasa 'gak enak'. Biarin aja dibilang perhitungan, toh, buktinya sampe sekarang hal kayak gitu udah biasa buat kami. Gue kalau jalan sama si kawan ini gak pernah bawa uang tunai banyak-banyak, alasannya ya itu emang gue punyanya dikit. Hehe

Kayak cuma pergi nonton aja, mulai dari beli tiket, cemilan, sampe makan, (terkadang) gue gak keluarin duit sepeser pun. Pokoknya tiap jalan udah kayak otomatis aja gitu dia yang keluarin duit, gue bagian nyatetnya beli/bayar apa aja tadi selama jalan. Pas pulang gue tinggal bayar cash ke dia atau sekarang-sekarang udah tinggal transfer aja terus kirim skrinsut catetan pengeluaran sama skrinsut transferan. Segitunya. Ada gak sih yang temenannya begini juga? Ada dong, plis! Biar gue ada temennya...

Ini belum seberapa, sih, dibanding waktu kami ngajak temen gue satu lagi nge-trip, sebut saja Oasis. Look-nya dia ini religius ala ukhti-ukhti gitu kan adem, jadi gue kasih sebutan Oasis. Hehe. Afwan. Salim dulu, ah, segan gue mau nyenggol-nyenggol si kawan yang satu itu di sini. Hehe. Duh, takut salah ngomong nanti gue disodorin kitab kuning. Afwan wahidun. Apaan tuh? "Sekali lagi maaf". Eh, malah bercanda sih gue Ya Rabb mon maap. 

Jadi, si Oasis ini selama nge-trip gak mau pake duit si Princess dulu dengan alasan gak mau punya utang. MashaAllah sekali kan. Jarang loh gue nemuin temen begini. Waktu itu ada satu keadaan yang memaksa dia akhirnya kudu pake duit si Princess ini dan pas dia balikin kurang seribu karena kebetulan gak ada uang kecil. Tau gak sepanjang jalan dia ngapain? Nyuruh gue ingetin kalau dia belum bayar yang seribunya. Terus gue bilang, "Yauda sih santai seribu doang ini." Eh, dia jawab, "Gue gak mau duit seribu itu jadi penghalang gue ke surga nanti." Anjir, lemah gue kalo udah bawa-bawa akhirat gini. Iyak iyak nanti gue ingetin. Pas gue ingetin, dia balikinnya dua ribu. Gue kasih kembalian seribu dia bilang gak usah, anggep aja sedekah. Buset muka gue keliatan miskin amat kali yak disedekahin uang seribu. Hahaha 

Pernah sempet beberapa kali kayak gue pengen share cerita ini di status medsos, tapi kayaknya gak puas gitu kalo gak panjang lebar begini. Ini pun baru kepikiran curhat di sini setelah liat meme tadi.

Ini sih beberapa contoh catatan pengeluaran ketika kami bepergian :')

Kalo pas nge-trip gini biasanya gue lebih suka nyatet manual di kertas karena khawatir hp cepet lobet. Ini rekap dari beberapa lembar kertas selama empat hari.

Nah! Segala beli ketoprak ada catetannya. 


Sampe pake Ms. Excel. Kerad.
Tiga skrinsutan terakhir itu catatan yang masih ke-save di hp, aslinya masih banyak banget. Terniat. 

Btw, kebiasaan ini terbentuk akibat sering nge-trip bareng jadi tau karakter masing-masing sehingga terciptalah chemistry kimia di antara kita. Ketika main pun, mainnya kami itu paling sebentar dua hari. Jadi, kudu-mesti-harus-wajib "buka kamar", anjir kesannya.
Tapi, keter-koneksi-an kami gak cuma sekedar itung-itungan duit, kok. Kalo kayak ada rencana mau main gitu, gue udah tau tugas gue apa, tugas dia apa. Heleh apaan sih, bcd.

Sekali lagi gue tanya, kalian temenannya ada yang begini juga gak, woy?!

Sunday, July 7, 2019

Hotel Murah di Jogja

Gue lebih suka menyebutnya "homestay".

Trip ke Jogja 4H3M gue kali ini singgah di dua homestay yang berbeda. Pertama gue menginap di Yez Yez Yez All Good Hostel dan kedua di Renny Homestay. Dengan tarif yang sama, mana yang lebih recommended?

1. Yez Yez Yez All Good Hostel


Dengan tarif Rp50.000 per malam gue suka banget dengan konsep homestay ini, kekinian dan instagramable. Di sini banyak tipe kamar yang disediakan, mulai dari yang model dormitory, kamar ngampar, private room, tenda sampai hammock. Wth? Hammock? Yak! Kebayang gak sih lu menginap di homestay dan tidur di atas hammock all day night? Haha gokil. 


Kebetulan kemarin gue pilih yang tipe tenda. Beneran tidur di tenda ala pendaki-pendaki gunung dan pihak homestay gak menyediakan storage untuk barang bawaan. Kalo mau ya simpen aja di luar tenda atau kalau barang berharga simpen di dalam tenda yang ukurannya gak segede dosanya Hitler. 



Begitu juga dengan tipe yang lain. Mereka gak menyediakan tempat untuk menyimpan barang bawaan kita. Disediakan loker bagi yang mau mengeluarkan uang ekstra.

