Traveling Bukan Melulu Soal Uang

pixabay

Mungkin predikat gue sebagai "guru yang suka jalan-jalan" itu sudah melekat sekali di benak followers gue di beberapa akun media sosial. Sebetulnya sah saja. Namun, lain ladang lain ilalang, semua pikiran manusia tidak sama. Ada yang menganggapnya itu sebuah hal yang positif, namun ada juga yang menganggap sebaliknya. Ketika apa yang gue lakukan menjadi motivasi bagi sebagian orang untuk melakukan hal yang sama seperti gue, itu bagus. Namun, ketika ada sebagian orang yang berpikir sebaliknya, menganggap apa yang gue lakukan itu tidak logis, sontak mereka melakukan tindakan ofensif yang sudah masuk ke ranah paling privasi, mempermasalahkan status pekerjaan.

Profesi gue sebagai "guru honor" yang seperti kalian ketahui baik dari media massa atau dari kerabat, berapa, sih, gaji guru honor? Tak manusiawi bukan? Boro-boro untuk mencukupi kebutuhan tersier macam traveling, untuk beli bensin agar motor tetap bisa bernyawa aja udah syukur. Kasarnya seperti itu. Duit dari mana traveling kalau bukan dari hasil miara tuyul, jual ginjal, gadein sawah orang tua,  atau jadi simpanan Pak Dendy misalnya. Eh, kok gue geli sendiri, ya, ngebayanginnya. Hahaha. Astaghfirullah.

Sebetulnya tidak elok, ya, ngomongin gaji di hadapan siapa pun. Apalagi disebar ke publik.  Sayangnya, ada segelintir warganet yang kepo dengan ketidaklogisan tersebut. Guru honor kerjanya jalan-jalan terus, guru honor traveling-nya ke luar negeri, bla... bla... bla.... Sial betul, ya, gue. Status guru honor jadi kambing hitam.

Jadi, gini, ya...
Hmm...

Gue selalu percaya dan meyakini bahwa Tuhan itu kasih kita rejeki tidak hanya dari satu pintu. Ketika rejeki dari pintu yang satu tidak terbuka lebar, (gue masih percaya) Tuhan kasih buka pintu yang lain. Tugas gue hanya mengimani dan menjemputnya. Masih kurang logis? Kita diberi akal, skill, dan atau mungkin bakat. Ketika lu menerima keterbatasan sebagai -sudah- takdir hidup, ya, selamanya lu akan dalam keterbatasan. Tapi, ketika lu menggali potensi apa yang lu punya, Tuhan kasih satu lagi pintu rejeki dibiarkannya terbuka. Ketika melihat status gue sebagai guru honor adalah satu-satunya pintu gue menerima rejeki dalam bentuk materi yang tidak seberapa itu, jelas salah. Kita mengabaikan kemurahan Tuhan yang lain seperti: waktu, kesempatan, kesehatan, pertemanan yang sehat, lingkungan yang mendukung, jelas nikmat itu tidak kalah hebatnya dengan rejeki berupa materi.

Sekarang gue coba kaitkan dengan judul tulisan ini, bahwa "traveling bukan melulu soal uang". Memang, beli tiket pesawat, kereta api, atau voucher hotel itu pakai uang. Itu awal dari langkah kita pergi traveling. Fulus men fulus. Tapi, tau nggak, sih bahwa memiliki uang bukan satu-satunya faktor penentu yang melenggangkan langkah kita agar bisa traveling?

Ya, gue bilang bukan satu-satunya faktor karena ada komponen lain yang juga sama pentingnya, yaitu: waktu, kesempatan, kesehatan, dan keberuntungan.  

Gue beri contoh yang paling riil. Jauh-jauh hari gue sudah merencanakan pergi ke Malaysia bersama dua orang kawan. Tiket pesawat dan voucher hotel sudah kami bayar. Sebulan menjelang keberangkatan, si kawan gue yang satu memberi kabar bahwa dia tidak jadi ikut. Alasannya, tidak diberi cuti oleh atasan. See? Secara pekerjaan, karier, kemampuan finansial, jauh lebih oke ke mana-mana daripada gue yang cuma GURU HONOR, tapi nyatanya dia gak bisa traveling. Karena faktor apa pemirsa? Ya! Mungkin Tuhan belum kasih dia "waktu dan kesempatan" yang tepat untuk dia bisa pergi traveling.

Dua bulan sebelumnya, gue berencana solo-backpacking ke Malang. Tiket kereta api dan voucher penginapan sudah beres. Tiga hari menjelang keberangkatan, gue sakit. Sakitnya lumayan sakit banget. Apasih. Jelas gue tidak akan memaksakan tetap berangkat seandainya tak kunjung sembuh sampai hari H sekali pun semuanya sudah dibayar. Alhamdulillah-nya, satu hari menjelang hari H, gue sembuh. Dan ini membuktikan, bahwa "kesehatan" juga menjadi faktor penentu kita bisa pergi traveling atau tidak.

