Pengalaman Solo Traveling yang Gagal Maning


Sebelum bikin tulisan ini, terlebih dahulu gue googling beberapa istilah yang gak asing di dunia per-traveling-an. Mulai dari pengertian traveling, solo traveling, traveler, solo traveler, backpacker, solo backpacking, dan sebagainya. Dengan maksud agar mengetahui gue ini termasuk kategori yang mana. Ternyata 'njlimet'. Wes, intinya gue jalan-jalan sendirian, mulai dari beli tiket, sewa peginapan, bikin itinerary, dan sebagainya gue rencanakan seorang diri. Namun, untuk mempermudah penulisan, gue pakai istilah solo traveling backpacking aja yang agak mirip-mirip dengan pengalaman gue. Walaupun judulnya solo traveling.

Solo backpacking merupakan satu di antara beberapa wishlist gue. Sempet gagal di bulan April lalu (rencana solo backpacking ke Singapura), akhirnya bulan Desember ini bisa terwujud juga, ya, walaupun cuma ke Malang. Tidak masalah, karena ke luar negeri atau cuma ke luar kota sekali pun, pressure-nya sama saat memutuskan untuk bepergian sendirian. Rasanya campur-aduk, antara penasaran, excited, deg-degan, takut, wes pokoknya macem-macem.

Sebetulnya trip kali ini agak spekulasi, gue beli tiket kereta api waktu bulan September, untuk keberangkatan Desember. Padahal itu, ya, gambling aja. Gue pun nggak yakin di tanggal itu gue bakal dibolehin izin atau nggak sama kepala sekolah. Soalnya tanggal yang gue pilih tersebut bukan tanggal-tanggal libur semester. Justru akhir Desember itu sekolah lagi sibuk-sibuknya bakal pemeriksaan kinerja. Wew. Gue pikir yang penting udah beli tiket aja dulu, masalah diizinin atau nggak, ya, urusan nanti.

Memasuki awal Desember harusnya gue udah prepare untuk booking penginapan, tapi karena belum tau jadwal kapan sekolah gue kebagian pemeriksaan kinerja, gue tunda dulu booking-nya. Takutnya jadwal kinerja dengan jadwal keberangkatan bentrok, otomastis gue nggak bisa berangkat. Dan seandainya memang begitu (gak jadi berangkat), gue gak kecewa-kecewa amat karena belum keluar uang untuk sewa penginapan. Paling uang tiket kereta PP yang melayang masih oke lah, rapopo. Gak mau aja kejadian terulang, udah beli tiket pesawat dan penginapan, malah gak jadi pergi ke Singapura, karena alasan yang sama. Nyesek.

Seminggu lagi dari jadwal keberangkatan kereta, baru deh gue dapat pesan watsap, bahwa jadwal sekolah gue kebagian di hari terakhir sebelum libur tahun baru. Desember ujung. Wow! Senengnya bukan kepalang. Gak bentrok, dong. Segera gue selesaikan yang  namanya ngoreksi kertas ulangan, rekap nilai, nulis buku raport, laporan ini-itu. Uanjiirr! Punya sisa waktu seminggu itu bener-bener gue manfaatin buat selesein semuanya. Belum lagi kerjaan di balik layar, Desember musim nikah, editing beberapa video wedding yang belum tersentuh. Harus diselesein, biar jadi uang, uangnya bakal bekel ke Malang. Hehehe sa aja.

Dua hari menuju ke hari H, barulah gue sempetin searching penginapan dan langsung dapet. Beres.

Tiba saat yang dinanti.

Sabtu, 16 Desember 2017. Pukul sebelas siang gue cabut dari rumah menuju Stasiun Pasar Senen Jakarta. Mulai dari langkah pertama ini gue udah dibikin dag-dig-dug. Gimana, nggak, gue berangkat ke Jakarta dengan waktu mepet begini. Takut ketinggalan kereta, kan, lucu. Mana sendirian. Tapi, seru juga. Kalo misalkan sampe beneran ketinggalan kereta palingan gue cuma bisa menyalahkan diri sendiri, gak nyalahin temen. Hehehe

Bepergian sendiri itu, dibilang cemas, ya, cemas. Dibilang nggak, ya, nggak. Kalau ada yang nanya, "Takut nggak?", nggak, sih. Mungkin bukan takut, tapi lebih waspada aja. Karena ini pengalaman pertama gue solo backpacking, paling antisipasinya adalah gue gak naro uang di dalam dompet atau tas. Jadi, emang rencana ini udah mateng banget, sebelumnya gue beli, tuh, yang namanya Funn Travel, semacam tempat penyimpanan uang, passport, dan kartu identitas lainnya, bentuknya tipis buat dipake (dilingkarkan) di perut (di dalam baju). Bentuknya seperti ikat pinggang gitu cuma ada kantong buat menyimpan uang, dan sebagainya. Jadi aman. Beberapa uang receh bisa lah simpan di tas atau saku celana, barangkali untuk bayar toilet umum, pengamen, beli cangcimen di bus, atau sekadar beli gorengan di depan Alfamart.