Mau bahas sedikit yang tipe kasur ngampar. Apa itu kasur ngampar? Jadi, ya lu cuma disedian sebuah kasur, beneran cuma kasur doang yang ngampar di balkon atau di teras homestay tanpa ada sekat permanen antara tamu satu dengan tamu yang lain. Kebayang gak, sih, sampe sini?

Gue aja kaget waktu bangun tidur tiba-tiba ada kasur depan tenda dan ada si penghuni kasurnya. Gue dalam hati, apa-apaan ini ada orang tidur di atas kasur di mana kasur tersebut ngalangin pintu keluar-masuk tenda gue? Pas gue tanya si mbaknya, "Mbak, kok, tidur di sini?" Kemudian dia bilang emang pesan tipe kasur ngampar, anjirlah, kocak. Jadi, si mbak itu (solo backpacker) tidur tanpa tedeng dan alih-alih. Penyekat di antara tenda gue dan kasur dia itu cuma kata 'permisi', "Permisi Mbak, saya mau masuk...."

Oh, iya, kebanyakan tamu di sini tuh bule. Bagi yang penasaran betis orang bule ada bekas knalpot apa nggak, nginep aja di sini.


2. Renny Homestay


Rumah kost-an yang disulap jadi hunian sementara buat para backpacker ini juga cukup terjangkau. Dengan harga Rp50.000 per malam homestay ini menyediakan sebuah kamar, sebuah kasur, sebotol welcome drink, dan sebuah kipas angin dengan kamar mandi yang sama shared bathroom seperti homestay sebelumnya. Lokasinya lebih dekat ke bandara Adisucipto dan Plaza Ambarukmo. Untuk ke pusat kota membutuhkan waktu sekitar lima menit kalo yang bawa motornya Valentino Rossi. Kebetulan pake itungan gue yang bawa, jadi sekitar tiga puluh menitan.

Berbeda dengan Yez Yez Yez All Good Hostel yang kental banget nuansa-nuansa backpacker-nya, Renny Homestay ini kebalikannya. Nuansa-nuansa mahasiswa yang lagi ngekostnya berasa banget. Lebih hening suasana di sekitar sini. Si pemilik homestay-nya sepasang suami-istri yang ramah, dibolehin early check in selagi kamarnya kosong.


Cukup nyaman untuk sekadar merebahkan punggung setelah seharian naik motor.


Fyi: Kedua homestay tersebut tidak meyediakan peralatan mandi seperti handuk, sabun, sikat dan pasta gigi. Bawa sendiri aja, gais.

Dari ulasan di atas, gue prefer yang mana?
Sama aja, kebetulan di hari pertama dan kedua dapet homestay yang 'gue banget' ketika lagi bepergian dan di hari terakhir dapet homestay yang 'gue banget' ketika ingin beristirahat dari kemiskinan kelelahan.

Tertarik?

Budget Backpacker-an ke Jogja


Gue sedang menuju perjalanan pulang dari Jogja ke Jakarta di dalam kereta Bogowonto dengan tujuan akhir Stasiun Pasar Senen. Lama perjalanan memakan waktu kurang lebih delapan jam. Daripada gabut mending bikin konten.

Backpacker-an ke Jogja untuk keempat kalinya (gak bosen apa), di tulisan kali ini gue mau fokus ngomongin budget dan destinasi ke sana ala sobat mizkin backpacker.

Fyi, setiap ada rencana nge-trip gue gak pernah beli tiket kereta/pesawat, booking homestay, dan/atau sewa kendaraan secara mendadak, pasti sudah disiapkan jauh-jauh hari. Jadi, gak berasa berat ngeluarin duitnya Ya Lord. Kayak iseng aja gitu.

Banyak bcd langsung aja.

• Tiket Kereta Ekonomi PP (Pesan 3 Bulan Sebelum Tanggal Keberangkatan)
Rp150.000.
Booking Homestay 3 Hari (Rp50.000 per Hari - Pesan 2 Minggu Sebelum Hari H). Lihat rekomendasinya di sini.
Rp150.000.
• Rental Motor 2 Hari (Rp80.000 per Hari - Pesan 1 Minggu Sebelum Hari H)
Rp160.000.
• Uang Saku (Termasuk untuk Makan, Isi Bensin, Tiket Masuk, Parkir, Jajan, dll.)
Rp540.000.

Total gak lebih dari sejuta, kan?
Semoga abis ini gak ada lagi netisen ghibah kalo gue kebanyakan duit jalan-jalan mele. Ya amin aja, sih, sebenernya. Ha.

Disclaimer: Uang saku setiap orang gak bisa disamakan kebutuhannya. Gue termasuk anggota dari:
Anti Wisata-Wisata Kuliner Klub;
Anti Beli Oleh-oleh Klub.

Dengan budget segitu bisa ke mana aja?
Sekalian gue kasih itinerary-nya, yak. 

