Sampai akhirnya di tahun 2023 ada momen yang memaksa gue pergi ke Thailand, yaitu nonton konsernya Blackpink. Ngonsernya sehari, tapi gue putuskan untuk stay di Bangkok sampai lima hari sekalian jalan-jalan.
Kesan pertama saat menginjakkan kaki di Bangkok, "Oh, oke, gue suka dengan Sevel-nya." Waktu itu posisinya baru sampai hotel hampir tengah malam dan buat ganjel perut udah paling bener pergi ke Sevel, makanan beratnya cukup lengkap.
Selama lima hari di sana gue cuma ambil kesimpulan, "Bangkok kurang lebih sama seperti Jakarta, dengan kemacetannya, ojek motornya, dengan angkot dan bus yang over kapasitas, dan kendaraan ngebutnya. Kayak yang 'Lu mau ke mana, sih, Bang, buru-buru banget bawa kendaraan'."
Tapi ada yang membedakan dari Thailand khusunya kota Bangkok ini. Di tengah kesemrawutan jalanan seperti Jakarta dan kota besar lainnya. Semacet apa pun, setumpah-ruah apa pun kendaraan di jalan, gak ada yang namanya polusi suara klakson. Macet, ya, macet. Ojek nyalip mepet kanan-kiri, ya, banyak. Tapi, gak ada yang berlomba saut-sautan klakson. Heran gue. Kok, bisa sehening ini di tengah jalanan macet. Kok, bisa ego pengendaranya gak ikut terbakar di tengah udara Bangkok yang super panas ini?
Ada satu hal lagi yang bikin gue terpukau dengan negara ini. Di tempat umum, pasar, taman, stasiun, halte, terminal, bandara, dll. GAK ADA SATU PUN YANG MEROKOK. Bjiiir. Asli terharu banget nemu tempat di muka bumi yang gak ada asap rokok. Kayak, gue happy banget, rasanya pengen tiba-tiba pargoy sangking senengnya menghirup udara bersih di tempat umum. Hal yang gak akan pernah gue temui di Indonesia.
Bayangin aja, di Indonesia, gue belain jauh-jauh dari Serang ke Sukabumi hanya untuk mengejar laki-laki lain, buat apa, sih, benang biru kau sulam menjadi kelambu. NGGAK. Gue ke Sukabumi mau liat pepohonan, menikmati udara sejuk pegunungan, hal yang gak bisa gue dapet kalo di lingkungan tempat tinggal. Di kawasan Situ Gunung Sukabumi, kawasan sejuk, ada orang dengan santainya ngerokok. Literally, di tengah hutan, ngerokok. Astagfirullah. Orang jauh-jauh pergi ke kawasan hutan dan gunung buat nyari udara bersih dirusak sama manusia gak bertanggung jawab ini.
Tiap makan di kedai pinggir jalan, makanannya belum dateng, pengamennya udah bolak-balik ampe tiga kali. Itu di negara kita. Di Bangkok, gak ada yang namanya pengamen jalanan. Orang lagi makan, dinyanyiin. Gak ada. Gue sampe heran, temen gue heran, Jokowi juga heran, kok, enak banget, ya, makan di pinggir jalan gak diganggu pengamen yang kadang mintanya sambil maksa.
Dengan keterpukauan yang gue sebutin tadi belum cukup bikin gue ngerasa kayak, "Gue kudu balik lagi, nih, ke Bangkok." Nggak sama sekali. Gue pikir satu negara cukup satu kali gue kunjungi, kecuali Malaysia. Hahaha. Gak tau mungkin ada pertimbangan lain yang bikin gue mikir cukup sekali ke Bangkok, selain agak gak sebebas cari makanan halal seperti di Malaysia, juga karena agak kurang nyaman dengan kesulitan nemu bidet kalau pergi ke toilet umum. Sebagai warga yang gak terbiasa cebok hanya pake tisu baik setelah BAK atau BAB, rasanya pertimbangan ini cukup ikut andil kenapa cukup sekali aja ke sana, meski bukan alasan utama. Lebih ke... 'mending uangnya dipake buat eksplor negara lain biar nambah pengalaman baru lagi'.
Sampai akhirnya ada di momen ketemu promo AirAsia. Ngide banget kalo dapet tiket mau terbang ke Malaysia lagi buat ngisi liburan sekolah. Seperti biasa gue ingfo ke si kawan ternyata gak nemu titik tengah perihal tanggal keberangkatan. Ada yang belum dapet cuti apalah-apalah. Akhirnya gue putuskan untuk pergi sendiri aja kali ini, ke Malaysia lagi, terlebih promo ke sana ada harga yang murah banget. Sebelum akhirnya dapet wejangan dari si kawan baiknya pergi ke Bangkok aja karena gue udah terlalu sering pergi ke Kuala Lumpur. Sepertinya si kawan udah muak banget liat gue sering ke KL. Wkwkwk.
