Thursday, November 16, 2017

Cara 'Ngakalin' Promo di Traveloka

Sekarang ini PT KAI lagi gencar-gencarnya promosiin salah satu moda transportasi darat andalan mereka, ya, apalagi kalau bukan kereta api. Di Twitter sering gue liat hashtag #AyoNaikKeretaApi seliweran di linimasa. Tapi, entah kenapa gue gak pernah tertarik untuk naik kereta api, terutama untuk perjalanan jarak jauh. Gue udah ngebayangin bakalan bete setengah mati berada di dalam kereta berjam-jam. Soalnya pengalaman naik kereta api paling jauh cuma dari Stasiun Serang ke Stasiun Jatinegara, Jakarta.

Sampai suatu ketika si kawan nge-WhatsApp, "Liburan ke Jogja, yuk! Tapi naik kereta aja biar murah!" Jelas lah gue agak gimana gitu dengernya. Tapi si kawan ini coba ngeyakinin kalo naik kereta itu gak sesuram yang gue bayangin. Terus karena gue pikir belum punya rencana ke mana-mana akhirnya gue bilang oke lah. Tapi, dengan satu syarat (gue bilang ke si kawan); "Beli tiketnya talangin dulu," cekikikan dalam hati.

Pergi lah kami ke Jogja bulan Juli kemaren. Dari pengalaman itu, sepertinya gue nagih naik kereta api. Udah tiketnya lebih murah, ternyata bener kata si kawan, gak sesuram yang gue bayangin, ahelah. Brb, gue install aplikasi yang disediakan oleh PT KAI untuk pemesanan tiket online, KAI Access namanya. Uanjirlah! Pas iseng gue liat list harganya bikin ngiler. Tanpa pikir panjang, persiapan untuk liburan sekolah bulan Desember gue coba booking tiket ke Malang, untuk kelas ekonomi harganya cuma Rp 109.000, pun dengan harga tiket kepulangan, sama harganya segitu. Makin semangat, dong, gue untuk melanjutkan proses pemesanannya. 

Udah isi data diri, isi tanggal keberangkatan dan kepulangan, pilih seat segala macem, langkah terakhir adalah proses pembayaran. Udah excited banget tuh gue. Begitu klik "Proses Pembayaran..."
SILAKAN ISI NOMOR KARTU KREDIT ANDA. Anjay! Gue tuh paling sebel kalo beli atau booking sesuatu via online, pembayarannya pake kartu kredit. Ngeselin. Gak jadi booking, lah akhirnya.

Gue pikir zaman now gak ada yang gak mungkin. Pelarian gue ke Traveloka, soalnya udah pernah booking hotel di situ. Alasan awal gue gak langsung nyari di Traveloka tuh karena gue pikir kalo booking dari website KAI-nya langsung akan lebih mudah dan murah. Ternyata bagi kaum tak berkartu kredit macam gue, itu gak berlaku.
Emang, sih, harga Rp 109.000 itu sudah termasuk paling murah, pergi-pulang cuma Rp 218.000. Tapi, ya itu kendala di cara pembayarannya.

Sedangkan di Traveloka, selain pembayarannya lebih fleksibel, bisa melalui transfer ATM atau bayar di minimarket, juga ada promo setiap hari.  Kampret banget gak tuh Traveloka kasih promo tiap hari dan gak banyak cincong.

Akhirnya gue coba pesan di Traveloka dengan jadwal yang sama kayak tadi. Harganya pun sama kereta tujuan Ps. Senen - Malang, Malang - Ps. Senen Rp 218.000. Bedanya, kalau di Traveloka, harga segitu masih bisa dapet potongan Rp 25.000 kalau kita masukin kode promonya! Wuih! Kampret banget gak tuh enaknya.

Singkat cerita, gue saattt-seettt isi biodata diri, masukin kode promonya, tertera jumlah nominal yang harus dibayar Rp 218.000 dikurangi promo Rp 25.000, yang harus dibayar cuma Rp 193.000. Lumayan, kan?

Eits! Tapi gue mengurungkan niat booking-nya. Gue cancel. Loh, kok?
Ya! Gue mau licik sedikit! Hari itu gue pesan tiket kereta untuk keberangkatannya dulu. Jadi gini... jadi gini... Sini gue kasih tips biar harga yang udah murah tadi bisa lebih murah lagi.

Pertama, gue pesan tiket keberangkatannya dulu. Dari harga yang tertera Rp 109.000, masukkan kode promonya, otomatis akan berkurang Rp 25.000. Jadi harga yang dibayarkan cukup Rp 92.000 seperti yang tertera pada screenshoot di bawah.


