Pantai Timang dan Sebuah Pelukan


Beberapa hari menjelang keberangkatan kami ke Jogja, si kawan nge-WhatsApp catatan itinerary yang dia bikin versi dia. Begitu gue baca satu per satu tujuan yang mau kami kunjungi, "Alamaakk jaahh...," kata gue dalam hati. Kenapa harus ada kunjungan ke pantai segala, sih? Kan gue kurang terlalu suka pantai? Waktu ke Bali aja yang identik dengan wisata pantainya gue enggan ke sana kalo bukan karena nurutin satu orang kawan gue. Lah, ini? Ke Jogja? Ujung-ujungnya ke pantai juga?
Gue harus bikin itinerary tandingan, nih. Gak boleh banyak-banyak tujuan ke pantai. Satu, masih oke, lah. Tapi kalo dicoret semua, itu lebih bagus. Ketawa jahat.

Ternyata sibuk, gak sempat bikin itinerary tandingan. Akhirnya gue ngalah ikut itinerary yang si kawan bikin. Untungnya terjadi negosiasi yang tidak alot di dalam Kereta Bogowonto yang membawa kami menuju Stasiun Lempuyangan, Jogja. Kami berdiskusi dengan kepala dingin -dalam arti sebenarnya- karena suhu udara malam  itu sepertinya sudah mencapai titik terendah.

Tiba juga hari yang (tak) dinanti. Sesuai yang tertera di itinerary, di hari ke-3 berkunjung ke Pantai Timang. Gue udah males-malesan aja bawaannya. Apalagi setelah tau kalau rute ke sana memakan waktu yang tidak sedikit. TIGA JAM. Alamaakk jaahh... Mau nyari apa si kawan ini bersikeras pergi ke pantai? Tapi demi menjaga tali silaturahmi, terpaksa lah pergi juga. 

Ya Allah Ya Robbi ... 
Ternyata cobaannya bukan hanya di lamanya waktu perjalanan, tapi track menuju ke sana juga aduhai membuat jantung tak berhenti berdegup kencang. Jalanannya sepi, sudah begitu berkelok-kelok pula, naik-turun, terkadang sisi kanan-kiri jurang, apalagi setiap melintasi tanjakan kami dibuat menerka-nerka jalan turun di depannya apakah turun-lurus, turun-berkelok, atau turun dengan kemiringan seperti segitiga siku-siku. Bikin sport jantung pokoknya. Tapi bagusnya selama perjalanan gak ada cewek ABG bonceng tiga. 

Lama tak nampak ada keramaian selama perjalanan, sampai akhirnya ada juga tanda-tanda kehidupan. Kami menemukan pom bensin. Mampir lah kami sebentar. Isi bensin? Tidak. Numpang pipis.

Kami melanjutkan perjalanan. Keramaian di pom bensin perlahan hilang. Kembali melalui jalanan sepi nan sejuk. Pepohonan di kanan dan kiri jalan memanjakan mata, namun hati tetap was-was. 

Setelah menempuh dua-setengah jam perjalanan, kami berhenti di pinggir jalan sekedar mengendurkan otot telapak tangan yang tegang menahan gas dan rem depan. Sambil sesekali mengecek sinyal di handphone, walaupun kami tau itu hal yang sia-sia.

"Ayok lanjut jalan! Sebentar lagi sampe!" teriak si kawan memecah keheningan. "Sampe pale lo?" jawab gue dalam hati. Sebetulnya kami sempat kepikiran ini baiknya lanjut perjalanan atau balik lagi aja, pulang. Soalnya agak ragu mau melanjutkan perjalanannya, gak nyampe-nyampe. Dan mikirin ntar gimana pulangnya. Jangan sampe kesorean, khawatir akan gelap karena gak ada lampu jalan dan horror juga, kan.

Demi menjaga tali silaturahmi, kami melanjutkan perjalanan.
Setengah jam kemudian, sampailah kami di sebuah warung pinggir jalan. Di situ tampak beberapa laki-laki berperawakan garang seperti tengah menunggu korbannya datang. Oh, rupanya kumpulan tukang ojek. Rupanya kami betul-betul sudah sampai. Ada papan penunjuk jalan bertuliskan "Pantai Timang" lengkap dengan gambar anak panahnya.

Motor kami disarankan oleh si penjaga warungnya ditaruh saja, sementara untuk menuju lokasinya yang berjarak sekitar 2 kilometer baiknya naik ojek pangkalan. Tarifnya Rp 50.000 pergi-pulang per orang. Dan emang gue sarankan kalau ada yang mau ke sana naik ojek aja, karena track-nya curam, naik-turun, terjal dan berbatu. Pokoknya jauh lebih mengerikan dari yang dibayangin. Serius. Kecuali kalau ada yang mau bikin susah diri sendiri, silakan.

Kami bertiga sudah siap dengan ojeknya masing-masing. Perjalanan dimulai...