Hari ke-1:
• Tiba di Stasiun Lempuyangan sore hari
• Melipir ke Alun-Alun Kidul dan Jalan Malioboro

Hari ke-2:
• Punthuk Setumbu (HTM Rp20.000)
• Gereja Ayam (HTM Rp20.000)
• Bukit Rhema (Gratis)
• Candi Borobudur (HTM Rp40.000)

Hari ke-3:
• Puncak Becici (HTM Rp3.000)
• Kebun Buah Mangunan (HTM Rp5.000)
• Hutan Pinus di kawasan situ banyak banget gue gak hafal nama-namanya bodo amat  (HTM sekitar Rp3.000 - Rp10.000)

Hari ke-4:
• Melipir sebentar ke Malioboro pagi-pagi
• Pulang

Yak! Udah, ya! Makasih udah berkunjung :)

Wednesday, September 5, 2018

Spot Selfie Terbaik di Bandung

Malam itu, ada pemberitahuan masuk, ada yang mention gue di Twitter, si kawan. Sebuah thread tentang rekomendasi spot selfie terbaru di Bandung yang belum banyak orang tau. Gue scroll cuitannya, foto-fotonya keren banget. Tanpa pikir panjang, kami langsung memutuskan untuk pergi ke sana secepatnya. Tapi, nggak malam itu juga. Nunggu libur.

Kami yang "anti weekend-weekend klub" ini sudah pasti sangat-sangat menghindari bepergian di hari Sabtu dan Minggu. Selain rame, juga serba mahal kalau akhir pekan. Uhuk...

Kamis sore sekitar pukul empat kami berangkat dari Serang. Rencananya, sih, berangkat jam duaan gitu biar nyampe Bandung nggak terlalu malem. Tapi, ya, namanya juga cewek, ngaret dua jam, sih, masih dianggap wajar. 

Bus yang kami tumpangi mulai melaju. Mata gue yang sudah terbiasa tidur siang, auto merem saat di dalam bus, sementara si kawan asyik dengan Candy Crush-nya. Kami larut dalam dunia masing-masing.

Sesekali mata gue melek saat ada suara tukang tahu dan penjual permen asem bersahut-sahutan, "Lima ribu dua, lima ribu dua. Gratis cabe, gratis cabe..."
"Mijon dingin, mijon dingin..."
"Permen asemnya, Mbak, dua ribu satu, kalo beli tiga cukup lima ribu..."

Belum lagi suara sindiran pengamen, "Mbak-mbak yang cantik semoga tidak sedang pura-pura tidur...." Gue denger kata-kata "cantik" gitu merasa terpanggil aja, kan? Jadilah gue melek dulu sebentar.

Sambil liat jam, waktu sudah menunjukkan pukul enam. Bus masih merayap di jalan tol. Jalan tol mana entah. Gue merem lagi. Melek lagi. Merem lagi. Melek lagi, tau-tau sampe juga di terminal Leuwi Panjang sekitar pukul 9 malam dan langsung menuju hotel yang sudah kami pesan sebelumnya. 

Hotelnya nyaman tapi sayang gak nyediain sendal selop putih. Padahal selop putih itu bukti otentik kalo kita benar-benar nginap di situ. Kan, kalo keluar malem di sekitaran hotel pake selop putih sambil nyari nasi goreng ngarep  ditanya sama tukang nasgornya, 
"Mbak, nginep di hotel situ, ya?"
"Kok, tau, Mas?"
"Ya, itu si Mbaknya pake sendal hotel."

ANJAY SUMPAH NORAK!!! WAKAKAKAK

Oke, ya, bye! Malem itu gue langsung tidur pulas sampe subuh.

Namun, mata masih gnatuk banget -perhatiin aja gue sampe typo gitu- jadi kami lanjut tidur sampe pukul delapan pagi.

Akhirnya sekitar pukul sepuluh kami cabut menuju tempat yang ingin kami datangi, yaitu Centrum Million Balls. Waktu tempuhnya sekitar dua puluh menitan dari hotel di kawasan Pasteur itu ke tempat tersebut.

Berdasarkan informasi yang gue dapat, tempat tersebut dulunya adalah sebuah tempat wisata air, yak, kolam renang. Namun, sekarang disulap jadi tempat spot selfie terbaique. Wisata utamanya, sih, kolam mandi bola yang terluas yang pernah gue liat. Tapi, spot-spot yang lain gak kalah bagusnya. Tiket masuknya cuma Rp50.000 kalo weekday. Kalo weekend, sih, gue lupa berapa kagak liat. 

Tempatnya persis satu lokasi dengan SMAN 5 Bandung dan Taman Musik. Jadi, setelah ke situ bisa duduk-duduk dulu di taman sambil makan cuanki atau batagor di sekitaran situ. Makan kuaci juga boleh, tapi gak ada yang jual. Harus ke Indomaret dulu. Tapinya Indomaret lokasinya agak jauh dari situ. Jadi, mending gak usah nyari yang gak ada, deh, ribet amat idup lo. Emosi gue.

Pokoknya recommended bangetlah. Tapi, gue saranin kalau mau ke situ mending weekday, terutama hari Senin, kata si mbak-mbak penjaganya kalau Senin sedikit orang yang dateng, enak kalau mau foto-foto gak ada organ tubuh pengunjung lain yang ngalangin. Kalau udah weekend ke situ, ya, banyak-banyak sabar aja kalau mau foto. Mesti ngantri dan pasti kolam mandi bolanya penuh sangat. 

Oke, ya, udah gak sabar mau ngeracunin kalian dengan foto-foto yang gak seberapa ini...

Spot pertama yang gue kunjungi, tirai tali sepatu. Selfie di sini gak pernah dapet angle yang pas. Makanya sepatu aja yang jadi objeknya utamanya. Hhh

Walaupun terlihat menjijikan dengan pose kami yang seperti ini, tapi bodo amat. Ini tempatnya serba ijo. Disedian wig warna ijo juga. Kalo lu pake wig ini, ada dua kemungkinan, sih. Lu akan terlihat seperti Janeeta Janet, atau malah seperti Pak Tarno. Tolong dibantu, yaaa...