Baru esok harinya gue pesan lagi tiket pulangnya. Kayak di bawah ini. Kenapa harus keesokan harinya? Karena kode promo berlaku untuk satu pemesanan yang sama dalam satu hari tersebut cuma satu kali. Gpp lah usaha sedikit lebih keras cerdas.


Nah, jadinya harga tiket pergi-pulang Jakarta - Malang cuma Rp 184.000. Ahaaiii ... cerdas bersahaja. Wkwkwk


*fyi
gue booking tiketnya waktu bulan September, saat itu;
- aplikasi KAI belum sefleksibel sekarang yang bisa menerima pembayaran lewat ATM dan minimarket. Sekalipun begitu, kayaknya mending pesan via Traveloka, sih, lumayan promonya;
- untuk promo kereta di Traveloka cuma Rp 25.000, tapi untuk yang sekarang sih gue liat makin gede promonya Rp 30.000. ajib! 


Wednesday, November 15, 2017

Gara - Gara Uang Seribu



Malam ini, melalui sambungan telepon, sepupu gue bercerita tentang kejadian yang baru dia alami siang tadi.
Sebelumnya gue kasih gambaran dulu sekilas situasinya karena masih ada hubungannya dengan gue.
Gue meminta tolong sepupu gue ini untuk mengurusi perkara STNK motor gue yang disita (karena ditilang) di Kantor Pengadilan Rangkasbitung. Urusannya sangat ribet dan berbelit. Tau, lah, ya birokrasi kita kayak gimana. Tapi, gue gak mau bahas panjang-lebar perkara "tilang" ini di sini. Mungkin setelah urusannya selesai, STNK udah di tangan, gue akan bikin tulisannya terpisah. Bikin geregetan pokoknya.

Sepupu gue berdomisili di Cilegon, pagi-pagi dia berangkat ke Stasiun Merak untuk mengejar kereta jurusan Rangkasbitung yang berangkat pukul 05.30 WIB. Dengan membawa bekal sebungkus nasi dan lauk ikan sarden yang sempat dimasaknya pukul empat pagi, berangkat lah ia. Sebuah dompet kecil ia bawa untuk menampung beberapa kartu dan kertas usang seperti; KTP, ATM tak bersaldo, Kartu BPJS, Kartu Mahasiswa jaman mudanya dulu, Kartu Keanggotaan Multi Level Marketing, Kartu Pelajar anaknya yang masih TK, lipatan Surat Kuasa yang melimpahkan ke sepupu gue untuk mengurusi perkara tersebut, sampai selipan kertas kecil catatan nama orang-orang yang ngredit Tupperware pun ada. Dan tak luput beberapa lembar mata uang rupiah yang berjumlah Rp 40.000 ikut berjejal rapi di dompet yang resletingnya harus dibuka-tutup berkali-kali biar tertutup sempurna.

Dari rumahnya, dia naik angkot ke Stasiun Merak, uang pecahan lima ribu rupiah keluar dari dompetnya. Perlu usaha keras untuk menutup resleting dompetnya agar kembali tertutup. Maka dia berinisiatif untuk menaruh sisa uangnya di saku celana.

Langsung membeli tiket kereta seharga Rp 3.000, tak lama kemudian kereta datang tepat waktu. Butuh waktu satu setengah jam perjalanan Stasiun Merak - Rangkasbitung. Tersisa uang sebesar Rp 32.000 yang akan ia gunakan untuk sekadar jajan es cincau capuchino, siomay, atau telor puyuh. Tak lupa tentunya menyisakan untuk ongkos pulang.

Karena berangkat pagi-pagi sekali, ia tak sempat sarapan. Di depan kantor pengadilan, sambil duduk di atas anak tangga, menunggu namanya disebut oleh panitera, kemudian ia membuka bekal nasi dan lauk sardennya. Kertas katalog Tupperware yang jadi pembungkus luar nasi terlihat transparan. Sepertinya minyak yang dikeluarkan dari lauk sarden sudah mulai "jedogan" merayapi kertas katalog edisi bulan Oktober tersebut. Bergegas ia memakannya.

