Hotel Murah di Jogja

Gue lebih suka menyebutnya "homestay".

Trip ke Jogja 4H3M gue kali ini singgah di dua homestay yang berbeda. Pertama gue menginap di Yez Yez Yez All Good Hostel dan kedua di Renny Homestay. Dengan tarif yang sama, mana yang lebih recommended?

1. Yez Yez Yez All Good Hostel


Dengan tarif Rp50.000 per malam gue suka banget dengan konsep homestay ini, kekinian dan instagramable. Di sini banyak tipe kamar yang disediakan, mulai dari yang model dormitory, kamar ngampar, private room, tenda sampai hammock. Wth? Hammock? Yak! Kebayang gak sih lu menginap di homestay dan tidur di atas hammock all day night? Haha gokil. 


Kebetulan kemarin gue pilih yang tipe tenda. Beneran tidur di tenda ala pendaki-pendaki gunung dan pihak homestay gak menyediakan storage untuk barang bawaan. Kalo mau ya simpen aja di luar tenda atau kalau barang berharga simpen di dalam tenda yang ukurannya gak segede dosanya Hitler. 



Begitu juga dengan tipe yang lain. Mereka gak menyediakan tempat untuk menyimpan barang bawaan kita. Disediakan loker bagi yang mau mengeluarkan uang ekstra.

Mau bahas sedikit yang tipe kasur ngampar. Apa itu kasur ngampar? Jadi, ya lu cuma disedian sebuah kasur, beneran cuma kasur doang yang ngampar di balkon atau di teras homestay tanpa ada sekat permanen antara tamu satu dengan tamu yang lain. Kebayang gak, sih, sampe sini?

Gue aja kaget waktu bangun tidur tiba-tiba ada kasur depan tenda dan ada si penghuni kasurnya. Gue dalam hati, apa-apaan ini ada orang tidur di atas kasur di mana kasur tersebut ngalangin pintu keluar-masuk tenda gue? Pas gue tanya si mbaknya, "Mbak, kok, tidur di sini?" Kemudian dia bilang emang pesan tipe kasur ngampar, anjirlah, kocak. Jadi, si mbak itu (solo backpacker) tidur tanpa tedeng dan alih-alih. Penyekat di antara tenda gue dan kasur dia itu cuma kata 'permisi', "Permisi Mbak, saya mau masuk...."

Oh, iya, kebanyakan tamu di sini tuh bule. Bagi yang penasaran betis orang bule ada bekas knalpot apa nggak, nginep aja di sini.


2. Renny Homestay


Rumah kost-an yang disulap jadi hunian sementara buat para backpacker ini juga cukup terjangkau. Dengan harga Rp50.000 per malam homestay ini menyediakan sebuah kamar, sebuah kasur, sebotol welcome drink, dan sebuah kipas angin dengan kamar mandi yang sama shared bathroom seperti homestay sebelumnya. Lokasinya lebih dekat ke bandara Adisucipto dan Plaza Ambarukmo. Untuk ke pusat kota membutuhkan waktu sekitar lima menit kalo yang bawa motornya Valentino Rossi. Kebetulan pake itungan gue yang bawa, jadi sekitar tiga puluh menitan.

Berbeda dengan Yez Yez Yez All Good Hostel yang kental banget nuansa-nuansa backpacker-nya, Renny Homestay ini kebalikannya. Nuansa-nuansa mahasiswa yang lagi ngekostnya berasa banget. Lebih hening suasana di sekitar sini. Si pemilik homestay-nya sepasang suami-istri yang ramah, dibolehin early check in selagi kamarnya kosong.


Cukup nyaman untuk sekadar merebahkan punggung setelah seharian naik motor.


Fyi: Kedua homestay tersebut tidak meyediakan peralatan mandi seperti handuk, sabun, sikat dan pasta gigi. Bawa sendiri aja, gais.

Dari ulasan di atas, gue prefer yang mana?
Sama aja, kebetulan di hari pertama dan kedua dapet homestay yang 'gue banget' ketika lagi bepergian dan di hari terakhir dapet homestay yang 'gue banget' ketika ingin beristirahat dari kemiskinan kelelahan.

Tertarik?


Emoticon Emoticon