Kalau yang ini nggak usah dibahas. Percuma. Muka gue ketutupan. Kzl.

Fyi, buat melintirin jari begitu, gue butuh usaha, loh. Gak bisa, njir. Hhh

I'll "doodle" your heart. Apasih.

Biar cocok sama properti yang nempel di dinding, bagusnya kalo mau pose di sini, kening lu kena tancep anak panah. Krik.
 
Tes penglihatan. Coba cari gue di mana?
 
Kalian bebas di sini mau ngapain aja. Asal jangan minta bonekanya dibawa pulang. Jangan.
 
Botol-botol di belakang itu gak ada jin-nya. Jangan iseng buat bukain tutupnya.
 
 
Walaupun primadona dari tempat ini adalah kolam mandi bolanya, but this is the most favorite photo spot. Banyak banget yang ngantri di sini.

Ini dia primadona dari tempat ini. Wooaa... Bukan gue maksudnya. Itu bola-bolanya, loh. Bikin gue geer aja, dah.

Kalo lu ngebayangin kolam ini segede apa? Gue sertakan juga fotonya di bawah ini biar lu ada bayangan, walopun di foto ini gue terlihat seperti seonggok apaaa gitu. Ckckck

Oke, ya, cukup segitu. Terima kasih udah mampir.









Tuesday, June 5, 2018

Serius Hotelnya Angker?

Gambar Ilustrasi @pixabay

 Hari itu gue ditelepon oleh si kawan dan ngabarin kalau lusa dia ada tugas dinas ke Jakarta. Seperti biasanya, kalau udah begitu biasanya doi nyuruh gue nemenin dia selama di Jakarta. Gue, sih, oke. Sampai hari yang ditunggu tiba. Kami janjian ketemu di bandara pukul lima sore. Tapi, karena satu hal, gue telat dateng dari jam yang sudah dijanjikan. Macet, coy. Dari nada chat yang doi kirim ke gue, sepertinya dia udah ngerasa kesel banget gara-gara sampe jam lima gue gak nongol juga. Sebagai tuan rumah yang baik, gue berusaha sabar ngadepin ocehan si kawan ini.

Mungkin karena kondisi badan yang udah capek menempuh perjalanan Makassar - Jakarta, si kawan ini makin uring-uringan dan ngancem akan balik lagi bilang kalau sebaiknya kami langsung ketemu di hotel aja. Padahal waktu itu posisi bus yang gue tumpangi udah hampir memasuki kawasan sekitar bandara. Tapi, biar hati doi adem, gue iyain aja kalau mau ketemu langsung di hotelnya. Cuma masalahnya, doi belum booking hotel. Untuk melampiaskan kekesalannya, jadilah gue bulan-bulanannya si kawan, doi nyuruh gue yang cari hotelnya. Demi terciptanya perdamaian di bumi, gue ubek-ubeklah Traveloka cari hotel. Dari sekian hotel yang gue rekomendasiin, gak ada satu pun yang sreg di hati beliau ini. Akhirnya, dia sendiri yang berusaha cari hotelnya.
Kami terus bertukar pesan watsap. Doi bilang udah dapet hotelnya. Gue balas lagi kalau sebaiknya tunggu gue karena sebentar lagi sampai bandara. Beliau mengalah mau nunggu gue juga akhirnya.

Masih via watsap, iseng, gue tanya si kawan nama hotel yang baru dipesannya. Begitu si kawan sebutin nama hotelnya, ya, gue iseng buka aplikasi buat baca reviews-nya. Terhenyak, dong, gue begitu baca ulasan dari orang-orang yang pernah menginap di situ. Tujuh puluh persen isinya menceritakan bahwa hotel tersebut "agak" angker. Njir, mampus gue. Secepat kilat gue chat si kawan dan nanya apa nggak salah pesan hotel itu? Dia balik nanya, "Emang kenapa sama hotelnya?" Ya, gue suruh doi baca reviews-nya, dong. Nurut dia. Beberapa menit kemudian doi chat lagi dan sama terhenyaknya kayak gue, tapi udah terlanjur bayar, sih, soalnya tadi sebelum booking gak kepikiran buat baca-baca ulasannya karena doi kecapean dan kesel sama gue yang belum dateng juga. Gue lagi kena getahnya. Jadi, intinya ini semua salah gue. Gara-gara gue telat beberapa jam (doang). Dari situ gue dan si kawan coba mengabaikan kenyataan yang baru kami baca di ulasan. Ya, anggap aja kita gak tau apa-apa tentang cerita hotel tersebut.

Sampai lah gue di bandara. Ketemu si kawan yang mukanya udah kayak ubi rebus, biru. Kalau udah begini, gue, sih, senyum-senyum tanpa dosa aja.