"Anisa!" Terdengar suara dari dalam ruangan memanggil namanya. Kini gilirannya.
"Ibu mewakilkan atas nama orang lain? Kalau iya, silakan tunjukkan KTP dan Surat Kuasa dari orang yang menguasakan," kata si panitera.
"Ini, Pak!" sambil menyodorkan KTP dan Surat Kuasa yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
"Oh, enggak, Bu, cukup KTP, untuk Surat Kuasa sudah kami persiapkan, silakan Ibu membayar uang sebesar Rp 30.000 dan langsung tanda tangan di atas materai," sanggah si panitera.
Anjir! Selembar Surat Kuasa aja pake dibisnisin! Kampret lah! Padahal sepupu gue udah capek-capek bikin Surat Kuasanya dari rumah dan diprint di warnet. Sudah lengkap dengan tanda tangan si pemberi kuasa. Di sana ditolak mentah-mentah dengan alasan "sudah disiapkan dari sini". Kenapa gak bilang dari kemaren kampret? Kan dia udah bolak-balik dua hari ke pengadilan. Kalau dibilang dari awal, dia gak akan capek-capek bikin itu surat malam hari setelah dia balik dari pengadilan di hari yang pertama.
Oke..oke.. Gue gak boleh kebawa emosi dulu. Nanti ada tulisannya terpisah buat numpahin emosi gue tentang birokrasi yang super ribet ini.

Duit dia kan tinggal Rp 32.000, mau gak mau dia serahkan juga Rp 30.000 untuk "beli" Surat Kuasa "yang sudah disiapkan". Ditandatangani oleh sepupu gue sendiri. Jadi, nggak butuh lagi tuh yang namanya harus ada tanda tangan dari pihak si pemberi kuasa.

Belum sampe di situ, duit sepupu gue yang tinggal selembar-lembarnya -dua ribu rupiah- masih harus mengumpulkan fotokopi KTP. Pergi lah dia ke tukang fotokopi, habis seribu rupiah. Jadi, sisa uang dia di kantong bener-bener tinggal seribu rupiah. Dia sempet nelpon ke gue pas gue lagi ngajar di kelas. Berarti itu sebelum Dzuhur. Dia bilang kalo duitnya abis, nyisa seribu. Dia ceritain kalo dari rumah cuma bawa duit Rp 40.000, dia rinci, tuh, untuk; angkot Rp 5.000, kereta Rp 3.000, Surat Kuasa Rp 30.000, fotokopi KTP Rp 1.000. Kan gue sedih, ya, dengernya. Gue tawarin apa mau gue transfer dulu buat jajan di sana atau beli makan. Tapi dia nolak, katanya gak usah soalnya baru makan bekal nasi juga, masih kenyang. Kalo buat ongkos pulang mah gampang soalnya ini lagi sambil nunggu antrian pengembalian uang sisa tilang. Terus gue sepik-sepik nawarin lagi, ya takutnya lu mau beli es atau apa gitu, dan dia nolak untuk kedua kalinya. Bagus lah kata gue dalam hati.

Setelah menyerahkan Surat Kuasa bertanda tangan beserta uangnya, kemudian sepupu gue dan ratusan orang lainnya dipersilakan mengantri di BRI untuk pengambilan sisa uang tilang. Ih, sumpah ribet!

Di Bank BRI lagi-lagi harus ngantri dengan puluhan (atau mungkin ratusan) orang lainnya. Sepupu gue ini, karena mau ngejar jadwal kereta pulang yang jam setengah satu, dia ngerengek ke satpam supaya minta didahulukan karena rumahnya jauh, dan kereta terakhir pukul 14.30, sedangkan antrian masih panjang mengular dari Sabang sampai Merauke. Tapi dia malah dicuekin dan dimarahin sama satpamnya,
"Gak bisa, Bu! Ibu harus tetep ikut ngantri!" kata satpamnya.
"Tapi, Pak, kereta terakhir ..." jawab sepupu gue yang belum kelar.
Berkali-kali sepupu gue membujuk, berkali-kali pula si satpam melengos tak menghiraukan.

Lama tuh dia nunggu belum dipanggil juga. Tak lama adzan Dzuhur berkumandang. Dengan sisa uang seribu rupiah yang nyelip di kantong, dia jalan kaki pergi ke mesjid terdekat.

Selepas solat dan hendak pergi mengantri lagi di bank, dia berpapasan dengan seorang pengemis menengadahkan tangannya. Berdasarkan cerita dari sepupu gue, dia sempet mikir, ini duit yang tinggal seribu-seribunya ini mau dikasihin ke pengemis atau buat beli Teh Sisri aja?
Dikasih lah itu akhirnya si duit seribu ke pengemis tadi. Dia lanjut jalan tanpa memikirkan apa pun.