Semalem gue watsap si kawan buat ngajak trip ke Jogja bulan depan. Namun, nampaknya tidak akan pernah terjadi. Kenapa? Masing-masing dari kami tidak memiliki "waktu" yang pas untuk pergi nge-trip bareng. Jadi, gak bisa traveling karena apa teman-teman? Tidak memiliki "waktu". Tepat! Lantas gue coba mengajak kawan gue yang satunya, secara finansial gak usah ditanya. Dari segi kesehatan? Bokapnya ahli gizi, makannya mesti empat sehat lima sempurna, yang jelas dia sehat lahir batin, jiwa dan raga. Waktu? Doi sama kayak gue, guru juga. Waktu libur jelas banyak banget. Cuma bedanya dia guru swasta, beda kasta. Wkwkwk. Astaghfirullah... Gak boleh gitu... gak boleh gitu.
Doi semanget banget pengen ikut apalagi kita pernah nge-trip bareng. Anaknya asik juga. Tapi, dia balas apa coba? Sekarang udah susah dapet SIM (Surat Izin Main) dari suaminya. Hehehe. Gak jadi lagi, kan?

Terakhir, nih, gue kasih contoh dari faktor penentu berikutnya, keberuntungan. Bisa jadi gue nggak jadi traveling ke Malaysia seandainya waktu itu gue tidak dinaungi dewi fortuna. Gimana nggak? Gue telat dateng ke bandara. Pesawat take off pukul 14.10 WIB, 14.05 WIB gue baru nyampe check in counter untuk cetak boarding pass. Jelas ditolak sama petugasnya. Emang gue mau ngejar-ngejar pesawatnya di landasan kayak film Dono zaman dulu? Gue pikir oke lah bye Malaysia, gue ketinggalan pesawat. Gak jadi traveling.
Lantas siapa yang menyangka kalau ternyata pesawat yang akan kami tumpangi itu mengalami delay? Akhirnya kami diizinkan mencetak boarding pass kemudian lari sekencang-kencangnya menuju boarding gate. Jelas di sini bahwa faktor keberuntungan membuktikan segalanya. Apa jadinya kalau pesawat tadi terbang tepat waktu? Ya, kami tidak akan pernah pergi ke sana. Balik lagi ke rumah. Bilang ke orang rumah, gak jadi piknik. Ketinggalan pesawat. Hahaha

Banyak, sih, kejadian yang membuka mata kita bahwa benar traveling itu tidak melulu soal uang. Kalau boleh gue cerita satu pengalaman lagi, nih. Boleh, ya? 

Hari Jum'at gue ke Bandung,  Sabtunya ke Jakarta, Minggu udah di Bogor. Ngapain? Jalan-jalan tentunya. Dipikir secara logis, kalau masih bawa-bawa status gue yang guru honor, apa mungkin itu terjadi? Duit dari mana? Sementara Sabtu depannya gue udah cabut ke Malaysia. Banyak kali duit aku jalan-jalan terus. Hahaha Seperti yang gue bilang, pertemanan yang sehat dan lingkungan yang mendukung juga alasan kenapa gue (kelihatannya) jalan-jalan terus. Bersyukurnya gue adalah dikelilingi oleh teman-teman (walaupun sedikit) yang apa, yah? Ah, ini susah diungkapkan. Mereka terlalu teramat sangat baik sekali. Kalimat terakhir itu sebagai upaya menjilat, sih. Hahaha Tapi serius gue punya kawan semuanya baik. MashaAllah, Allah kasih rejeki dalam bentuk lain.

Jadi, setiap komponen tadi saling berkaitan, bukan? Kalau tidak kita miliki salah satunya, bisa apa?
Jika status pekerjaan dijadikan tolok ukur seseorang boleh atau bisa traveling atau tidak, buang jauh pikiran itu mulai dari sekarang. Jagat raya ini luas sekali melebihi dari apa yang kita bayangkan. Maka jangan kerdilkan pikiran kita. Terbukalah dengan yang manis. Sudah viral driver ojek online bisa keliling tiga negara, setelahnya dengan profesi yang sama, tau-tau foto di bawah menara Eiffel. Sementara kita yang lain, pikiran mereka masih terjebak memikirkan hal-hal yang mereka anggap tidak logis.

Gue tidak sedang berusaha meluruskan dugaan mereka yang tidak sehaluan dengan gue. Gue cuma mau sedikit membuka celah untuk melakukan -kalau dalam istilah sepak bola- counter attack (serangan balik). Di mana filosofi dari serangan balik adalah "kemewahan dari mereka-mereka yang terbatas. Selalu ada jalan bagi mereka yang enggan menyerah, bagi siapa pun yang tak sudi takluk dengan cuma-cuma", Zen RS dalam bukunya yang berjudul Simulakra Sepakbola.