Sunday, March 17, 2024

Seberapa Sering Pergi ke Malaysia

Hari itu gak sengaja lewat di timeline Twitter cuitan promo di Trip.com. Tanpa pikir panjang gue langsung nge-mention akun si kawan, kasih sinyal kalau 'gaskeun lah nge-trip lagi'. Benar saja si kawan langsung menyambut baik, lalu bilang, "GAASSSS!!"

Gue yang terbiasa hunting tiket pesawat promoan udah tau apa yang mesti gue siapin sebelum nge-war. Di jadwal yang sudah ditentukan, gue udah siap di depan PC mantengin tanggal-tanggal penerbangan yang ada promonya. Sementara tugas si kawan harus stand by di layar handphone-nya buat mastiin apa yang gue butuhin harus segera dikirim cepat, terutama soal urusan pembayaran yang lagi-lagi harus pake kartu kreditnya. Sat-set-sat-set, dapetlah tiket promo seharga kurang-lebih Rp650.000 pergi-pulang Jakarta - Kuala Lumpur. Murah gila, kan? Haha.

Pic: tertera harga untuk 2 pax

Kalau dihitung-hitung, ini adalah kali ketujuh kami pergi ke Malaysia dimulai dari tahun 2014 sampai sekarang 2024. Meski pun kami selalu pergi ke tempat yang sama kami gak pernah merasa bosan atau merasa rugi kenapa harus menghabiskan uang untuk pergi ke tempat yang sama 'berkali-kali'. Alasannya karena satu, nilai historis. Malaysia menjadi negara yang menyimpan banyak kenangan masa remaja kami. Di mana ketika itu kami pernah melaksanakan tugas sekolah berupa Praktik Kerja Lapangan (PKL) di sebuah hotel di Malaysia selama enam bulan saat kelas 3 SMK di tahun 2005. Itulah alasan yang membuat kami selalu rindu dengan Malaysia. Rindu kudapannya, rindu suasananya, rindu dengar orang cakap Melayu, rindu dengan jalan-jalan yang pernah dilewati, rindu bau dupanya, dan lain-lain. Hahaha. Alasan yang terakhir sepertinya agak menyebalkan tapi itulah kenangan, tidak melulu untuk sesuatu yang kita senangi.

Pic: Di tempat dan orang yang sama, dengan waktu yang berbeda


Untunglah punya kenangannya di Malaysia. Coba kalau di Rusia? Agak repot karena tiket pesawatnya pasti mahal, gak akan terjangkau kantong kaum mendang-mending macam kami.