Pas nyampe di depan gerbang, dilihatnya antrian masih banyak berjejal. Karena menurut informasi, yang terjaring Operasi Zebra mencapai angka ribuan untuk wilayah Rangkasbitung saja. Kalo dipanggil berdasarkan nomor urut, pasti dia akan kebagian sekitar jam tiga lewat. Sudah pasti akan ketinggalan kereta yang jadwal terakhir.

Sambil nyari tempat yang bisa diduduki, karena sudah pasti jarang ada bangku dan ruang kosong di tengah kerumunan massa yang kena tilang tersebut, sepupu gue ini iseng nanya ke satpamnya lagi, "Pak, saya bisa minta tolong didahulukan karena saya ngejar kereta terakhir?" Tak disangka, satpamnya tidak melengos dan bilang, "Yaudah Ibu masuk aja ke dalem temuin Pak Yudi." Lah???
Masuklah dia. Ketemu dengan Pak Yudi dan mengutarakan niatnya. Gak banyak cincong, tak sampai lima menit, dia serahkan slipnya, langsung diserahkan sisa uang tilangnya. Lah??? Sementara orang-orang di luar masih mengantri, dia seorang diberi kemudahan. Dan si Pak Yudi ini menyarankan agar sepupu gue langsung mengambil STNK-nya di pengadilan dengan membawa selembar kertas yang dia kasih. Walaupun pada akhirnya sepupu gue memutuskan untuk mengambilnya esok hari, karena mau bergegas ngejar kereta terakhir.

Selama perjalanan pulang dia gak berpikir apa-apa, pokoknya pengen cepet pulang ketemu anaknya yang pagi tadi sempat nangis karena ditinggal.

Sesampainya di rumah dia dikasih tau mertuanya kalo dagangannya yang biasa dia kreditin banyak yang ngambil dan bayar cash. Biasanya orang-orang ngambil barang di dia, ya, ngutang, kredit, atau tempo. Gak mikir apa-apa dia. Biasa aja. Tapi rupanya dia gelisah sama kejadian yang barusan dan kejadian tadi di pengadilan. Kejadian yang menurut dia gak diduga, diberi kemudahan setelah sebelumnya sempat tak dihiraukan, dan begitu pulang barang dagangannya banyak yang ngambil. Dia sempat berpikir apa karena uang yang dia kasih, yang tinggal seribu-seribunya itu. Padahal memang niatnya memberi tanpa pamrih, tapi Allah kasih kemudahan. Wallahualam.

Gue denger dia cerita begitu di telepon tadi kayak yang... "Oh, iya, Allah tuh kasih kita rejeki dan kemudahan atau apapun itu dengan caraNya sendiri yang gak pernah kita duga."

Ini kejadian yang bikin gue dan sepupu gue itu berpikir kalau ada istilah "di setiap kejadian ambil hikmahnya" itu benar adanya.

Mungkin gue gak bisa menyentuh hati yang baca tulisan ini karena tata bahasa gue yang kacau, mungkin dianggap "ahelah kejadian gitu doang geh lebay", dan sejuta kemungkinan  yang lain. Gaya bahasa gue gak kaya tulisan di broadcast-an WhatsApp yang bisa membuat orang yang baru melek internet menelan mentah-mentah berita hoax menjadi pesan berantai.




Wassalam.

Monday, November 13, 2017

Pantai Timang dan Sebuah Pelukan


Beberapa hari menjelang keberangkatan kami ke Jogja, si kawan nge-WhatsApp catatan itinerary yang dia bikin versi dia. Begitu gue baca satu per satu tujuan yang mau kami kunjungi, "Alamaakk jaahh...," kata gue dalam hati. Kenapa harus ada kunjungan ke pantai segala, sih? Kan gue kurang terlalu suka pantai? Waktu ke Bali aja yang identik dengan wisata pantainya gue enggan ke sana kalo bukan karena nurutin satu orang kawan gue. Lah, ini? Ke Jogja? Ujung-ujungnya ke pantai juga?
Gue harus bikin itinerary tandingan, nih. Gak boleh banyak-banyak tujuan ke pantai. Satu, masih oke, lah. Tapi kalo dicoret semua, itu lebih bagus. Ketawa jahat.

Ternyata sibuk, gak sempat bikin itinerary tandingan. Akhirnya gue ngalah ikut itinerary yang si kawan bikin. Untungnya terjadi negosiasi yang tidak alot di dalam Kereta Bogowonto yang membawa kami menuju Stasiun Lempuyangan, Jogja. Kami berdiskusi dengan kepala dingin -dalam arti sebenarnya- karena suhu udara malam  itu sepertinya sudah mencapai titik terendah.