Untuk menuju hotel di kawasan Jakarta Selatan tersebut, kami memesan GrabCar. Sayangnya, pesan taksi online di bandara ini harus main kucing-kucingan dengan petugas. Untungnya ini bisa diatasi. Kami yang harus nyamperin mobilnya di parkiran. Begitu ketemu mobil yang kami pesan dan kemudian masuk, duduk, si driver-nya sambil memegang smartphone langsung nanya setengah penasaran, "Bener, Mbak, mau diantar ke hotel X?" "Iya, Mas..." (niatnya gue mau lanjutin nanya, "Emang kenapa?", tapi gue urungkan). Eh, si Masnya malah nanya penasaran dan gak percaya kalau kami benar-benar mau menuju ke hotel tersebut, "Mbaknya mau menginap di hotel itu?" dengan mimik muka kayak yang nggak percaya gitu. Mungkin dalam hatinya belio nanya, "Serius kalian pada mau nginap di hotel yang udah terkenal angker itu?" Gue bisa menangkap isi kepala si Masnya. Gue jawab dengan nada do=C, "Iya, Mas, kita mau nginap di situ," jawab gue sambil natap muka si kawan yang sama-sama penasaran, kata-kata apa lagi yang bakal keluar dari mulut si Masnya.
"Itu kan...?" si Masnya udah mau nerusin kata-katanya tapi keburu gue setop, "Iya, Mas, nggak usah diterusin. Maksudnya hotel itu angker, kan?"
"Nah, itu si Mbaknya tau, kenapa nginap di situ?"
"Serius? Emang beneran, Mas?"
"Ya, gimana, sih, Mbak. Ya, hotel itu, sih, udah bukan rahasia umum lagi. Cerita keangkerannya udah ke mana-mana. Makanya saya heran dapet order-an minta dianter ke hotel X."
Hhh...
Mulai dari situ lah gue dan si kawan mulai saling menyalahkan. Sementara si Masnya masih terus ngoceh dengan cerita keangkeran hotel tersebut, kami berupaya mencari cara agar kita gak mati ketakutan karena nginap di hotel itu. Cancel. Ya! Satu-satunya cara adalah dengan membatalkan pemesanan. Selama di perjalanan (dengan si Masnya masih menakuti kami dengan cerita-cerita mistisnya) gue ngubek-ubek customer service Traveloka, coba telepon. Nyambung. Tapi, rupanya jawaban yang kami terima tidak seperti yang kami harapkan. Sekali pun cancel, ya, gak bisa refund. Pfft... Terpaksa kami tetap akan menginap di hotel tersebut selama dua hari. Ya, dua hari.

Driver-nya emang agak sedikit jahil. Gue berusaha mengalihkan pembicaraan, supaya gue gak ketakutan, tapi belio makin asik dengan cerita seramnya. Gue dan si kawan masih terus berusaha menjauhkan pikiran-pikiran negatif tentang hotel tersebut. Berusaha menepis bahwa apa yang kami baca dan kami dengar semuanya itu tidak benar.

Kebetulan malam itu adalah malam Minggu. Suasana kota Jakarta seperti biasanya tak pernah berhenti dari keriuhannya. Gue menatap dari kaca jendela mobil, sorak-sorai The Jakmania mulai merayap ke telinga. Langkah kaki fandom tim kesebelasan ibukota mulai berbaur dengan roda kendaraan yang tak bisa bergerak bebas. Malam itu ada laga partai final Piala Presiden yang mempertemukan Persija dengan Bali United di Gelora Bung Karno. Untuk menghilangkan rasa takut, gue berinisiatif mengajak si kawan agar menonton langsung pertandingan tersebut. Maksud gue, ya, menghabiskan malam dengan kegembiraan. Jadi, begitu nyampe hotel dengan kondisi lelah, setidaknya kami bisa langsung tidur dan gak memikirkan cerita seram tadi. Namun, si kawan yang bukan pencinta sepakbola, jelas menolak mentah-mentah ajakan gue. Hhh.

Sesuatu yang tak diharapkan pun tiba. Kendaraan yang kami tumpangi mendarat persis di depan lobi hotel. Hawa lembap menyapa tubuh kami saat mendapati bangunan besar nan kokoh yang ada di hadapan kami lebih mirip dengan bangunan tua seperti di film-film horror ketimbang sebuah hotel. Nuansa klasik dengan tiang-tiang besar menambah keangkuhan bangunan ini pada zamannya.

Lagi-lagi, si driver yang jahil ini, mengucapkan kata-kata terakhir yang bikin gue "yaelah" banget, "Mbak, kalo ntar ada kejadian apa-apa, kabarin saya, tau nomornya, kan?" sambil cekikikan.

Demi apa pun, gue gak suka dengan hawa-hawa merinding disko yang dihantarkan oleh si hotel ini. Saat itu hotel sebetulnya gak sepi-sepi banget. Banyak tamu lalu-lalang. Tapi, entah kenapa yang gue rasakan, tuh, dingin. Bukan dingin karena AC. Ya, dingin gimana, sih. Kayak hampa aja gitu. Rame tapi kosong, hambar, apa lah. Gitu aja pokoknya.

Setelah menyelesaikan urusan di resepsionis, kami pun langsung menuju kamar di lantai 4. Lorong di sekitar lift sepi. Sunyi. Gue tau apa yang dipikirkan si kawan. Pun dengan si kawan, sepertinya tau apa yang tengah gue pikirkan. Ciye saling mikirin. Sesekali kami saling bertatapan, tanpa mengucap sepatah kata pun. Kami berbahasa lewat tatapan mata, menambah dingin suasana.

TING!!! Rupanya bunyi bel tanda lift terbuka mengejutkan kami. Gimana nggak kaget, selama nunggu lift terbuka, kami cuma diam terhanyut dengan pikiran masing-masing.