Sepuluh meter pertama masih aman.
Memasuki puluh meter berikutnya, petualangan dimulai! 
Saking takutnya, selama perjalanan gue gak berhenti teriak-teriak nyebut Asma Allah karena dipikiran gue udah ngebayangin hal-hal buruk akan terjadi (tapi untungnya nggak), entah itu si leher motornya patah, bannya selip, rantainya putus, atau si mamang ojeknya lepas kendali, remnya blong, dan sebagainya. Beneran jalannya kacau banget. Kayak track ke gunung tapi bebatuan terjal, bukan tanah. Gak kebayang, lah, kalo ada yang ngajak ke sana lagi ogah, gue kapok.

Ada satu kejadian yang gak pernah gue lakuin sebelumnya; gue peluk mamang ojeknya erat-erat. 

Dalam keadaan terombang-ambing di atas motor, gue sempet kepikiran, Ya Allah ini orang bukan mahrom gue, kalo gue peluk udah pasti dosa, kan, ya? Tapi kalo gak dipeluk, demi apa bakalan jumpalit. Jumpalit tuh bahasa Indonesianya apa, ya? 
Itu, loh, kalo kendaraan melintasi gejlugan (halah gejlugan), akan terpental si penumpangnya. Ngerti, kan?  Wkwkwk

Akhirnya beneran gue peluk tuh si mamang ojek. Dalam keadaan mudarat mah gpp, kan, ya? Iya. 

Setelah drama perjalanan yang suram tersebut, sampailah kami di pantai yang dimaksud.
Segala rasa lelah dan ketakutan hilang seketika mendengar deburan ombak yang tak biasa. Ini beneran beda dari beberapa pantai yang pernah gue kunjungi (Pantai Anyer, Pantai Merak, Pantai Anyer, Pantai Merak).


Wow! Gokil! Suara ombaknya dari kejauhan kedengeran keren banget! Begitu meniti beberapa anak tangga, hamparan laut biru dengan batu karang yang ada di tengah mulai terlihat, indah banget. Serius gue menyesal pernah bilang "gue kurang terlalu suka pantai". Gue harus menarik kata-kata itu gara-gara Pantai Timang ini. Gokil! Gokil! Gokil! Terbayar sudah rasa lelahnya melihat bentangan garis horison yang mempertemukan birunya langit dan laut. 

Rasa kagum kami agak sedikit terganggu dengan suara rintihan dari dalam perut alias laper. Deretan warung yang terbuat dari bilik bambu dengan si Mbak pemilik warungnya yang ramah sepertinya mampu mengobati perih ini. 

Isi amunisi dengan semangkuk Indomie rebus pake telor dan cabe rawit, minumnya segelas kopi Good Day Mocachino, duduknya menghadap laut biru. Kaki sambil uncang-uncang mengikuti irama debur ombak. Gile, asik bener gak, tuh?

Mau foto-foto pun disediain spotnya. Mulai dari yang gratisan sampe yang berbayar. Spot yang di bawah ini, bertarif Rp 5.000 per orang sepuasnya.


Sedangkan spot yang ini bertarif (gue lupa, sih, tapi kalo gak salah) Rp 15.000 per orang tapi gue tawar jadi Rp 10.000 per orang.


Nah, kalo spot yang di bawah ini gratis! Tapi, bahaya mengintai. Dan gue kena getahnya. Handycam gue rusak terkena air laut. Gara-garanya waktu gue mau foto di tempat ini, seketika ombak datang tanpa permisi. Buuzzz!! Basah kuyup lah gue. Baju, sepatu, termasuk handycam tak ada yang luput dari hantamannya. Tak apalah, ini kenang-kenangan.

 Jadi, kalo mau foto di spot gratisan ini jangan terlalu mendekat ke bibir karang, ya! Kecuali kalo kalian pengen rasain sensasi foto sambil basa-basahan diguyur ombak.

Alhasil, daripada gue masuk angin pake sepatu basah, terpaksa beli sendal jepit. Kalo baju sih kering di badan :v


7 comments

Turut berduka cita atas handycamnya mbak..
Kalau saia mah bakal berduka untuk waktu yang lama kalau perangkat dokumentasi sampe rusak.. hehe

G cobain lewat jembatannya..?

Hahaha iya makasih. Masih dlm proses service handycamnya :))
Gak coba lewat jembatannya krn sayang lewat doang 100ribu. Hahaha

Iya betul, udah gitu gak gratis lagi, mesti bayar 100ribu kalo mau lewat. Hehehe

Kalau pulang kampung ke jogja, bisa dicobain nihh pergi ke pantai timang. Hihi.

Ya! Wajib! Berkabar kalo udah ke sana :p

Syukur deh kalo masih bisa diperbaikin..
Iya, emang mahal.. Bikinnya susah soalnya.. hehe


Emoticon Emoticon