Tiba juga hari yang (tak) dinanti. Sesuai yang tertera di itinerary, di hari ke-3 berkunjung ke Pantai Timang. Gue udah males-malesan aja bawaannya. Apalagi setelah tau kalau rute ke sana memakan waktu yang tidak sedikit. TIGA JAM. Alamaakk jaahh... Mau nyari apa si kawan ini bersikeras pergi ke pantai? Tapi demi menjaga tali silaturahmi, terpaksa lah pergi juga. 

Ya Allah Ya Robbi ... 
Ternyata cobaannya bukan hanya di lamanya waktu perjalanan, tapi track menuju ke sana juga aduhai membuat jantung tak berhenti berdegup kencang. Jalanannya sepi, sudah begitu berkelok-kelok pula, naik-turun, terkadang sisi kanan-kiri jurang, apalagi setiap melintasi tanjakan kami dibuat menerka-nerka jalan turun di depannya apakah turun-lurus, turun-berkelok, atau turun dengan kemiringan seperti segitiga siku-siku. Bikin sport jantung pokoknya. Tapi bagusnya selama perjalanan gak ada cewek ABG bonceng tiga. 

Lama tak nampak ada keramaian selama perjalanan, sampai akhirnya ada juga tanda-tanda kehidupan. Kami menemukan pom bensin. Mampir lah kami sebentar. Isi bensin? Tidak. Numpang pipis.

Kami melanjutkan perjalanan. Keramaian di pom bensin perlahan hilang. Kembali melalui jalanan sepi nan sejuk. Pepohonan di kanan dan kiri jalan memanjakan mata, namun hati tetap was-was. 

Setelah menempuh dua-setengah jam perjalanan, kami berhenti di pinggir jalan sekedar mengendurkan otot telapak tangan yang tegang menahan gas dan rem depan. Sambil sesekali mengecek sinyal di handphone, walaupun kami tau itu hal yang sia-sia.

"Ayok lanjut jalan! Sebentar lagi sampe!" teriak si kawan memecah keheningan. "Sampe pale lo?" jawab gue dalam hati. Sebetulnya kami sempat kepikiran ini baiknya lanjut perjalanan atau balik lagi aja, pulang. Soalnya agak ragu mau melanjutkan perjalanannya, gak nyampe-nyampe. Dan mikirin ntar gimana pulangnya. Jangan sampe kesorean, khawatir akan gelap karena gak ada lampu jalan dan horror juga, kan.

Demi menjaga tali silaturahmi, kami melanjutkan perjalanan.
Setengah jam kemudian, sampailah kami di sebuah warung pinggir jalan. Di situ tampak beberapa laki-laki berperawakan garang seperti tengah menunggu korbannya datang. Oh, rupanya kumpulan tukang ojek. Rupanya kami betul-betul sudah sampai. Ada papan penunjuk jalan bertuliskan "Pantai Timang" lengkap dengan gambar anak panahnya.

Motor kami disarankan oleh si penjaga warungnya ditaruh saja, sementara untuk menuju lokasinya yang berjarak sekitar 2 kilometer baiknya naik ojek pangkalan. Tarifnya Rp 50.000 pergi-pulang per orang. Dan emang gue sarankan kalau ada yang mau ke sana naik ojek aja, karena track-nya curam, naik-turun, terjal dan berbatu. Pokoknya jauh lebih mengerikan dari yang dibayangin. Serius. Kecuali kalau ada yang mau bikin susah diri sendiri, silakan.

Kami bertiga sudah siap dengan ojeknya masing-masing. Perjalanan dimulai...

Sepuluh meter pertama masih aman.
Memasuki puluh meter berikutnya, petualangan dimulai! 
Saking takutnya, selama perjalanan gue gak berhenti teriak-teriak nyebut Asma Allah karena dipikiran gue udah ngebayangin hal-hal buruk akan terjadi (tapi untungnya nggak), entah itu si leher motornya patah, bannya selip, rantainya putus, atau si mamang ojeknya lepas kendali, remnya blong, dan sebagainya. Beneran jalannya kacau banget. Kayak track ke gunung tapi bebatuan terjal, bukan tanah. Gak kebayang, lah, kalo ada yang ngajak ke sana lagi ogah, gue kapok.

Ada satu kejadian yang gak pernah gue lakuin sebelumnya; gue peluk mamang ojeknya erat-erat. 