Lift tanpa penumpang lain, hanya kami berdua. Gue berbisik, "Kita akan baik-baik aja, kan?" "Iya, gpp..." jawab si kawan kurang meyakinkan.

TING!!! Kami keluar dari lift. Wuuzzz.... Kembali, hawa merinding disko menyambut kedatangan kami di lantai empat. Suasananya sepi, nggak ada orang sama sekali. Lorong-lorong menuju kamar seperti hendak menelan kami hidup-hidup. Detak jantung gue udah gak beraturan, dengkul gue lemes gemeteran. Gue bukan termasuk orang-orang yang penakut terhadap hal-hal mistis begini. Tapi kali ini gue ngerasain sendiri rasanya ketakutan. Gue kayak mau nyerah. Padahal dari tadi gue gak ngalamin hal yang janggal seperti ngedenger suara, atau dicolek setannya langsung, nggak. Tapi, kenapa gue bisa ketakutan separah ini. Nggak ngerti. Dan ini belum apa-apa. Begitu kami masuk kamar, terutama gue, tiba-tiba punggung gue terasa panas, bahu gue berasa berat kaya ada yang lendotan. Dengan nada lemas gue berbisik ke si kawan, "Kita harus cepet-cepet keluar." Si kawan sepertinya paham apa yang gue rasakan walaupun saat itu gue gak bilang ke doi apa yang lagi gue rasain. Gue pikir nanti aja lah ceritanya kalo lagi di luar.

Sangking ketakutannya, ke kamar mandi pun pintunya gak berani ditutup rapat. Hahaha

Setelah naro tas dan sedikit touch up muka yang udah gak simetris, kami pun pergi ke luar cari makan sambil menikmati suasana malam ibukota. Di situlah gue bercerita apa yang gue alami barusan. Dari situ kemudian kami memutuskan untuk nongkrong di luar sampai larut dengan tujuan, ketika sampai di kamar langsung tidur.

Alhamdulillah, karena kecapean dan ngantuk banget, gue tidur pulas tanpa terbangun dan berhasil melalui malam tanpa ketakutan. Lain halnya dengan si kawan. Doi justru sering kebangun saat tidur.

Hari kedua kami check out dan memutuskan untuk tidak extend di sisa satu hari si kawan selesai tugas. Setelah apa yang kami alami, kami pun lebih memilih mencari hotel yang lain.

Dapatlah kami hotel di kawasan Jakarta Barat. Kali ini jelas lebih nyaman, selain memang hotel ini adalah bangunan baru dan sepertinya juga baru dibuka beberapa bulan yang lalu, juga dekat dengan keramaian, Stasiun Tanah Abang.

Mungkin karena sangking senangnya gue terlepas dari jerat mistis si hotel yang pertama, gue baru 'ngeh kalau ternyata kerudung gue yang satu ketinggalan di hotel itu. Hadeuh. Mungkin setannya pengen kali, yah. Hehehe







Monday, March 5, 2018

Traveling Bukan Melulu Soal Uang

pixabay

Mungkin predikat gue sebagai "guru yang suka jalan-jalan" itu sudah melekat sekali di benak followers gue di beberapa akun media sosial. Sebetulnya sah saja. Namun, lain ladang lain ilalang, semua pikiran manusia tidak sama. Ada yang menganggapnya itu sebuah hal yang positif, namun ada juga yang menganggap sebaliknya. Ketika apa yang gue lakukan menjadi motivasi bagi sebagian orang untuk melakukan hal yang sama seperti gue, itu bagus. Namun, ketika ada sebagian orang yang berpikir sebaliknya, menganggap apa yang gue lakukan itu tidak logis, sontak mereka melakukan tindakan ofensif yang sudah masuk ke ranah paling privasi, mempermasalahkan status pekerjaan.

Profesi gue sebagai "guru honor" yang seperti kalian ketahui baik dari media massa atau dari kerabat, berapa, sih, gaji guru honor? Tak manusiawi bukan? Boro-boro untuk mencukupi kebutuhan tersier macam traveling, untuk beli bensin agar motor tetap bisa bernyawa aja udah syukur. Kasarnya seperti itu. Duit dari mana traveling kalau bukan dari hasil miara tuyul, jual ginjal, gadein sawah orang tua,  atau jadi simpanan Pak Dendy misalnya. Eh, kok gue geli sendiri, ya, ngebayanginnya. Hahaha. Astaghfirullah.

Sebetulnya tidak elok, ya, ngomongin gaji di hadapan siapa pun. Apalagi disebar ke publik.  Sayangnya, ada segelintir warganet yang kepo dengan ketidaklogisan tersebut. Guru honor kerjanya jalan-jalan terus, guru honor traveling-nya ke luar negeri, bla... bla... bla.... Sial betul, ya, gue. Status guru honor jadi kambing hitam.

Jadi, gini, ya...
Hmm...