Gue yang masih setengah hati 'iya-iya nggak-nggak' untuk pilih promo ke Bangkok, akhirnya check out juga, tuh, tiket. Tapi, kayak gak semangat seperti biasanya setiap mau traveling. Gue belum dibuat jatuh cinta pada pandangan pertama saat ke Bangkok pertama kali tiga tahun silam. Jadi, kayak yaudalah udah terlanjur pilih tiket PP Bangkok, liat nanti aja gimana.
Ada unpopular opinion kayak gini, "Visit every place twice. Once as a tourist and once as a traveler." Kata-kata itu kayak ngena banget di gue terlebih gue gak ada planning pergi ke tempat-tempat wisata di sana. Semua itu udah pernah gue lakuin waktu ke Bangkok pertama kali, menjelajah setiap tempat wisata terutama pergi ke tempat paling ikonik kayak temple Buddha, Icon Siam, Chatuchak, Pratunam, Jodd Fair, dsb. Kali ini gue ke sana bukan sebagai turis, tapi pelancong yang menyamar jadi warlok.
Tiba hari H, gue yang meski pengalaman beberapa kali pergi ke negara tetangga tetep bawaannya degdegan karena ini kali pertama solo traveling. Ada sedikit rasa takut, cemas, tapi satu sisi senang dan bangga juga akhirnya bisa ke negara orang sendirian. Dan akhirnya momentum ini bikin gue bisa bilang, "Solo traveling ternyata cocok di gue." Malah nagih, pengen lagi kapan-kapan. Di konten terpisah nanti gue bakal tulis plus-minusnya solo traveling. Nunggu mood nulisnya.
Ada drama reschedule beberapa kali dari pihak maskapai AirAsia yang semula hanya reschedule jam sampai akhirnya tanggal keberangkatan akibat gonjang-ganjing konflik geopolitik di Timur Tengah dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Rencana semula stay enam hari jadi kepangkas hanya lima hari. Yaudah lah ya.
Lima hari di Bangkok gue sangat menikmati hari-hari di sana. Gak banyak pergi ke tempat wisata, tapi justru dengan melihat kehidupan sekitar gue merasa jatuh cinta sama kota ini. Jatuh cinta pada pandangan kedua.
Sewaktu duduk menyendiri di taman kota tiba-tiba gue mikir, apa yang membedakan Bangkok dengan Kuala Lumpur? Sama-sama menyediakan ruang publik yang bebas dari asap rokok, gak ada tukang parkir, gak ada pengamen, gak polusi klakson meski sedang di situasi kemacetan. Kendaraan di KL yang gue perhatikan tetap menjaga jarak aman dengan kendaraan di depannya. Tapi, tidak dengan di Bangkok. Di Bangkok abang ojek, abang Grab, abang taksi, kalo ada celah sedikit selagi bisa masuk, ya, masuk. Pepet terus. Namun, anehnya justru ketenangan sangat hidup di kota ini. Sebetulnya ruang publik menjadi tenang ketika gak bercampur dengan asap rokok, baik di KL maupun di Bangkok, terlebih lagi di Singapura. Tapi, Singapura gak gue mention di tulisan ini karena ia udah di next level, skip aja. Gue lagi meromantisasi kota Bangkok dulu. Wkwk.
Selama lima hari, tuh, gue coba cari apa jawaban dari pertanyaan yang gue ciptakan sendiri. Ternyata ada satu hal yang bikin gue mikir, "Oh, kayaknya karena... there are no ******* in Bangkok." Jawabannya gue keep sendiri aja apalagi ini hanya pendapat pribadi. Tapi, itu sih satu hal yang gue perhatikan yang membedakan Bangkok dengan KL.
Jadi, Bangkok, tuh, bukan perihal kemacetannya aja tapi tentang perasaan yang entah bagaimana bisa tumbuh di antara keramaian. Bangkok seperti punya cara sendiri untuk berjalan, tidak terlalu cepat untuk dilupakan, namun tidak terlalu lambat untuk membosankan.
Orang-orang, tuh, dateng ke Bangkok selain bawa koper juga bawa rasa penasaran. Pulang pun bukan hanya bawa oleh-oleh dan perjompoan, namun juga kenangan. Bangkok kayak ngajarin kita kalau perjalanan bukan perihal tempat yang kita datangi, tapi tentang perasaan yang kita bawa pulang. Sebab pada akhirnya yang paling sulit dari meninggalkan Bangkok bukanlah menutup koper bukan juga meninggalkan hotel dan bandara. Melainkan menyadari bahwa setelah kembali pulang ke rumah, ada sebuah kota yang masih terus hidup di dalam ingatan. HIDUP JOKOWI!!!