Solo backpacking ini sebetulnya sangat cocok buat tipikal-tipikal manusia introvert macem gue. Wkwkwk Pasalnya ada manusia yang sangat cemas, bakalan bete (sendirian) selama di perjalanan. Biasanya alasannya adalah nggak ada teman ngobrol, gak asik, sendirian, garing. Kalau gue justru sebaliknya, teramat sangat menikmati kesendirian, selama di perjalanan dan di tempat tujuan. Menikmati kesendirian bukan berarti menutup diri untuk tidak berkomunikasi dengan orang sekitar, loh, ya. Malah justru serunya saat bepergian sendiri adalah kita tidak segan untuk membuka pembicaraan dengan orang yang baru kita kenal. Dengan orang yang berada di sebelah kita misalnya. Sekadar nanya alamat, asal tempat tinggal, tujuannya ke mana, itu pengalaman seru.

Oh, iya, beberapa minggu sebelum keberangkatan ini, gue dibikin parno sama video yang seliweran di Twitter. Jadi, di video yang terekam CCTV di sebuah kereta api ekonomi tersebut memperlihatkan bagaimana dua orang penumpang berkomplot berhasil mencuri sebuah isi tas salah seorang penumpang lainnya. Wow! Terlihat saat pencurian itu terjadi beberapa penumpangnya sedang terlelap tidur, maka si penumpang yang emang berniat mencuri ini dengan mudahnya melancarkan aksinya. Setelah melihat video tersebut tentu gue lebih berantisipasi dengan memutuskan untuk tidak membawa kamera DSLR dan handycam. Ppftt. Biasanya kalo nge-trip bareng temen, gue paling rempong, deh, bawa amunisi eksistensi itu. Wakakak Tapi, untuk kali ini gue tahan dulu. Mending gue bawa kamera yang kalung-able, camera digital. Jadi, sekalipun di kereta nanti gue ke toilet, kameranya gak gue tinggalin di tas, always hangin' on.
 
Setelah perjalanan panjang Jakarta - Malang yang memakan waktu enam belas jam, Minggu pagi, sampailah gue di Stasiun Malang Kota Lama. Mengetahui gue sampai di Malang dengan kondisi utuh, makin besar, dong, rasa percaya diri gue untuk tidak takut lagi bepergian sendiri. Hehehe

Karena badan rasanya remuk redam, gue putuskan untuk langsung menuju penginapan. Walaupun di itinerary yang gue bikin, harusnya begitu sampai di Malang, langsung menuju ke destinasi yang pertama, Kampung Warna-Warni Jodipan. Sekali lagi, enaknya bepergian sendiri adalah tidak perlu beradu argumen dulu saat ingin melakukan tindakan di luar itinerary yang sudah dibikin. Lebih fleksibel. 

Hari itu benar-benar gue habiskan waktu sendirian. Mulai dari cari alamat palsu penginapan, kemudian keluar cari makan dan pergi ke Jodipan dan Alun-Alun Malang hingga larut malam. Sampai akhirnya kawan gue yang dari Surabaya ngewatsap kalo dia mau nyamperin dan nemenin gue selama di Malang. MashaAllah ... Kan ntar judulnya bukan Solo Backpacking, dong, kalo ada temennya? Tapi, ya sudahlah, mungkin dia rindu dan gak mau gue kenapa-napa di kota orang. Wakakakak Mengacau lah kau ni ...


Dan benar saja, sekitar jam sepuluh malam si kawan datang nyamperin, posisi gue waktu itu masih duduk termangu di Alun-Alun Malang. Seperti yang gue bilang, gue sangat menikmati kesendirian macam ini. Duduk di barisan kursi taman, sementara yang lain berpasangan. Gue suka memperhatikan orang lalu-lalang, datang kemudian hilang. Silih berganti. Gue coba menerka apa yang ada di pikiran orang-orang yang ada di sekeliling gue ini. Mereka yang datang berpasangan, yang datang dengan keluarga tersayang, atau yang malang sendirian. Seketika pikiran gue melayang bebas, lupa dengan pikiran apa-apa yang gue tinggal di rumah dan sekolah. RPP yang belum ditulis, Silabus yang belum di-print, telepon dari wali murid yang gak gue angkat,  cicilan hp yang tinggal sebulan lagi, emak gue yang nyuruh gue cepet-cepet kawin, pokoknya semua pikiran itu tiba-tiba hilang malam itu, ditelan oleh pekatnya malam Kota Malang, sementara dinginnya udara mampu diredakan oleh segelas kopi yang gue beli dari tukang kopi keliling, walaupun sayang kopinya encer kebanyakan air. Sial.


"Posisi di mana?" Sebuah pesan watsap mengusik lamunan gue.
"Dari arah Mesjid Agung lurus aja, aku duduk di deket air mancur," balas gue cepat.


Kami pun bertemu, namun karena malam kian larut, kami memutuskan untuk pulang ke penginapan.
Otomatis, keesokan harinya sampai hari terakhir gue di Malang, ya, si kawan nemenin gue, ke mana-mana gak sendirian lagi. Jadinya, ngalamin "solo backpacking"-nya cuma di hari pertama dan kedua. Wakakakakak Gagal maning, sooonnnn......!!!