Gue selalu percaya dan meyakini bahwa Tuhan itu kasih kita rejeki tidak hanya dari satu pintu. Ketika rejeki dari pintu yang satu tidak terbuka lebar, (gue masih percaya) Tuhan kasih buka pintu yang lain. Tugas gue hanya mengimani dan menjemputnya. Masih kurang logis? Kita diberi akal, skill, dan atau mungkin bakat. Ketika lu menerima keterbatasan sebagai -sudah- takdir hidup, ya, selamanya lu akan dalam keterbatasan. Tapi, ketika lu menggali potensi apa yang lu punya, Tuhan kasih satu lagi pintu rejeki dibiarkannya terbuka. Ketika melihat status gue sebagai guru honor adalah satu-satunya pintu gue menerima rejeki dalam bentuk materi yang tidak seberapa itu, jelas salah. Kita mengabaikan kemurahan Tuhan yang lain seperti: waktu, kesempatan, kesehatan, pertemanan yang sehat, lingkungan yang mendukung, jelas nikmat itu tidak kalah hebatnya dengan rejeki berupa materi.

Sekarang gue coba kaitkan dengan judul tulisan ini, bahwa "traveling bukan melulu soal uang". Memang, beli tiket pesawat, kereta api, atau voucher hotel itu pakai uang. Itu awal dari langkah kita pergi traveling. Fulus men fulus. Tapi, tau nggak, sih bahwa memiliki uang bukan satu-satunya faktor penentu yang melenggangkan langkah kita agar bisa traveling?

Ya, gue bilang bukan satu-satunya faktor karena ada komponen lain yang juga sama pentingnya, yaitu: waktu, kesempatan, kesehatan, dan keberuntungan.  

Gue beri contoh yang paling riil. Jauh-jauh hari gue sudah merencanakan pergi ke Malaysia bersama dua orang kawan. Tiket pesawat dan voucher hotel sudah kami bayar. Sebulan menjelang keberangkatan, si kawan gue yang satu memberi kabar bahwa dia tidak jadi ikut. Alasannya, tidak diberi cuti oleh atasan. See? Secara pekerjaan, karier, kemampuan finansial, jauh lebih oke ke mana-mana daripada gue yang cuma GURU HONOR, tapi nyatanya dia gak bisa traveling. Karena faktor apa pemirsa? Ya! Mungkin Tuhan belum kasih dia "waktu dan kesempatan" yang tepat untuk dia bisa pergi traveling.

Dua bulan sebelumnya, gue berencana solo-backpacking ke Malang. Tiket kereta api dan voucher penginapan sudah beres. Tiga hari menjelang keberangkatan, gue sakit. Sakitnya lumayan sakit banget. Apasih. Jelas gue tidak akan memaksakan tetap berangkat seandainya tak kunjung sembuh sampai hari H sekali pun semuanya sudah dibayar. Alhamdulillah-nya, satu hari menjelang hari H, gue sembuh. Dan ini membuktikan, bahwa "kesehatan" juga menjadi faktor penentu kita bisa pergi traveling atau tidak.

Semalem gue watsap si kawan buat ngajak trip ke Jogja bulan depan. Namun, nampaknya tidak akan pernah terjadi. Kenapa? Masing-masing dari kami tidak memiliki "waktu" yang pas untuk pergi nge-trip bareng. Jadi, gak bisa traveling karena apa teman-teman? Tidak memiliki "waktu". Tepat! Lantas gue coba mengajak kawan gue yang satunya, secara finansial gak usah ditanya. Dari segi kesehatan? Bokapnya ahli gizi, makannya mesti empat sehat lima sempurna, yang jelas dia sehat lahir batin, jiwa dan raga. Waktu? Doi sama kayak gue, guru juga. Waktu libur jelas banyak banget. Cuma bedanya dia guru swasta, beda kasta. Wkwkwk. Astaghfirullah... Gak boleh gitu... gak boleh gitu.
Doi semanget banget pengen ikut apalagi kita pernah nge-trip bareng. Anaknya asik juga. Tapi, dia balas apa coba? Sekarang udah susah dapet SIM (Surat Izin Main) dari suaminya. Hehehe. Gak jadi lagi, kan?

Terakhir, nih, gue kasih contoh dari faktor penentu berikutnya, keberuntungan. Bisa jadi gue nggak jadi traveling ke Malaysia seandainya waktu itu gue tidak dinaungi dewi fortuna. Gimana nggak? Gue telat dateng ke bandara. Pesawat take off pukul 14.10 WIB, 14.05 WIB gue baru nyampe check in counter untuk cetak boarding pass. Jelas ditolak sama petugasnya. Emang gue mau ngejar-ngejar pesawatnya di landasan kayak film Dono zaman dulu? Gue pikir oke lah bye Malaysia, gue ketinggalan pesawat. Gak jadi traveling.
Lantas siapa yang menyangka kalau ternyata pesawat yang akan kami tumpangi itu mengalami delay? Akhirnya kami diizinkan mencetak boarding pass kemudian lari sekencang-kencangnya menuju boarding gate. Jelas di sini bahwa faktor keberuntungan membuktikan segalanya. Apa jadinya kalau pesawat tadi terbang tepat waktu? Ya, kami tidak akan pernah pergi ke sana. Balik lagi ke rumah. Bilang ke orang rumah, gak jadi piknik. Ketinggalan pesawat. Hahaha

Banyak, sih, kejadian yang membuka mata kita bahwa benar traveling itu tidak melulu soal uang. Kalau boleh gue cerita satu pengalaman lagi, nih. Boleh, ya? 