Dalam keadaan terombang-ambing di atas motor, gue sempet kepikiran, Ya Allah ini orang bukan mahrom gue, kalo gue peluk udah pasti dosa, kan, ya? Tapi kalo gak dipeluk, demi apa bakalan jumpalit. Jumpalit tuh bahasa Indonesianya apa, ya? 
Itu, loh, kalo kendaraan melintasi gejlugan (halah gejlugan), akan terpental si penumpangnya. Ngerti, kan?  Wkwkwk

Akhirnya beneran gue peluk tuh si mamang ojek. Dalam keadaan mudarat mah gpp, kan, ya? Iya. 

Setelah drama perjalanan yang suram tersebut, sampailah kami di pantai yang dimaksud.
Segala rasa lelah dan ketakutan hilang seketika mendengar deburan ombak yang tak biasa. Ini beneran beda dari beberapa pantai yang pernah gue kunjungi (Pantai Anyer, Pantai Merak, Pantai Anyer, Pantai Merak).


Wow! Gokil! Suara ombaknya dari kejauhan kedengeran keren banget! Begitu meniti beberapa anak tangga, hamparan laut biru dengan batu karang yang ada di tengah mulai terlihat, indah banget. Serius gue menyesal pernah bilang "gue kurang terlalu suka pantai". Gue harus menarik kata-kata itu gara-gara Pantai Timang ini. Gokil! Gokil! Gokil! Terbayar sudah rasa lelahnya melihat bentangan garis horison yang mempertemukan birunya langit dan laut. 

Rasa kagum kami agak sedikit terganggu dengan suara rintihan dari dalam perut alias laper. Deretan warung yang terbuat dari bilik bambu dengan si Mbak pemilik warungnya yang ramah sepertinya mampu mengobati perih ini. 

Isi amunisi dengan semangkuk Indomie rebus pake telor dan cabe rawit, minumnya segelas kopi Good Day Mocachino, duduknya menghadap laut biru. Kaki sambil uncang-uncang mengikuti irama debur ombak. Gile, asik bener gak, tuh?

Mau foto-foto pun disediain spotnya. Mulai dari yang gratisan sampe yang berbayar. Spot yang di bawah ini, bertarif Rp 5.000 per orang sepuasnya.


Sedangkan spot yang ini bertarif (gue lupa, sih, tapi kalo gak salah) Rp 15.000 per orang tapi gue tawar jadi Rp 10.000 per orang.


Nah, kalo spot yang di bawah ini gratis! Tapi, bahaya mengintai. Dan gue kena getahnya. Handycam gue rusak terkena air laut. Gara-garanya waktu gue mau foto di tempat ini, seketika ombak datang tanpa permisi. Buuzzz!! Basah kuyup lah gue. Baju, sepatu, termasuk handycam tak ada yang luput dari hantamannya. Tak apalah, ini kenang-kenangan.

 Jadi, kalo mau foto di spot gratisan ini jangan terlalu mendekat ke bibir karang, ya! Kecuali kalo kalian pengen rasain sensasi foto sambil basa-basahan diguyur ombak.

Alhasil, daripada gue masuk angin pake sepatu basah, terpaksa beli sendal jepit. Kalo baju sih kering di badan :v


Sunday, November 12, 2017

Fitur Baru di Ms. Office 2016 yang Bikin Betah

Salah satu fitur yang paling gue seneng dari Microsoft Office 2016 adalah Screen Recording yang terdapat di Power Point. Ini kece banget sumpah. Jadi kalau mau rekam layar PC tinggal lari aja ke PPt - Insert - Screen Recording. Fitur ini ngebantu banget kalo mau bikin tutorial-tutorial di YouTube yang membutuhkan perekam layar. Simpel dan gak nyusahin. Fitur yang selama ini gue cari. Kemaren-kemaren kalo mau recording mesti download aplikasinya dulu. Ada dua aplikasi yang pernah gue pake, VLC Media Player sama apa, ya, satu lagi gue lupa. Menurut gue ribet harus setting ini-itu sebelum record.

Sejak pasang Ms. Office 2016 ini makin seneng bikin tutorial-tutorial "yang gak seberapa itu" di YouTube. Ditambah udah punya domain di blog, makin seneng juga bikin tulisan begini. Uhuk..

Friday, November 10, 2017

Dipaksa Pascabayar

Nomor gue keblokir lagi untuk ke sekian kalinya.
Kedua kalinya, sih.
Eh! Ketiga kalinya kalo dihitung sama yang waktu hp-nya ilang.
Kok bisa? Ketauan banget jomblonya sampe gak ada yang ngingetin buat isi pulsa.
Hih! Apa, sih? Wkwkwk

Intinya  nomor gue yang satu ini (yang diblokir) bisa dibilang gaconnya dari ketiga nomor yang gue pake. Nomor ini (sekarang) jarang dipake tapi tetap gue pertahankan karena satu alasan; punya nilai historis. Secara nomor itu sudah genap berusia satu dasawarsa. Ya! Gue pake nomor itu sejak tahun 2007. Tak kan terganti. Makanya sekali pun terblokir dan pernah sempat hilang, gue usahain untuk "menghidupkan" kembali nomornya dengan dateng ke XL Center.

