Dijawab oleh Waktu

ilustrasi: pixabay


Minggu pagi, gorden kamar sengaja nggak gue buka agar makin nyaman "leyeh-leyeh" di atas kasur. Seperti hari Mingu sebelum-sebelumnya, hari ini gue tidak berencana pergi ke mana pun. Ada dua buku baru yang belum gue selesaikan membacanya. Tapi sepertinya gue nggak akan menyelesaikan semuanya hari ini. Mungkin gue akan berlama-lama kembali di depan komputer, meneruskan editan di Photoshop untuk header dan favicon blog yang belum "cucok".

Sebelum kegiatan "sok sibuk" itu terlaksana, gue akan membaringkan badan lebih lama, membuka aplikasi YouTube, melihat highlight gol-gol yang tercipta di pertandingan liga-liga di Eropa semalam. Luis Suarez on fire - Paulinho mematahkan praduga pembelian terburuk - Pogba come back - Zlatan sudah duduk manis di bangku cadangan - Alexis mengobati patah hatinya yang tak bisa meloloskan Chile ke Piala Dunia 2018 dengan menaklukkan Hotspurs - Liverpool tak salah membeli Salah - De Bruyne makin moncer di tangan Guardiola - Neymar tak memberi umpan matang kepada Cavani - AC Milan tumbang di tangan Napoli, Munchen menggila sudah biasa - Namun, yang paling menarik perhatian adalah Madrid menelan hasil imbang melawan tim rival sekota, Atletico. Tandemnya di el clasico, Barcelona makin nyaman di pucuk dengan selisih sepuluh poin. Gue merayakannya sendiri dalam hati.

Handphone yang dihuni oleh nomor Telkomsel berbunyi. Tanpa melihat layarnya, gue udah tau siapa yang menelepon dari ujung sana, karena nomor Telkomsel gue hanya tiga orang yang tau; kawan gue satu orang; salah seorang wali murid; dan driver pada aplikasi GoJek. Wali murid menelepon di hari libur begini sepertinya tidak mungkin. Driver GoJek nanyain gue pake baju apa dan berdiri di mana juga nggak mungkin, karena gue masih bersemayam di kamar. Sudah pasti kawan gue. Benar saja!
"Halo," sapa suara dari ujung telepon. Dari suaranya gue tau dia sedang berada dalam posisi yang sama kayak gue, "leyeh-leyeh".
"Waalaikumsalam," balas gue ngasih kode.
"Assalamualaikum," jawab dia peka.
"Walaikumsalam. Lagi di Jakarta, Beb?" terka gue.
"Nggak, Beb, belum tau lagi kapan ada tugas ke Jakarta," jawabnya pesimis.
Selama hampir satu jam kami larut dalam percakapan. Ketawa-ketiwi laiknya tak pernah berjumpa sekian lama. Terakhir ketemu tiga bulan yang lalu. Waktu itu si kawan ada tugas ke Jakarta, maka kami sempatkan bertemu. Dan memang kami cuma dapat bertemu setiap si kawan ada tugas ke Jakarta. Ibarat kata sambil menyelem minum air; sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Sambil tugas sambil main. Terakhir ketemu kemarin, kami mainnya kebablasan, awalnya cuma sekitaran Jakarta, taunya melangkah sampe ke Bandar Lampung, dari Serang, naik motor. Gila.

"Gantian kapan main ke sini?" tukasnya memotong pembicaraan.
"Jarang ada tiket promo ke Makassar, jadi kemungkinannya kecil," sanggah gue.
"Hmm.. Susah muka-muka promo," ejeknya.

Perbincangan berlanjut, tawa kami pecah setiap mengingat kembali peristiwa absurd macam begitu. Lewat sambungan telepon kami menumpahkan  rindu. Kejadian-kejadian konyol, segala tingkah bodoh kami, kebersamaan  penuh gelak-tawa, melangkah bebas ke mana pun, akan kah bisa terulang kembali saat kelak kami sudah mempunyai kehidupannya masing-masing?




Emoticon Emoticon