Hari Jum'at gue ke Bandung,  Sabtunya ke Jakarta, Minggu udah di Bogor. Ngapain? Jalan-jalan tentunya. Dipikir secara logis, kalau masih bawa-bawa status gue yang guru honor, apa mungkin itu terjadi? Duit dari mana? Sementara Sabtu depannya gue udah cabut ke Malaysia. Banyak kali duit aku jalan-jalan terus. Hahaha Seperti yang gue bilang, pertemanan yang sehat dan lingkungan yang mendukung juga alasan kenapa gue (kelihatannya) jalan-jalan terus. Bersyukurnya gue adalah dikelilingi oleh teman-teman (walaupun sedikit) yang apa, yah? Ah, ini susah diungkapkan. Mereka terlalu teramat sangat baik sekali. Kalimat terakhir itu sebagai upaya menjilat, sih. Hahaha Tapi serius gue punya kawan semuanya baik. MashaAllah, Allah kasih rejeki dalam bentuk lain.

Jadi, setiap komponen tadi saling berkaitan, bukan? Kalau tidak kita miliki salah satunya, bisa apa?
Jika status pekerjaan dijadikan tolok ukur seseorang boleh atau bisa traveling atau tidak, buang jauh pikiran itu mulai dari sekarang. Jagat raya ini luas sekali melebihi dari apa yang kita bayangkan. Maka jangan kerdilkan pikiran kita. Terbukalah dengan yang manis. Sudah viral driver ojek online bisa keliling tiga negara, setelahnya dengan profesi yang sama, tau-tau foto di bawah menara Eiffel. Sementara kita yang lain, pikiran mereka masih terjebak memikirkan hal-hal yang mereka anggap tidak logis.

Gue tidak sedang berusaha meluruskan dugaan mereka yang tidak sehaluan dengan gue. Gue cuma mau sedikit membuka celah untuk melakukan -kalau dalam istilah sepak bola- counter attack (serangan balik). Di mana filosofi dari serangan balik adalah "kemewahan dari mereka-mereka yang terbatas. Selalu ada jalan bagi mereka yang enggan menyerah, bagi siapa pun yang tak sudi takluk dengan cuma-cuma", Zen RS dalam bukunya yang berjudul Simulakra Sepakbola.

Saturday, January 6, 2018

Pengalaman Jalan - Jalan Naik KRL

sumber google

Bagi sebagian warga Jakarta dan sekitarnya mungkin tidak asing dengan salah satu moda transportasi massal Kereta Rel Listrik (KRL) atau yang biasa disebut Commuterline. Namun, bagi gue yang berdomisili di Banten, yang sebagian besar wilayahnya masih belum tersentuh dengan alat transportasi yang satu ini, menaiki KRL merupakan pengalaman yang seru dan menggemaskan. Rupanya gue baru melek modernisasi, ternyata salah satu kota di Indonesia sudah memiliki sistem transportasi yang menurut gue baik.

Tak kenal maka tak sayang. Supaya gue lebih mengenal alat transportasi yang satu ini, maka gue mencoba untuk berjalan-jalan menggunakan KRL dengan tujuan Serang - Bogor. Cukup mudah memang, walaupun perjalanan pertama harus dilalui dengan menggunakan kereta ekonomi terlebih dahulu untuk menuju Stasiun Rangkasbitung. Dari Stasiun Rangkasbitung ini, barulah petualangan menaiki KRL dimulai. Dengan tarif hanya Rp 8.000, gue menuju tujuan pertama, yakni Stasiun Tanah Abang (transit), sebelum nantinya akan melanjutkan perjalanan ke stasiun tujuan akhir, Stasiun Bogor yang bertarif Rp 6.000.

Sebetulnya ini bukan pengalaman kali pertama, sebelumnya pun pernah ke Tangerang dan Bogor menggunakan KRL. Bedanya, waktu itu gue pergi bersama kawan. Ketika pergi bersama kawan, tentulah gue hanya mengikuti ke mana ia pergi. Tanpa tahu cara membeli tiket, mencari rute, dan menuju jalur yang mana pun tidak gue perhatikan. Gue hanya tinggal mengikutinya dari belakang kemudian duduk manis, tahu-tahu sudah sampai tujuan. Lain halnya seperti saat ini, gue pergi sendiri, mencari tahu sendiri, cara membeli tiket, menempuh rute ke mana, masuk ke jalur yang mana, jadwal keberangkatan dan ketibaan pun gue cari tahu. Ternyata tidak sulit. Kalau mau agak susah sedikit, ya, bisa tanya infonya via akun Twitter-nya Commuterline, fast response, kok. Tapi, cara yang lebih mudah tentu tinggal men-download aplikasi KRL Access. Semua informasi ada di situ, mulai dari posisi kereta, jadwal dan rute, peta lokasi, sampai untuk mengetahui tarifnya pun ada.

Ketika turun di stasiun pun papan-papan petunjuk terpampang nyata dan jelas. Kalau belum yakin, tinggal tanya ke petugas yang seliweran di situ, pasti dibantu.

Cukup worth it lah, ya, dengan tarif yang jauh lebih murah, akses pun dipermudah. Walaupun kalau gue bandingkan perjalanan Serang - Bogor menggunakan KRL ini memakan waktu dua kali lipat lebih lama dibandingkan kalau kita naik bus (yang jauh lebih cepat). Salah satu faktornya menurut gue mungkin karena belum adanya ketersediaan KRL sampai ke wilayah Serang. Selebihnya, aku sih, YES.