Singkat kata, untuk kasus yang terakhir dan masih hangat ini, terblokir karena melewati masa tenggang sudah pasti. Penyebabnya nomor tersebut gue pasang di hp yang (akhir-akhir ini) fungsinya cuma buat bangunin gue tidur (alarm) sama nerima SMS Promo Paha Ayam CFC, jadi jarang gue bawa. Jadilah gue lupa ngisi pulsa untuk nyambung nyawa si nomor.

Di kasus sebelumnya, untuk mengaktifkan kembali nomor yang terblokir hanya diminta menunjukkan KTP dan surat nikah biaya untuk isi pulsa minimum Rp 25.000. Tapi untuk kasus kemaren, gue dateng ke XL Center seperti biasa ditanya alasan kenapa bisa keblokir dan diminta menunjukkan KTP, kemudian diproses oleh customer service-nya. CS-nya bilang kalo mau diaktifkan kembali harus deposit uang sebesar Rp 200.000 dan nomor gue beralih menjadi pascabayar. Wew?

Si Mbak customer service-nya yang tengah mengandung, aura kewanitaannya terpancar dan mulai menjelaskan panjang-lebar kenapa harus deposit dan kenapa harus beralih ke pascabayar. Adem aja sih gue denger penjelasan si Mbaknya itu. Pelayanan swasta better lah ya dibanding kalo kita dateng ke kantor-kantor instansi pemerintah ngurusin KTP, dkk. nya itu asal bae. No salam tempel, urusan dibikin ribet. Katanya pelayan masyarakat tapinya ...

Kembali.
Jadi uang deposit yang sebesar Rp 200.000 tersebut bisa diambil setelah satu tahun. Terhitung sejak tanggal aktivasinya. Dan, setelah setahun itu juga baru si nomor tersebut bisa kembali beralih ke prabayar jika berminat (opsional). Tapi kalau udah nyaman di pascabayar ya lanjut aja. Istilahnya nomor pascabayar kita terikat kontrak selama setahun dengan jaminan uang deposit. Seperti itu.

Terpaksalah akhirnya gue menerima kenyataan nomor gue beralih ke pascabayar. Sempet timbul banyak pertanyaan sih di awal-awal pemakaian. Maksudnya kan gue belum pernah, jadi menerka-nerka ntarnya gimana-ntarnya gimana. Tapi, pas ke sini-sini, not bad lah, ya. Dan barusan keluar tagihan bulan pertama, malah lebih bisa kontrol pemakaian daripada biasanya. Gitu aja, sih. Selebihnya... sama. Termasuk sinyal yang sering banget ngilang :v

Cerita Gue Punya Domain

Gue bukan orang IT, udah lama banget kepengen alamat blog gue itu kerenan dikit, langsung pake .com tanpa ada embel-embel blogspot.com-nya gitu deh. Tapi gue gak ngerti harus diapain biar jadi www.widakiwid.com bukan www.widakiwid.blogspot.com. Hasil dari bertanya ke kakak dan temen dunia maya gue yang blogger sejati -ceile- didapati hasil yang bikin gue gak mudeng. Denger istilah-istilahnya aja asing banget di kuping gue. Beli domain-lah, hosting-lah, SSL-lah, apalah-apalah. Makin dijelasin makin ribet banget dengernya. Lama-kelamaan keinginin punya si www.widakiwid.com terkikis sudah. Udah males duluan nyari taunya. Kalah sebelum berperang. Mulai pasrah dengan keadaan, menerima kenyataan tetep pake www.widakiwid.blogspot.com. Tak apalah.

Dua tahun kemudian ....

Pas lagi ngoprek draft, nyari-nyari tulisan yang terkatung-katung belum sempat di-publish, muncullah seonggok pemberitahuan dari Google menawarkan pembelian domain, dkk. Ya Allah, mendengar kata itu gue seperti diingatkan kembali sama keinginan gue yang dulu. Mungkin ini saatnya. Jreengg... Jreenngg...!!!

Bermodal rasa penasaran, akhirnya gue klik sana-sini si penawaran tadi. Ternyata gampang juga. Mulai sedikit melek apa itu domain, dkk. Gue sempet mikir mau dilanjutin beli apa nggak, nih domain dari Si Mbah Google? Takutnya gue udah beli tapi gak ngerti caranya. Wkwkwk

But the show must go on -halah gak nyambung- gue nekat aja beli karena harganya menurut gue murah, Rp 165.000/ tahun. Sekali pun ntar gue gak ngerti caranya, ya, gak rugi-rugi banget lah duit segitu -elah songong-

Udah semanget banget tuh gue isi form pembeliannya. Udah ngebayangin gue bakal punya www.widakiwid.com -padahal mah biasa aja sih-

Udah beres proses demi proses. Selangkah lagi ... PROSES PEMBAYARAN .. KLIK!
Cuma bisa via Kartu Kredit!
Oke! Bye!

Mimpi yang tadi, hilang sebelum terwujud.
Nelongso tenan gak punya kartu kredit. Mau pinjem punya si kawan tapi tebengan nyicil handphone kemaren aja belom kelar. Masa mau minjem lagi? Cekikikikk
Ya udahlah dikubur lagi aja keinginannya.

Eits... Percuma dong gue minum kopi sehari duakali kalo cepet patah semangat begitu? Usaha, ah! Cari yang jual domain tapi pembayaran transfer via ATM! Apa sih yang gak dipermudah zaman sekarang? Situs penjualan sekelas AirAsia aja yang dulu cuma bisa via kartu kredit, sekarang dipermudah, lebih fleksibel pembayarannya bisa ke Indomaret. Ckckckck

Benar saja! Gak pake lama gue langsung nemu si mamang yang jual. Dan harganya jauh lebih murah, anjay. Cuma Rp 105.000 per tahun. Belinya gak ribet. Sistem pembayaran bisa lewat mana aja. Lewat pintu depan, pintu belakang, atau lewat atap -gak lucu-
Setelah dilakukan pembayaran, proses verifikasi dan aktivasinya secepat kilat. Udah gitu Customer Service-nya always on 24/7. Ramah pula ngasih infonya kalo kita punya kesulitan ekonomi dalam prosesnya. Makanya recommended lah beli di Niaga Hoster 

Jadi, sekarang keinginan gue udah terwujud lah, ya, punya www.widakiwid.com







Friday, July 14, 2017

Ciee Gue Naik Kereta


Pengalaman pertama nge-trip naik kereta. Oke! Cukup menakjubkan! Gue pikir perjalanan jauh menggunakan moda transportasi ini tuh bakal membosankan, bakal bete sepanjang jalan. Ngebayangin bakal ngabisin waktu delapan jam di kereta kayaknya udah males banget. Soalnya gue paling jauh naik kereta itu ke Jatinegara. Sepele.

Gue yang toilet addict begini udah parno duluan, gimana ntar kalo pengen pipis, gimana kalo toiletnya jorok, gimana kalo gak ada air, gimana caranya berekspresi di ruang yang maha sempit tersebut, dan sebagainya. Untungnya si kawan berhasil meyakinkan gue kalo apa yang gue pikirkan itu semuanya salah.

Dan, ya! Semuanya berjalan lancar. Jangankan air buat buang air kecil, buat wudhu atau buat mandi sekeluarga juga mencukupi, kok. Kalau buat kebersihanya sih relatif lah, ya. Namanya juga fasilitas umum yekan. Tapi gak jorok-jorok banget lah.
Keparnoan gue selanjutnya adalah masalah bete. Jauh hari sebelumnya gue mikirin gimana caranya menghabiskan waktu yang delapan jam itu agar cepat usai. Gue mesti ngapain di kereta selama itu? Apakah gue perlu bawa papan catur, kartu uno, mainan monopoli, ular tangga, atau bawa papan karambol sekalian? Atau malah gue akan mati perlahan gara-gara duduk melongo dalam perjalanan dari Serang ke Jogja?
Ternyata tidak. Ahelah, men. Delapan jam kedengerannya aja lama. Tapi dibawa mainin hp, dibawa merem sebentar atau sekedar minum kopi juga tau-tau udah sampe aja. Jadi gak ada tuh yang namanya bosen atau bete. Ada sih rasa bete, tapi dikit.

Oh, iya. Ngomongin minum kopi, gue baru tau lah ternyata di dalem kereta ada kantinnya juga. Norak, ya gue. Gue pikir macam pesawat, cuma si pramugarinya aja yang bolak-balik nawarin jajanan. Ternyata kereta macam kapal laut, ya. Disedian kantinnya gitu buat sekedar beli cemilan bahkan makanan berat. Pokoknya asik deh. Seru! Nagih!